Relevansi Zuhud Terhadap Hidup Umat Modern

22 Juni 2012 04:00:26 Dibaca :

Era reformasi diharapkan oleh masyarakat Indonesia terjadi banyak perubahan disegala lini. Mulai dari ekonomi, hukum, pendidikan, birokrasi, politik dan lain sebagainya. Tapi, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik ternyata malah sebaliknya. Kasus korupsi menjadi sorotan utama dalam era reformasi. Walau orang-orang hasil reformasi dulunya berteriak bahwa Soeharto dan antek-anteknya koruptor. Kenyataannya manusia produk reformasi justru korupsinya menggila. Bahkan dalam iklan kampanye menggembor-gemborkan pemberantas korupsi kenyataannya malah tertangkap kasus korupsi. Di berbagai daerah pun kasus-kasus korupsi seakan tak ada habisnya. Dalam kehidupan masyarakat pun kesenjangan sosial terjadi. Rasa peka terhadap kondisi sosial seakan sudah luntur. Yang kaya memamerkan kekayaannya disekitar masyarakat yang hidup ‘sambat’ kekurangan.  Begitu juga fenomena yang terjadi di kalangan remaja, gaya hidup hedonis dan glamour sudah melekat kuat dalam diri mereka. Walupun harta kekayaan yang mereka gunakan bukan dari hasil jerih payah sendiri, mereka berbangga dan sombong. Kuliah rasanya tidak keren kalau tidak menggunakan mobil mewah, pakaian dan aksesoris lain yang dikenakan pun tidak mau atau malu jika harganya murah. Kebanyakan dari remaja sekarang lebih bangga hidup dengan gaya kebarat-baratan dimana batasan halal dan haram tidak jadi acuan.Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan. Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral. Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas budaya materialisme itu. Maka tidak heran jika masyarakat kita berlomba-lomba menjadi selebriti, menjual diri dan harga diri demi keuntungan materi semata. Ada apa ini?

Faktor utama terjadinya hal tersebut adalah sifat tamak, serakah yang terdapat dalam diri manusia. Dan yang bisa melawan sikap tamak dan serakah adalah sikap zuhud.

Ketika kita mendengar kata zuhud, mungkin yang terlintas dalam pikiran kita adalah kehidupan yang jauh dari gemerlapan dunia. Atau kehidupan yang menyepi dari keramaian dan hiruk pikuk kesibukan dunia, kehidupan yang sederhana. Padahal sebenarnya belum tentu kehidupan yang demikian dinamakan zuhud. Dan belum tentu juga kehidupan yang akrab dengan kemewahan dan gemerlapan dunia bisa dikatan tidak zuhud.

Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud. Banyak yang mengira kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. Zuhud bukanlah meninggalkan kenikmatan dunia, bukan berarti mengenakan pakaian yang lusuh, dan bukan berarti miskin. Zuhud juga bukan berarti hanya duduk di masjid, beribadah dan beribadah saja tanpa melakukan kegiatan-kegaitan lainnya. Tidak demikian, karena meninggalkan harta adalah sangat mudah, apalagi jika mengharapkan pujian dan popularitas dari orang lain. Zuhud yang demikian sangat dipengaruhi oleh pikiran sufi yang berkembang di dunia Islam. Kerja mereka cuma minta-minta mengharap sedekah dari orang lain, dengan mengatakan bahwa dirinya ahli ibadah atau keturunan Rasulullah saw. Padahal Islam mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia.

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘an syaiin wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Orang-orang yang melakukan zuhud disebut zahid, zuhhad atau zahidun. Zahidah jamaknya zuhdan, artinya kecil atau sedikit.

Sedang secara terminologi banyak sekali definisi yang diungkapkan oleh para pakar (ulama’) diantaranya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Dzar:

الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ

Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Zuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Kadang kita tertipu dari penampilan. Banyak yang mengira dengan pakaian sederhana, pakaian islami dia seorang zuhud. Sedang orang yang berpakaian necis, berdasi tidak zuhud. Bisa saja sebaliknya. Karena hakekat zuhud adalah di hati orang tersebut.

Zuhud bukan berarti juga meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat Nabi yang dijanjikan masuk syurga, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok:

أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟

“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarok mengatakan:

يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.

“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”.

Jadi, zuhud tidak berarti tidak memiliki apa-apa. Bahkan, jika tidak memiliki apa-apa orang bisa menjadi peminta-minta. Dan ini berarti mengharap dunia.

Sikap zuhud ini bisa dimiliki siapa saja yang menginginkannya. Mulai dari orang miskin sampai orang kaya bisa memiliki sifat ini. Tapi, jangan menjadikan sifat zuhud hanya ketika tertimpa kemiskinan. Artinya, karena miskin ‘terpaksa’ zuhud. Seperti istilah zuhud yang dikemukakan oleh Ibnu Khafif,Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.Zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” . Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari”

Yang jelas zuhud merupakan salah satu sikap untuk menjaga jarak dari dunia, artinya kita menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah, menggapai kebahagiaan di akhirat, dan bukan menjadikannya sebagai  tujuan hidup. Karena kehidupan dunia hanyalah sementara, sesuai dengan firman Allah SWT  “Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan teraniaya sedikitpun.” (QS. 4:77).

Sedang tanda-tanda orang zuhud menurut Imam Al-Ghazali, yaitu: pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Kedua, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. Ketiga, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan.

Zuhud berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya.

Lantas, apakah zuhud itu murni muncul dari ajaran Islam? Harun Nasution mencatat ada lima pendapat tentang asal – usul zuhud. Pertama, dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh Phytagoras yang megharuskan meninggalkan kehidupan materi dalam rangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwa dalam rangka penyucian roh yang telah kotor,sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan faham nirwananya bahwa untukmencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusia meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu pemimpin yang paling zuhud. Masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi. Hal ini berarti, walau khalifah seorang zahid, Beliau tetap mendorong rakyatnya untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga pada masa kepemimpinannya tidak dapat dijumpai orang yang berhak menerima zakat. Saking, makmurnya rakyat Khalifah Umar.

Memang, banyak dijumpai ayat al-Qur’an maupun hadits yang bernada merendahkan nilai dunia, tapi sebaliknya banyak dijumpai nash agama yangmemberi motivasi beramal demi memperoleh pahala akhirat dan terselamatkan dari siksa api neraka (QS.Al-hadid :19),(QS.Adl-Dhuha : 4),(QS. Al-Nazi’aat : 37 – 40).

Jika kita melihat kehidupan sekarang ini. Kebanyakan masyarakat dan pemimpin hidup dengan gaya hedonisme. Sehingga moral dan agama yang ada  dalam diri mereka tidak diperhatikan. Maka sifat zuhud ini sangat perlu ada dalam setiap diri manusia. Untuk mencapai kemakmuran bersama. Karena pemimpin yang kaya atau masyarakat yang kaya akan membantu rakyat yang hidupnya serba kekurangan. Tidak hanya pamer kekayaan mereka.

Jadi, zuhud sangat relevan ada dalam diri setiap manusia sepanjang zaman. Untuk membentengi diri dari sifat rakus terhadap dunia yang mengakibatkan mereka lalai terhadap kehidupan akheratnya. Zuhud adalah sifat hati, bukan menampakkan kelusuhannya atau kemewahannya dan seutama-utama zuhud adalah menyembunyikan kehidupan zuhudnya itu.

Iwan Hafidz Zaini

/iwanhafidz

Saat ini sedang menjadi abdi negara di kementerian Agama Kab. Boyolali sebagai seorang Penyuluh Agama Islam. Selain itu menjadi pengajar di Pondok Pesantren Zumrotuttholibien Kacangan Andong Boyolali. Juga asyik jualan pulsa dan hp juga hoby jeprat-jepret alias photography. Mengkhayal adalah gerbang menuju perenungan yang membuahkan sebuah tulisan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?