HIGHLIGHT

Kekejaman Suami Menuntunku ke Arah yang Sempurrna

01 Juni 2012 00:53:11 Dibaca :

Seorang wanita pastilah mendambakan seorang pria yang bisa memberikan cinta dan kebahagiaan di sepanjang perjalanan hidupnya. Adakah yang ingin memiliki seorang suami yang tampan tapi suka menyiksa perasaannya?!. Pasti jawabannya  "tidak", termasuk saya.


Sejak awal perkawinan saya sudah tahu bahwa suami kadang menampakkan sifatnya yang kasar, tapi saya selalu yakin semua akan berubah dengan kesabaran dan ketulusan hati saya untuk menerima apa adanya. Saya selalu berusaha untuk memahami dan menyatukan latar belakang kami yang sangat berbeda baik dalam pendidikan, status keluarga maupun posisi kami masing - masing di tempat kerja. Ternyata memadukan dua pribadi yang berbeda itu sangatlah sulit, apalagi dia mempunyai dua kepribadian yang sangat membingungkan. Kadang kasar dan kejam sekali tanpa ada alasan yang jelas tetapi kadang lembut dan sangat mesra melebihi siapapun, sehingga banyak teman wanita yang iri melihat kelembutan dan sikap mesranya.


Sebelum berumahtangga saya bekerja pada sebuah kantor swasta dengan posisi yang bagus, sore mengajar di SMA swasta dan saya juga masih sempat melatih tari dan teater, tetapi sesudah berumahtangga saya hanya mengajar. Yang saya tidak mengerti pada saat itu adalah sikap suami yang selalu menganggap salah apapun yang saya lakukan. Mengajar salah, melakukan pekerjaan rumah juga selalu salah. Untuk memotong sayuranpun tidak pernah benar menurutnya, apalagi rasa masakannya, jangan harap tanpa ada cela. Menyetrika baju bisa dilempar ke muka kalau ada sedikit yang tidak halus, karena bajunya harus saya sendiri yang mencuci dan menyetrika bukan pembantu.  Perfeck yang bikin gila.


Setelah kami memiliki seorang anak bahkan anak kadang seperti dijadikan sandera supaya saya tidak keluar rumah, dan memang saya kemudian memutuskan tidak bekerja lagi. Tetapi keadaan rumahtangga kami memang tidak menentu karena sikapnya yang aneh. Setiap dia marah dan berlaku kasar saya selalu bertanya halus apa salah saya dan tolong tunjukkan bagaimana seharusnya saya, tapi jawabnya selalu "pikir sendiri". Pernah saya bersikap tegas dan agak keras dan dia terdiam bahkan berhari - hari seperti orang ketakutan, dan saya kasihan melihatnya. Sejak itu saya lebih baik diam dan mengalah saja.


Seluruh aktivitas saya berhenti bahkan berkomunikasi dengan temanpun tidak bisa. Sia-sia semua yang pernah saya perjuangkan sejak kuliah, bahkan dengan saudara dan orangtuapun jadi terputus. Saya benar-benar merasa sudah MATI, mati dalam segala hal, hanya melakukan apa yang menjadi tugas dan kuwajiban saya sebagai ibu dan isteri di rumah. Kemanapun harus diantar, tidak boleh pergi sendiri. Apakah ini karena cintanya yang begitu besar?!  Entahlah, bahkan untuk tersenyumpun saya sudah lupa tapi untuk menangis sayapun tidak bisa. Dan akupun pasrah total pada kehendak Tuhan, kujalani hari-hariku seperti menunggu giliran dipanggil saja.


Meski begitu bukan berarti tidak ada waktu yang indah dalam keluargaku. Kami juga sering pergi keluar kota bersama ketiga anak kami saat liburan, tentu dengan perasaanku yang hambar dan selalu ketakutan sewaktu-waktu kena makian atau tamparan ditengah pelukannya. Tuhan, apa sebenarnya yang akan terjadi pada keluarga kami ini. Anak-anak juga sudah bisa merasakan bagaimana sikap ayahnya yang sulit dimengerti itu, bahkan kedua anak saya yang sudah di SMP diam-diam mulai memberontak dengan sikap yang kadang melawan kemauan ayahnya. Sebagai seorang ibu tentu harus bisa berada di tengah walau kadang sulit sekali mengambil sikap karena yang benar adalah anaknya. Betapa ketakutanku semakin bertambah karena anak-anak memasuki masa remaja dan ayahnya tidak bisa memahami. Aku benar- benar tidak bisa mengadu pada siapapun karena akibatnya akan fatal bagi anak-anakku. Hanya Tuhan yang bisa mengatasi semua ini, itulah keyakinanku.


Dan ternyata semua itu benar telah terlewati. Tetapi sungguh tidak menyangka bila jalannya juga harus menggoreskan kisah yang begitu menyayat hati dan bahkan meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab sampai hari ini. Mobil suamiku terserempet kereta api saat pulang dari kantor dan jasadnya tidak diketemukan sampai hari ini walaupun sudah dibantu polisi, masyarakat bahkan paranormal dalam pencariannya sampai berbulan-bulan. Tuhan punya kehendak sendiri. Bahkan aku juga tidak bisa menangis pada saat itu kecuali terus berdoa dan melakukan usaha pencarian.


Kejadian ini membuat aku tersadar dari "koma" kehidupanku. Aku harus bangkit dan berani menghadapi kehidupan selanjutnya. Ternyata sikap kejam suami membentuk pribadiku yang tak mudah emosi menghadapi canda orang-orang yang mengatakan seperti sinetron, dll. Aku juga memanfaatkan ketrampilanku memasak dan membikin kue yang hasilnya lumayan bagus dan enak karena sering dikritik oleh suami dan banyak di sukai teman-teman. Aku juga tidak canggung mengurus rumah dan segala macam masalah anak-anakku karena sudah dibiasakan suamiku.  Bahkan aku menjadi tempat curhat bila pasutri ( pasangan suami isteri ) sedang menghadapi masalah. Seolah aku tinggal memutar kembali rekaman sikapku pada suami bila memberi saran pada mereka.


Aku merasa sangat kehilangan. Kehilangan orang yang memiliki cinta tanpa basa-basi. Kehilangan orang yang bisa menilai dan memberi saran bahkan kritik yang tajam untuk sebuah perbaikan dan tanpa sadar membangun kepercayaan diri yang tinggi saat ini. Ternyata Tuhan memang memberiku yang terbaik dan mengambilnya dengan membangun kenangan yang baik dan manis. Tak ada dendam dan sakit hati tetapi semua manis dan indah karena Tuhan menaburkan kerinduan dan rasa mencari yang tak ada akhirnya.


Dan hari ini aku mengirimkan salam cinta ke surga untuk suamiku, walau di sana telah berlimpah cinta Tuhan yang sempurna. Duabelas tahun telah lewat dan aku telah mengantarkan sampai ke anak bungsu kita mengenakan toga.



Jeveronica Yhuni Melati

/jeveronicamelati

TERVERIFIKASI (HIJAU)

pekerja sosial mandiri, penulis masalah keluarga & wanita.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?