Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Pensiunan BUMN

menulis untuk melawan lupa.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Caci Maki, Versi Pedangdut dan Versi Politisi

17 Februari 2017   06:10 Diperbarui: 17 Februari 2017   06:53 727 14 10

Mungkin berita ini luput dari perhatian publik, dua pedangdut senior, saling berkata kasar dalam acara yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi yang memang memberi ruang yang lebar buat musik dangdut. Soalnya acara tersebut berlangsung saat perhatian publik tersedot pada berita pilkada, sehingga hanya yang betul-betul penggila dangdut yang menonton acara tersebut.

Saya sendiri tidak menonton langsung, tapi membaca berita saja, saat Dewi Persikk, pedangdut seksi, memaki-maki Nasar, temannya sesama komentator pada acara tersebut, sampai Nasar menangis. Itu terjadi Selasa (14/2) malam. Saya tergerak mencari berita karena ketika saya menonton acara yang sama Rabu (15/2), ada hal yang aneh, karena dimulai dengan Dewi dan Nasar berdiri di panggung saling meminta maaf, dan juga meminta maaf kepada publik yang menonton.

Lalu saat saya terlibat diskusi informal dengan beberapa teman, ternyata reaksi mereka biasa-biasa saja. Menurut mereka memang banyak pedangdut yang tidak tertata ngomongnya. Ada yang ingin cari sensasi dengan saling hujat. Ada pula karena pengetahuan umumnya kurang memadai sehingga keseleo lidah.

Kalau melihat latar belakang para pedangdut, banyak yang pendidikannya hanya sampai sekolah menengah. Mereka bermusik secara otodidak, dari artis lokal di kampung masing-masing sampai mampu eksis di ibukota sebagai artis nasional. Beda dengan banyak penyanyi pop yang berstatus sarjana dan kemampuan menyanyinya diasah melalui kursus olah vokal.

Jadi kalau Depe, panggilan akrab Dewi Persikk, bertindak begitu, wajar saja, kata teman saya. Padahal saya sudah jelaskan hal tersebut bukan diskenariokan, yang terbukti saat Depe mengeluarkan kata-kata kasar, secara mendadak siaran langsung diputuskan dan diganti dengan iklan.

Sayang banget kalau citra penyanyi dangdut masih dianggap norak, tampil seronok dan vulgar, serta kampungan. Tapi saya terus terang tak setuju.  Menurut saya dangdut tidak lagi kampungan. Para pejabat atau pebisnis pun dalam acara di hotel mewah, terbiasa dihibur oleh sajian musik, yang diselipkan lagu dangdut untuk menghangatkan suasana.

Rhoma Irama,  si raja dangdut,  meskipun sekarang lebih sibuk berpolitik, sangat berjasa dalam mengangkat citra dangdut menjadi lebih berkelas. Dengarlah lagu-lagu Rhoma, sangat jauh dari aroma sensual, dan malah penuh nuansa religi. Tapi harus diakui, lagu-lagu dangdut saat ini, jarang yang sebagus lagu Bang Haji Rhoma. 

Kembali ke topik berkata-kata kasar, tidak adil rasanya kalau gara-gara beberapa pedangdut yang tak bisa mengendalikan mulutnya, lalu dianggap semua pedangdut seperti itu. Politisi, pengacara,  guru besar,  pemuka agama, untuk sekadar menyebut beberapa contoh, ada pula yang seperti itu. 

Lihatlah acara debat di televisi. Mereka seperti adu berteriak, bukan adu argumentasi. Apalagi kalau menyimak tulisan yang bersliweran di medsos, amat banyak hujatan dan sumpah serapah. Namun tetap saja, lebih tepat kita menjulukinya sebagai tindakan dari seorang atau beberapa oknum. 

Bisa dikatakan di setiap profesi ada oknum yang bergaya preman. Meskipun semakin sulit mencari tokoh publik yang layak diteladani, kita tidak boleh gegabah dengan merusakkan susu sebelanga, gara-gara nila beberapa tetes. Akankah pelajaran budi pekerti dan revolusi mental bisa memperbaikinya?

Tapi, ngomong-ngomong, ada beda caci maki antara pedangdut dan politisi. Pedangdut cepat baikannya dan terbukti antara Depe dan Nasar sudah saling minta maaf. Mereka sudah menyanyi bersama lagi. Sedangkan versi politisi lebih kekal, dan saling menghimpun pendukung, sehingga aura permusuhan jadi terkesan terstruktur, sistematis dan masif.