HIGHLIGHT

Mengenal Stress dan Gangguan Jiwa

26 Mei 2012 04:34:29 Dibaca :

Oleh masyarakat awam stres seringkali diartikan sama dengan gangguan jiwa, padahal stres bukanlah gangguan jiwa. Faktanya stres dapat dialami oleh siapa saja dan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Mengapa kita perlu mengenal stres? Karena stres dapat berkembang menjadi gangguan jiwa bila tidak ditangani dengan baik.


Yang dimaksud dengan stres secara definisi adalah kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis. Ada 2 (dua) jenis stres. Pertama adalah Eustress atau stres yang positif. Disebut positif karena dapat memotivasi individu untuk melakukan suatu tindakan. Kedua adalah Distress atau stres yang negatif. Distress terjadi jika tingkat stres cukup tinggi atau cukup rendah dan tubuh bereaksi secara negatif terhadap penyebab stres tersebut.


Ada macam-macam penyebab atau sumber stres, antara lain lingkungan, pekerjaan, sekolah, keluarga, diri pribadi, ekonomi, dan masih banyak lagi. Semua sumber stres disebut dengan istilah stressor. Stres dapat mengakibatkan timbulnya gejala fisik, gejala psikis, dan gejala perilaku. Gejala fisik seringkali timbul di awal stres. Contohnya saat cemas menunggu ujian maka tangan dan kaki terasa dingin, atau ingin buang air kecil. Hal ini berarti saat timbul stres tubuh segera bereaksi sebagai respon terhadap stressor. Apabila stres dibiarkan tanpa ditangani dengan baik maka dapat timbul perubahan pada perasaan, pikiran, dan perilaku. Contohnya pada keadaan cemas berkepanjangan, atau pikiran yang menjadi terkondisi selalu berpikir negatif, atau menarik diri dari lingkungan sekitar. Apabila perubahan tersebut bertambah berat sehingga menimbulkan penderitaan dan mengganggu rutinitas harian maka bisa jadi telah timbul suatu gangguan jiwa.


Apabila sudah terjadi gangguan jiwa sebaiknya kita mencari pengobatan sebelum gangguan bertambah berat atau kronis. Pengobatan gangguan jiwa bisa didapatkan di Rumah Sakit Jiwa atau di rumah sakit yg membuka klinik kesehatan jiwa atau di praktek pribadi psikiater (dokter jiwa) atau psikolog.


Sedangkan cara untuk mengatasi stres yang paling utama adalah mengatasi penyebabnya atau sumbernya. Tetapi sering kali diperlukan waktu atau proses panjang untuk mengatasi stres. Dalam menjalani proses itu biasanya timbul keluhan seperti perasaan tertekan atau keluhan fisik misalnya otot kaku tegang dan pegel-pegel. Untuk mengatasi keluhan-keluhan tersebut bisa dilakukan olahraga ringan, yoga, atau massage (pijat) yang bertujuan merilekskan tubuh. Keluhan fisik lain yang sering timbul saat stres adalah nyeri kepala dan maag. Untuk mengatasi gejala tersebut boleh saja minum obat nyeri kepala atau maag yang banyak dijual di pasaran. Tetapi bila gejala sering kambuh kembali maka kemungkinan stres psikologis belum teratasi.


Bila keluhannya tekanan perasaan bisa dilakukan cara-cara spiritual untuk meringankan keluhan seperti meditasi atau lebih bertekun dalam doa, atau bersosialisasi dengan teman dekat, kerabat, atau keluarga. Bisa juga dengan mencari suasana baru, hobi baru, dan rutinitas baru. Pada intinya dalam proses mengatasi stres kita bertujuan untuk merasa lebih rileks, tenang, senang, dan nyaman. Apabila usaha-usaha yang kita lakukan belum berhasil mengusir stress secara tuntas maka tidak ada salahnya untuk mencari pembimbing yang lebih berpengalaman atau segera berkonsultasi dengan petugas medis.



jenny siagian

/jennypsikiater

Saya seorang psikiater lulusan UGM, saat ini berdomisili dan bekerja di Bandar Lampung, di RS Imanuel Way Halim. Saya pemerhati masalah kesehatan jiwa, terutama masalah urban lifestyles dan couple problems. saya sangat ingin ikut menyebarkan informasi tentang kesehatan jiwa dalam rangka promosi kesehatan jiwa dan mengurangi stigma masalah kejiwaan di Indonesia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?