Isson Khairul
Isson Khairul research l media monitoring l content writing l public relation

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://plus.google.com/+issonkhairul/posts dan https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi headline

Berani Hadapi Sektor Industri Besi Baja China?

4 Agustus 2017   13:24 Diperbarui: 8 Agustus 2017   23:00 948 2 2
Berani Hadapi Sektor Industri Besi Baja China?
Tahun 2016, dua perusahaan baja terbesar di China melakukan merger: Baosteel mengakuisisi kompetitornya, Wuhan Iron and Steel. Pemilik mayoritas saham kedua perusahaan tersebut adalah negara China. Merger ini menciptakan perusahaan baru bernama China Baowu Iron and Steel Group. Dengan menjadi raksasa produsen baja di dunia, tidak heran produk baja China membanjiri dunia. Foto: shutterstock.com dari kompas.com

Industri baja dari China saat ini menguasai 50 persen pasar dunia. Semua perusahaan baja dunia menyurati China. Kita marah semua. China sulit sekali dihadapi. Itulah keluhan Purwono Widodo, Direktur Pemasaran Krakatau Steel.

Rentetan keluhan Purwono Widodo itu, saya baca kemarin, Kamis (03/08/2017), di Kompas.com. Ini tentu saja tidak mengagetkan. Kenapa? Karena, kategori industri yang lain sudah mengalami tekanan dari produk China, jauh sebelumnya. Industri mainan anak-anak, misalnya, sudah babak-belur oleh mainan anak-anak buatan China, sejak awal tahun 2010. Terus, sejak akhir tahun 2011, batik buatan China sudah membanjiri pasar Tanah Abang dan pasar lain di tanah air. Industri tekstil dan garmen kita, terdesak. Terus, apa strategi Krakatau Steel?

China Selalu Banjiri Produk

Kita tahu, strategi China tetap konsisten dari tahun ke tahun: membanjiri negara tujuan dengan produknya. Misalnya, pada tahun 2013. Indonesia butuh produk besi dan baja impor, hanya lima juta ton. Apa yang terjadi? China membanjiri pasar Indonesia dengan produk besi dan baja mencapai 10 juta ton. Akibatnya, pasar besi dan baja dalam negeri terdistorsi. Sebagai produsen baja, Krakatau Steel tentu memiliki catatan khusus tentang hal tersebut.

Jadi, meski semua perusahaan baja dunia menyurati China agar mengurangi produksi bajanya, besar kemungkinan China tidak akan mau didikte. Mari kita belajar dari situasi tahun 2013 tersebut. Pada tahun itu, pasar Eropa sedang menciut, hanya mampu menyerap 10 juta ton besi dan baja. Dalam kondisi normal, China memasok pasar Eropa 23 juta ton. Apakah China mengurangi produksinya? Tidak. China justru membanjiri pasar di negara-negara di luar pasar Eropa, agar negara-negara tersebut menyerap 13 juta ton produk, yang tidak terserap oleh pasar Eropa.

Untuk menjadi produsen baja dunia, China menyiapkan 25 pelabuhan sebagai pintu masuk impor bijih besi dari berbagai negara pengekspor, termasuk dari Indonesia. Ada suatu masa, pada periode 31 Desember 2013 sampai dengan 6 Januari 2014, cadangan bijih besi impor di China, berlebih. Ini sebagai penanda, betapa agresifnya China untuk menguasai baja dunia. Foto: m latief-kompas.com
Untuk menjadi produsen baja dunia, China menyiapkan 25 pelabuhan sebagai pintu masuk impor bijih besi dari berbagai negara pengekspor, termasuk dari Indonesia. Ada suatu masa, pada periode 31 Desember 2013 sampai dengan 6 Januari 2014, cadangan bijih besi impor di China, berlebih. Ini sebagai penanda, betapa agresifnya China untuk menguasai baja dunia. Foto: m latief-kompas.com
Di era perdagangan bebas kini, sulit bagi negara-negara di dunia untuk mencegah masuknya produk China. Apalagi jika di negara tujuan tersebut, investasi China terbilang dominan. Dalam konteks investasi, lihatlah investasi China di Indonesia. Tahun 2016, posisi China ada di urutan ke-10 di antara negara-negara investor. Hanya dalam setahun, tahun 2017 ini, China melompat menjadi negara investor nomor 3. Di awal tahun 2017, total perusahaan China yang terdaftar di Indonesia, sebanyak 201 perusahaan.

Itu baru perusahaan yang direct berinvestasi dari China. Ada sejumlah perusahaan China lainnya, yang berbasis di Singapura, kemudian berinvestasi di negeri kita. Kalau yang masuk via Singapura itu dicatat sebagai investor China, barangkali posisi China sudah menjadi negara investor nomor 1 di Indonesia. Posisi nomor 1 itu memang diinginkan oleh China. Lihatlah, volume investasi direct China ke Indonesia, dari tahun 2015 hingga pertengahan tahun 2016, melonjak hingga 532 persen. Sekretaris Jenderal Kamar Dagang China di Indonesia, Liu Cheng, pada Rabu (18/01/2017),  mengatakan, China terus berkomitmen untuk menjadi investor nomor satu di Indonesia.

China Tujuan Ekspor Utama

Melihat agresivitas China dalam berinvestasi, mencermati investasi China di Indonesia, maukah China mengurangi produksi bajanya, hanya karena permintaan Krakatau Steel? Atau, hanya karena permintaan pengusaha baja dari negara-negara Asean? Saya pikir, tidak. China bukan negara yang mau didikte, setidaknya dalam urusan perdagangan. Dan, kita tahu, China sangat penting artinya bagi perdagangan Indonesia. Kenapa? Karena, China merupakan negara yang menjadi tujuan utama ekspor non-migas Indonesia.

Pada tahun 2014, perusahaan baja China, Shanxi Haixin and Steel Group, membangun dua pabrik besi baja di Indonesia, dengan menggandeng perusahaan lokal tentunya. Jadi, selain membanjiri pasar Indonesia dengan produk ekspor, China juga memasok kebutuhan baja kita dengan produk baja yang diproduksi di Indonesia. Kedua pabrik tersebut menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel, dengan kapasitas 100 ribu meter ton per tahun untuk satu line produksi. Foto: kontan.co.id
Pada tahun 2014, perusahaan baja China, Shanxi Haixin and Steel Group, membangun dua pabrik besi baja di Indonesia, dengan menggandeng perusahaan lokal tentunya. Jadi, selain membanjiri pasar Indonesia dengan produk ekspor, China juga memasok kebutuhan baja kita dengan produk baja yang diproduksi di Indonesia. Kedua pabrik tersebut menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel, dengan kapasitas 100 ribu meter ton per tahun untuk satu line produksi. Foto: kontan.co.id
Ekspor non-migas tersebut, meliputi bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah, perhiasan permata, dan peralatan listrik. Pada Senin (17/04/2017), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suharyanto, mengemukakan, nilai ekspor Indonesia ke China sepanjang kuartal I-2017, mencapai 4,69 miliar dollar AS. Bandingkan dengan nilai ekspor kita ke negara-negara di wilayah Asean: 7,62 miliar dollar AS. Artinya, nilai ekspor kita ke China, lebih dari separuh total ekspor kita ke negara-negara Asean.

Kembali ke baja, kebutuhan China sendiri hanya di kisaran 400-550 juta ton. Sementara, China konsisten memproduksi baja mencapai 800 juta ton per tahun. Dengan demikian, ada 400 juta ton baja China yang diproduksi untuk membanjiri pasar dunia. Bandingkan dengan kapasitas terpasang Krakatau Steel yang saat ini hanya 4 juta ton baja per tahun. Sementara, kebutuhan dalam negeri tahun ini diperkirakan menembus 15 juta ton. Artinya, produksi baja Krakatau Steel masih jauh untuk mampu memenuhi permintaan domestik. Dan, secara finansial, Krakatau Steel terus mencatatkan kerugian, sejak tahun 2012. "Untuk semester kedua tahun ini, kami sudah bisa cetak profit," ujar Dirut Krakatau Steel, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.

Dengan posisi China sebagai negara tujuan utama ekspor non-migas Indonesia, maukah China mengurangi produksi bajanya, hanya karena permintaan Krakatau Steel? Dengan kapasitas produksi hanya 4 juta ton per tahun dan merugi sejak tahun 2012, maukah China mengurangi produksi bajanya, hanya karena permintaan Krakatau Steel? Saya pikir, tidak. China bukan negara yang mau didikte, setidaknya dalam urusan perdagangan. Bila melihat posisi Indonesia dan mencermati kapasitas Krakatau Steel, kita mungkin hanya bisa marah, tapi tidak mungkin mendikte kebijakan bisnis China.

Pada tahun 2016, karena terdesak oleh membanjirnya baja China, sejumlah perusahaan baja di tanah air mengajukan petisi anti dumping ke Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). Dengan praktik dumping, China menjual produk bajanya dengan harga lebih murah di Indonesia, ketimbang di pasaran lokal China. Foto: reuters-kontan.co.id
Pada tahun 2016, karena terdesak oleh membanjirnya baja China, sejumlah perusahaan baja di tanah air mengajukan petisi anti dumping ke Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). Dengan praktik dumping, China menjual produk bajanya dengan harga lebih murah di Indonesia, ketimbang di pasaran lokal China. Foto: reuters-kontan.co.id
Baja China, Baja Vietnam

Di Kompas.com pada Kamis (03/08/2017) itu,  Direktur Pemasaran Krakatau Steel, Purwono Widodo, mengatakan, "Mereka janji kurangi jumlah produksi, tapi nyatanya malah jumlah produksinya naik. Ini ada modus bahwa China lakukan pembunuhan berencana baja di Asean." Hmmm, saya ingat apa yang pernah saya baca di Majalah TEMPO edisi 18 April 2010, halaman 93. Majalah berita mingguan itu menulis, pemerintah akhirnya tak jadi menegosiasi ulang dua ratusan pos tarif sektor industri dengan pemerintah China. Pengusaha yang semula getol menentang perjanjian bebas China-Asean berbalik mendukung.

Memang tidak mudah menghadapi perdagangan China. Baik di level pengusaha, maupun di tingkat pemerintahan. Di era perdagangan bebas kini, juga dengan adanya perjanjian bebas China-Asean, nampaknya makin tidak mudah menghadapi China. Dominasi China terlalu tangguh untuk dihadapi, bahkan oleh negara-negara Asean. Dalam konteks industri baja, di regional Asean, Vietnam adalah negara yang patut diperhitungkan. Indonesia menjadi salah satu pasar potensial untuk produk baja lembaran dari perusahaan baja lembaran di Vietnam. Jadi, bukan hanya besi dan baja dari China yang menyerbu pasar Indonesia, tapi juga dari Vietnam.

Dari penelusuran saya di berbagai media, masuknya baja dari Vietnam ke Indonesia, tidak sepenuhnya produksi Vietnam. Mengagetkan? Inilah bisnis. Perdagangan bebas Asean telah dijadikan pintu masuk oleh produk-produk China. Baja dari China diangkut lewat darat ke Vietnam, kemudian dikapalkan ke Indonesia sebagai ekspor Vietnam. Dengan demikian, ada baja China yang masuk ke Indonesia secara direct dari China, dengan payung hukum perjanjian bebas China-Asean. Dan, ada baja China yang masuk ke Indonesia melalui Vietnam, dengan payung hukum perjanjian perdagangan bebas Asean.

Pegawai Krakatau Steel sedang memantau pembuatan lembaran baja panas di perusahaan baja tersebut di Cilegon, Provinsi Banten. Cilegon sebagai kota industri, banyak menarik investor, berkat kelengkapan infrastruktur di sana: jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai kota penghasil baja. Foto: dwi bayu radius-kompas.com
Pegawai Krakatau Steel sedang memantau pembuatan lembaran baja panas di perusahaan baja tersebut di Cilegon, Provinsi Banten. Cilegon sebagai kota industri, banyak menarik investor, berkat kelengkapan infrastruktur di sana: jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai kota penghasil baja. Foto: dwi bayu radius-kompas.com
Sekali lagi, China konsisten membanjiri negara tujuan dengan produk mereka. Dengan dua pintu masuk baja China ke Indonesia, direct dan via Vietnam, tentu tekanan yang dihadapi Krakatau Steel akan makin keras. Apa yang kita hadapi kini, khususnya dalam industri baja, hendaknya membuat kita lebih cermat dalam menggalang kerjasama dengan negara lain. Bila tidak, kita semata-mata hanya akan dijadikan pasar oleh mereka.

isson khairul --dailyquest.data@gmail.com

Jakarta, 04 Agustus 2017