Jackson Kumaat
Jackson Kumaat

"Politisi muda yang selalu berharap adanya perbaikan hidup bangsa dan negara yang lebih baik dan benar melalui tulisan-tulisan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang disegani dan negara yang dihormati"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Seandainya Dahlan Iskan Presiden RI 2014-2019

4 November 2011   14:06 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:03 1816 0 3


DUNIA maya khususnya milis, sepekan lalu diramaikan oleh diskusi pro-kontra Dahlan Iskan sebagai calon presiden (Capres) mendatang. Pemilu 2014 memang masih lama, tapi pemanasan menjelang Pemilu tampaknya sudah dilakukan oleh sejumlah partai politik (parpol).



Diskusi itu berawal dari tulisan media online www.lensaindonesia.com berjudul Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014 dan Jacob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan. Saya coba telusuri, media tersebut berkantor di Graha Pena, yang menjadi markas Jawa Pos, tempat Dahlan Iskan memulai karir yang meroket.



Sebenarnya, tulisan-tulisan opini mengenai Dahlan Iskan sebelum ulasan Lensa Indonesia, sudah banyak diposting di media sosial www.kompasiana.com. Malah, jumlahnya mencapai ribuan judul. Jika kita menulis kata kunci ‘Dahlan Iskan’ di mesin pencari Kompasiana, maka akan muncul 100 halaman, sehingga total mencapai 1.000 judul atau ulasan tentang Dahlan Iskan. Tapi sepertinya, server Kompasiana tak mampu menampung tulisan tentang Dahlan Iskan, karena daya tampungnya hanya 100 halaman setiap kata kunci.



Ada beberapa tulisan yang menarik perhatian saya tentang sepak terjang Dahlan Iskan di Kompasiana, yakni:


1. Dahlan Iskan for President


2. Faisal Basri-Dahlan Iskan for 2014


3. Obrolan Warteg: Sri Mulyani, Fadel Muhammad, dan Dahlan Iskan


4. Kelas Dahlan Iskan Mestinya ‘Perdana Menteri’


5. Mungkinkah Dahlan Iskan Jadi Presiden RI?



Dari tulisan-tulisan tersebut, saya bisa mengambil asumsi, bahwa figure Dahlan Iskan layak diperhitungkan untuk Capres 2014. Dahlan Iskan bukan anggota Kompasianer, berbeda dengan Jusuf Kalla yang mati-matian menjalankan pencitraan di Kompasiana menjelang Pemilu 2009. Meski tak menulis di dunia maya, khususnya sosial media, Dahlan Iskan menjadi sorotan publik sebagai ulasan yang cukup menarik.



Tulisan berjudul Jacob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan misalnya, sempat menjadi debat kusir diskusi, karena sebenarnya tak ada pernyataan dukungan Jacob Oetama ke Dahlan Iskan sebagai Capres 2014. Persoalannya, tulisan itu dikaitkan dengan judul Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014, sehingga terkesan bahwa Jacob Oetama turut serta dalam kampanye 2014. Padahal, kedua tulisan ini lebih banyak bumbu opini daripada fakta dan data.



Di tulisan ini, saya tak membahas pro-kontra masyarakat penikmat dunia maya, tentang figur Dahlan Iskan. Di sini, saya mencoba membedah peluang Dahlan Iskan sebagai Capres 2014 mendatang.



Pertama, seorang Dahlan Iskan berasal dari suku Jawa. Pemimpin negeri ini, biasanya tak lepas dari suku Jawa. Apalagi, faktor masyarakat suku Jawa sudah lama menetap di berbagai daerah luar Jawa, telah berhasil menciptakan image, bahwa gaya pemimpin yang terbaik adalah orang Jawa. Kualitas pemimpin yang berasal dari suku Jawa, lebih diterima daripada pemimpin yang berasal dari suku Jawa.



Kedua, Dahlan Iskan memiliki modal yang cukup jika benar-benar memproklamasikan diri sebagai Capres 2014. Sebagai pengusaha media di grup Jawa Pos yang menggurita di seantero negeri, Dahlan memiliki kekayaan yang tak sedikit. Apalagi, ia berani mendirikan tivi lokal di Surabaya dan Batam. Sumber kekayaan terbesar Dahlan adalah di bidang tambang dan energi, khususnya menjelang ia menjabat sebagai Direktur Utama PT PLN. Maaf, saya tidak bersedia menduga-duga jumlah kekayaan Dahlan, karena kurang etis. Secara awam, jumlah kekayaan pejabat dapat terlihat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Nilai yang dilaporkan itu adalah puncak gunung es.



Ketiga, Dahlan pernah jadi wartawan. Menurut saya, inilah faktor yang sangat menentukan pencitraan menjelang arena pertandingan Pemilu 2014. Ketika Capres lain harus rela mengeluarkan dana untuk iklan kampanye, bisa jadi seorang Dahlan cukup mengirimkan kalimat pesan singkat SMS dan langsung menjadi berita headline surat kabar atau running text berita di televisi. Seorang wartawan tentulah cerdas membuat judul-judul bombastis, apalagi dengan dukungan ratusan wartawan se-Tanah Air.



Keempat, wartawan bangga memiliki teman seprofesi menjadi presiden. Mungkin sama seperti nomor tiga di atas, tapi sebagai wartawan tentunya terpengaruh oleh faktor psikologis ini. Satu catatan kecil tentang ikatan psikologis ini, saya jadi teringat alm Eric Samola, sang Pendiri Jawa Pos. Dahlan merupakan wartawan Tempo yang dipilih Eric Samola sebagai komandan Jawa Pos. Dalam prosesnya, Dahlan memimpin jaringan JPNN di 200 kota Indonesia dan menguasai 60 persen pangsa pasar pembaca surat kabar.



Kelima, Dahlan masih memiliki ikatan dengan Jawa Pos atau JPNN. Pasti, setiap kegiatannya diliput dan dipublikasi oleh seluruh media grup Jawa Pos. (Mohon dikoreksi, jika asumsi saya ini keliru). Buktinya, gebrakan-gebrakannya di PT PLN selalu menjadi buah bibir di masyarakat karena pemberitaan di media. ”Kerja.. Kerja.. Kerja!!!” begitu kata Dahlan.



Keenam, Dahlan tak memiliki cacat hukum yang bisa menjadi black campaign dalam kampanye 2014. Berbeda dengan Capres lainnya yang sudah ‘bernyanyi’ selama ini, seperti Sri Mulyani, Boediono dan Prabowo Subianto. Setidaknya, Dahlan adalah seorang pengusaha dan bukan dari parpol. Konon, dulu pernah ada ‘persoalan’ di internal redaksi Jawa Pos, tapi sepertinya tak berpengaruh signifikan.



Ketujuh, Dahlan menyukai gaya hidup (life style), seperti sepatu, batik, berkendara tanpa sopir serta berolah raga. Ini bisa berpengaruh pada penguatan pemilih di Pemilu 2014 mendatang, khususnya di kelompok masyarakat menengah ke atas.



Ketujuh peluang di atas, bisa menjadikan Dahlan sebagai Capres 2014. Itu jika yang bersangkutan berminat. Minimal, sangat layak sebagai calon wakil presiden. Jika tidak, mungkin akan dilakukannya sebagai Capres 2019. Dalam sejarah negeri ini, tak ada orang yang menolak menjadi capres atau cawapres jika peluang itu ada.


Salam Kompasiana!



Note: saya menulis ulasan ini berdasarkan pandangan objektif, dan bukan oleh kegiatan politik dan bisnis yang saya jalankan.




Jackson Kumaat on :


Kompasiana | Facebook | Twitter | Blog | Posterous | Company | Politics