Jadilah Pemimpin Kelas Formula One, Agar Anda Layak Memiliki Anggota Tim Kelas Formula One

02 Desember 2016 18:20:32 Diperbarui: 02 Desember 2016 18:29:33 Dibaca : Komentar : Nilai :
Jadilah Pemimpin Kelas Formula One, Agar Anda Layak Memiliki Anggota Tim Kelas Formula One
https://yourstory.com/

Semua anggota tim punya potensi menjadi warga dengan kemampuan mobil balap Formula 1. Kuncinya adalah apakah kita sebagai pemimpin mampu membangun mereka menjadi mobil balap, atau tidak?

Semua mobil canggih membutuhkan pengemudi yang canggih pula. Tanpa keahlian, mobil paling canggih jadi tak ada gunanya. Dan bagaimana kita bisa memenangkan pertandingan kalau kita sebagai pengemudi tak mampu membangun sebuah mobil balap canggih dan kemudian mengemudikannya.

Demikianlah juga sebagai pemimpin. Semua yang kita pimpin punya potensi. Mampukah kita menggali potensi tersebut? Mampukah kita bekerja bersama mereka dan membawa tim menuju kemenangan dengan mewujudkan potensi mereka yang luar biasa?

Seorang teman mengeluh, "Anak itu waktu kerja sama saya kerjanya malas-malasan. Terus dia keluar eh dia bisa malah jadi bagus di sana."

"Nah, jangan marah sama dia dong. Sekarang pertanyaannya kenapa waktu sama kamu dia nggak sehebat sekarang? Ayo, sekarang gimana caranya supaya semua yang kerja sama kamu bisa jadi hebat?"

Yang penting dilakukan oleh pimpinan untuk bisa menggali potensi besar mereka yang dipimpinnya adalah:

1. Selalu gali visi, atau impian mereka. 

Bangun keselarasan dengan visi dan tujuan perusahaan. Kalau tujuan perusahaan adalah untuk menjadi perusahaan nomor satu dalam industrinya, apa impian team kita untuk bisa mewujudkan perusahaan sebagai pena in nomor satu dalam industri?

Bicaralah melalui impian. Leaders are dream makers. Bahaslah bagaimana impian mereka dapat terwujud dan dengan sendirinya impian itu membantu mewujudkan impian perusahaan.

Lihatlah bagaimana passion mereka terbakar begitu mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya bekerja untuk mewujudkan impian mereka.

2. Tingkatkan selalu kualitas pertanyaan, batasi instruksi.

Instruksi memang jelas dan keras, tapi tidak menggali potensi dan memberdayakan. Dalam kondisi krisis memang butuh instruksi dan komando. Tapi dalam penggalian potensi, pemimpin harus menggunakan pertanyaan dan meningkatkan kualitas pertanyaan.

Untuk mencapai impian bersama, apa peranan kamu?

Apa yang bisa kamu kontribusikan untuk menjadikan perusahaan ini perusahaan nomor satu dalam industri?

Kenapa hal itu penting?

Untuk siapa saja hal itu penting?

Kalau kamu lakukan hal itu secara konsisten, makin lama makin baik setiap hari, kamu akan jadi professional seperti apa?

Siapa tokoh yang kamu kagumi dan berhasil mewujudkan apa yang kamu cita-cita kan?

Kalau tokoh yang kamu kagumi ada di sini, apa pesannya bagimu?

Apa saja nilai-nilai yang penting kamu jaga dalam mewujudkan impianmu?

Kompetensi apa yang penting kamu bangun untuk itu?

Lalu apa saja yang kamu perlu lakukan untuk itu?

Bagaimana supaya kamu bisa menjaga komitmen?

Bagaimana aku bisa bantu kamu?

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat otaknya bekerja lebih keras, dan potensinya lebih tergali. Instruksi tidak akan bisa menggali potensi seefektif pertanyaan-pertanyaan ini.

3. Jaga Akuntabilitas.

Jangan toleransi komitmen yang lemah. Jaga terus agar apa yang sudah disepakati benar-benar dilakukan.

Jangan buat asumsi sendiri, mengira-ngira apa yang dialaminya. Dan jangan menghakimi, "dia harusnya begini dan begitu." Ini yang sering terjadi dan membuat pemimpin tidak membantunya membangun potensi.

Langsung saja tanyakan:

Apa yang berhasil kamu lakukan dalam hal Ini?

Apa yang buat kamu sukses melakukan nya?

Apa yang perlu kamu perbaiki?

Apa yang belum terlaksana dengan baik?

Bagaimana agar bisa lebih baik?

4. Visualisasikan impian-impian dan ingatkan terus, apakah semua itu sudah terwujud?

Visualisasi membuat impian tersebut nyata dalam pikiran bawah sadar nya, dan hal ini membangun sistem tubuh yang mendukung pencapaian terwujudnya hal itu.

Terus cek dan terus bertanya agar komitmen team terus terjaga dalam mewujudkan impain tersebut.

5. Percaya.

Yakin, percaya dan prasangka baik bahwa mereka bisa. Dorong terus dari belakang, jadilah teman dan mentor dari samping dan berikan arahan seperlunya dari depan.

Kepercayaan andalah yang akan memicunya untuk menjadi warga kelas formula 1, dan menjadikan anda pengemudi yang layak mengendarai mobil balap formula 1.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article