Tekno highlight

Filosofi Linux dan Keikhlasan

13 September 2017   14:19 Diperbarui: 13 September 2017   17:01 1166 2 0
Filosofi Linux dan Keikhlasan
img-20170912-wa0035-59b8dbcfab12ae4ffc4ce062.jpg

FILOSOFI LINUX DAN KEIKHLASAN "LIR-ILIR" SUNAN KALIJAGA

Sebuah tulisan kolaborasi : Nasruddin Habibi & M. Harun Imohan

FILOSOFI LINUX

  • (Oleh Nasruddin Habibi)

Sebelum saya memulai membahas konseptual Linux secara mendalam, saya tidak pernah tahu kalau Linux punya filosofi,. Maksud saya, kemungkinan apa yang diturunkan sebuah filosofi pada sebuah sistem operasi (OS) ? Namun setelah membaca beberapa tulisan, saya menemukan bahwa semua sistem operasi memiliki filosofi (walaupun tidak literal dicantumkan). Dari sana saya mengerti pentingnya filosofi dalam sebuah sistem operasi.

Linux (atau yang sering mendapat sebutan "GNU/LINUX") adalah sistem mirip UNIX yang menjadi  satu dari sekian macam basis Sistem Operasi komputer yang digunakan di seluruh dunia, artinya Linux adalah salah satu sistem pemegang kendali hardware dan software yang digunakan oleh manusia sebagai alat untuk mengerjakan tugas komputerisasi. Hampir sama dengan sistem operasi Windows (Microsoft) dan sistem operasi Macintosh (Apple). Sistem operasi ini mulai dibangun oleh Linus Torvalds---yang juga dikenal sebagai bapak linux--- pada tahun 1991 berpondasikan sistem GNU yang dibangun oleh Richard Stallman. Pengembangan Linux kemudian diteruskan oleh Linus dan beberapa koleganya dengan sistem kerja "open source". Ini berarti siapa saja yang berminat untuk mengikuti proyek pengembangan tersebut bisa masuk dan bergabung dalam tim pengembang.

Kutipan data dari www.linuxcounter.net per 11 september 2017, pengguna Linux terhitung sebanyak 92 juta dari 3 milyar pengguna komputer, artinya secara presentase, pengguna Linux hanyalah 2,7 % dari pengguna komputer di seluruh dunia yang secara otomatis menjadikan linux sebagai sistem operasi minoritas dunia. Barangkali ini karena kita mengenal Windows sebagai sistem operasi komputer kita secara tradisional (bahkan beberapa dari kita mungkin tidak mengenal sama sekali adanya sistem operasi komputer selain windows), saya katakan secara tradisional karena persebarannya bagaikan tradisi cara kita mengenal agama lewat ayah dan ibu kita, sampai suatu ketika kita baru mengenal dan bersinggungan dengan agama lain.

Secara ironis, tulisan yang membahas tentang linux ini pun ditulis dari Microsoft Office Word 2010 bajakan yang berjalan di Windows 7 Yang tidak terlisensi legal. (Jangan hakimi saya, karena ketika tulisan ini dibuat, saya sedang tidak memiliki akses dengan laptop saya sendiri yang menjalankan linux).

ADA APA DENGAN LINUX?

Oke, mari kita garis bawahi pernyataan berikut: Linux adalah sistem operasi yang sepenuhnya gratis (termasuk software yang digunakan didalamnya). Ini adalah hal esensial yang membedakan linux dengan sistem operasi lainnya. Apa artinya bagi kita? ini berarti anda tidak perlu membeli lisensi apapun untuk menggunakan Linux dan software berbasis linux. Tanpa crack atau patch, tanpa serial key.

Tapi bukankah tidak ada masalah ketika menggunakan windows secara illegal ? jawabannya adalah iya, karena di Indonesia sendiri regulasi tentang legalitas perangkat lunak tidak diawasi secara ketat, karena nya anda tidak akan ditangkap pihak berwenang apabila menggunakan software bajakan. Hal ini sesungguhnya sebuah persepsi yang kurang tepat, karena tanpa kita tahu sebenarnya kita melakukan hal yang illegal. Setidaknya secara moral. Bagaikan mengunakan toilet pom bensin dengan label "Rp. 2000,-" tanpa membayar.

Namun tidak dengan linux. Jika menggunakan analogi yang sama, Linux bagaikan toilet masjid. Anda bisa menggunakannya secara gratis dengan atau tidak membayar. (meskipun tidak semua masjid menggratiskan toiletnya. Namun kali ini yang menjadi sasaran analogi saya adalah masjid yang toiletnya gratis)

Bagaimana bisa gratis ? bukankah pembangunan software sebesar itu membutuhkan dana yang besar? hal ini semacam diabaikan oleh linux karena sistem pengembangannya yang open-source. Ribuan developer di seluruh dunia-dari mejanya masing-masing bisa membantu untuk mengembangkan sistem operasi ini. Bahkan anda dapat membangun distribusi (distro) linux yang baru berbasis linux. Seperti pembangunan toilet masjid yang seringkali melibatkan warga sekitar. Sesungguhnya meskipun gratis, beberapa software linux menyertakan kolom donasi sukarela sebagai bentuk terima kasih pengguna kepada pengembang. Atau tanpa paksaan, anda bisa mengabaikannya seperti kotak amal selama ini.

Tapi bukankah penggunanya sedikit ? Memang benar statistik sebelumnya hanya menunjukkan porsi kecil dari penggunaan linux di seluruh dunia. Tapi tunggu, angka 2,7 % itu memiliki makna lebih. 2,7 % berisikan tidak hanya komputer-komputer biasa yang digunakan nonton anime atau copy-paste makalah, dalam jumlah tersebut ada komputer-kompputer canggih dan bahkan super komputer yang menjalankan linux. Kebanyakan server yang menampung file internet yang berukuran raksasa menjalankan Linux. Perusahaan besar seperti Red Hat, dan IBM menggunakan Linux di sistem perusahaannya. Dan yang seringkali tidak kita sadari, smartphone kita yang menjalankan android dibangun dari basis Linux. Jadi aslinya, Linux bukanlah sistem operasi yang inferior dan cupu, malah banyak digunakan untuk komputasi ekstrim seperti data satelit cuaca dan komputasi astronomi.

Karena berbasis open source, secara sosial Linux telah menciptakan ekosistem  gotong royong antar-penggunanya yang bercokol di seabreg forum online. Tidak tahu cara menggunakannya ? anda bisa bertanya pada para pengguna linux. Ada masalah dalam sistem ? anda dapat memperbaikinya sendiri dengan bantuan ekosistem linux atau melaporkan masalah itu pada pengembangnya. Ini tentunya juga saya rasakan ketika mulai berkenalan dengan linux.

Linux dan konsep radikalnya.

Seperti yang saya sebutkan di awal, filosofi menjadi penting bagi sebuah sistem operasi. Filosofi menjadi makna, alasan sekaligus kerangka pengembangan dalam sistem operasi komputer. Memang filosofi ini sangat mungkin dipahami subjektif. Misalnya filosofi windows, yang "melindungi user dari perilaku yang dapat menyebabkannya dalam masalah" dilihat dari batasan-batasan yang di bentuk pengembang Windows terhadap pengguna. Kita masih bisa meng-kustomisasi-kan tampilan, tapi tidak boleh untuk memodifikasi program. Filosofi Macintosh juga tidak jauh beda, pengguna juga tidak bisa banyak memodifikasi tapi pengguna dijamin tidak pusing saat berhadapan dengan komputer karena Macintosh hadir dengan pendekatan tampilan antar muka yang cantik dan super mulus sehingga memudahkan pengguna dalam interaksinya dengan perangkat.

Filosofi Linux sendiri terderivasi dari filosofi yang sama dengan UNIX. Mike Gancarz menyatakan bahwa ,

"sebuah sistem operasi, secara hakikatnya merupakan bentukan dari filosofi dari penciptanya... pencipta sistem operasi UNIX memulai dengan konsep yang radikal: mereka menganggap bahwa pengguna sistem operasi sudah paham komputer dari awal. Filosofi UNIX timbul dari sebuah ide bahwa User benar-benar memahami apa yang ia lakukan" (Gancarz, Mike. Linux and the Unix Philosophy, Digital Press, 2003, ISBN 1-55558-273-7)

Terdengar agak eksklusif dan elitis memang. Tapi tidak juga sih, justru kebalikannya. Secara langsung, salah satu orang yang terlibat pengembangan Linux, Doug Gwyn menyatakan bahwa,

"Unix/Linux tidak di desain untuk menghentikan pengguna melakukan hal-hal yang bodoh, tapi juga tidak membatasi pengguna untuk melakukan hal yang luar biasa" (http://www.linfo.org/q_unix.html)

Faktanya, Linux tidak mengasumsikan bahwa usernya adalah orang yang tidak kompeten, tapi Linux mengasumsikan bahwa anda benar-benar menyadari dan memahami apa yang anda lakukan baik sengaja maupun tidak (dalam hal baik atau buruk sekalipun), dan ini menjadi kendali yang sangat besar di tangan user.

Linux memperlakukan semua orang secara setara dan memberikan semua orang kuasa yang sama, ini yang disebut Egalitarian. Sebaliknya, sistem operasi lain malah bersikap eksklusif dan elitis dengan mengerdilkan kuasa penggunadengan maksud bahwa sistem operasi tersebut hanya memperbolehkan apa yang diizinkan pengembang.

Saya sendiri percaya bahwa filosofi Linux sangat simpel :

"ikhlas, terbuka, gotong royong dan perlakukan semua orang dengan setara"  

Secara subjektif, saya merasa ada "kelegaan" dalam menggunakan linux. Bagaimana tidak, siapa yang tidak suka dengan hal gratis ? bagaikan kelegaan Imam Syafi'i ketika mendapat keridhoan pemilik buah hanyut yang kemudian menjadi mertuanya. Siapa peduli dengan trend teknologi windows yang superior, toh komputer saya bisa melakukan tugas yang sama dengan sistem operasi lainnya. Yang pastinya saya sama sekali tidak perlu merasa "berdosa" untuk menggunakannya terus menerus.

Secara global, linux telah membuka persepsi kebebasan pengguna komputer. Richard Stallman (mbahnya linux) dalam bukunya "Free Software, Free Society" menyatakan, bahwa aspek sosial perangkat lunak gratis bisa menciptakan keadilan sosial dalam komunitas dunia cyber" karena kebebasan pengguna untuk bebas menggunakan-memodifikasi-dan mendistribusikannya kembali ke orang lain. (Stallman, Richard (9 Maret 2006) The Free Software Movement and the Future of Freedom. Zagreb, Croatia: FSF Europe.) Ini adalah prinsip teguh yang dipegang para pengembang linux yang tentunya selalu datang dengan konsekuensi yang pelik dan godaan komersialisasi Linux yang berkali-kali ditolak oleh Linus Torvalds, padahal para pengembang linux bisa jadi sangat kaya apabila software nya mau dikomersilkan.

Keteguhan itu tentunya membuahkan hasil, kini Linux telah menjadi salah satu sistem operasi terbesar di dunia dan Linus Torvalds menduduki peringkat 17-orang paling berpengaruh di abad 21, tanpa kemewahan, tanpa kantor yang super besar (serius, kantor Linus Torvalds hanyalah kamar pribadi yang biasa saja di rumahnya yang sederhana) tanpa ketenaran dan tanpa kekayaan. Yang ada tinggal determinasi teguh (atau bisa dibilang keikhlasan) dan gairah para pengembang untuk menghadirkan Sistem Operasi terbuka yang dekat dengan pengguna, dan ekosistem gotong royong untuk terus mengembangkan perangkat pembantu pekerjaan manusia yang bisa digunakan siapa saja tanpa ada batasan.

Tulisan ini sungguh bukan pengiklanan untuk linux, saya juga bukan misionaris-nya Linus Torvalds. Buat apa mempromosikan hal gratis dan tidak memberikan keuntungan bagi saya. Toh anda bebas mengunduh dan memasang linux sepenuhnya gratis di perangkat anda.

FILOSOFI SUNAN KALIJAGA DAN SEBUAH HASIL KARYA

 (Oleh: M. Harun Imohan)

TULISAN MULAI BER-KOLABORASI

Pernahkah kita membayangkan bahwa Agama Islam atau paling tidak nilai-nilai yang diajarkan dalam syariat Islam sudah menjadi pedoman mayoritas masyarakat Indonesia. Meskipun bukan merupakan sebuah Negara Islam, namun Negara Indonesia mampu mendamaikan kehidupan bersosial dengan menggunakan aroma agama yang sejuk. Aroma ini disebabkan oleh Kolaborasi Dakwah para ulama yang tergabung dalam satu asosiasi hebat, yakni wali songo.Proses penyebaran Agama Islam yang syarat dengan nilai-nilai dengan landasan kedamaian adalah dengan menanamkan aqidah dalam suatu misi besar yang diusung bersama-sama. Walhasil, Islam mampu memperoleh perhatian dan diyakini oleh masyarakat Indonesia yang dulunya adalah mayoritas umat Hindu, Budha dan bahkan agama Animisme dan Dinamisme.

Sikap gotong-royong saya kira sangat perlu untuk dirawat dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya menceritakan nostalgia kejayaan semangat gotong royong pada si buah hati menjelang tidurnya.

Untuk itu, alasan gotong royong yang ditekankan dalam bingkai kolaborasi tulisan ini dibuat. Saya bersama teman besar (pria berberat badan 86 kg) membuat tulisan ini berdasarkan hasil dari jagongan kala itu. Tema besar dari tulisan ini adalah ke-Ikhlasan yang dicerminkan oleh penggagas Linux dan sang ulama konvensional di jamannya, Sunan Kalijaga.

 KONDISI SULIT MULAI MELILIT

"Islam di Indonesia pernah disampaikan dengan cara keras. Ada yang namanya Syaikh Subakir. Dengan pasukannya berjumlah 400, ia menyerang Ki Darmawangsa di Dhoho, Kediri, yakni padepokan Hindu yang mengajarkan kitab Bhagavad Gita.  Selanjutnya  Ki Darmawangsa terpaksa memanggil bantuan dari Prabu Airlangga. Akhirnya, Syaikh Subakir dan pengikutnya pun berhasil ditumpas pasukan Airlangga." (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA, 2014).

Kemudian muncul ulama yang datang untuk meneruskan dakwah Syaikh Subakir, yakni Syaikh Ibrahim as-Samarkandi dan Syaikh Jumadil Kubra. Sayangnya metode dakwah yang dilakukan sama persis dengan metode dakwah yang disampaikan oleh Syaikh Subakir. Naas, usaha dakwah beliau berdua juga harus mengalami nasib yang sama. Meskipun para pejuang yang dijadikan sebagai pejuang militant untuk melawan para pejuang beragama Hindu, namun tetap saja tak berhasil.

Belajar dari pengalaman, para ulama yang bersatu dalam asosiasi wali songo meneruskan dakwah dengan metode yang berbeda. Metode yang dipakai adalah metode dakwah dengan karakter yang fleksibel dan membaur dengan tradisi. Para ulama tersebut hanya membutuhkan waktu selama 50 tahun mampu menaklukan kerajaan Majapahit dan kerajaan yang lain yang menentang dakwah mereka.

Bingkisan kedamaian yang dimuat dalam proses perjuangan menyebarkan Agama dan nilai-nilai Islam, tentu tidak cukup membutuhkan satu taktik saja. Perlu berbagai macam strategi untuk menyebar luaskan ajaran Agama Islam, salah satunya adalah metode dakwah Sunan Kalijaga.

SEJENAK MENGENAL SUNAN KALIJAGA

Sunan Kalijaga merupakan salah satu ulama yang termasuk dalam bagian Wali Songo. Diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali. 

Ke-istiqomahan Sunan Kalijaga dalam menimba ilmu tidak bisa diremehkan. Menurut suatu cerita diriwayatkan bahw Sunan Kalijaga mempunyai kebiasaan mencuri harta orang kaya dan membagikannya kepada rakyat. Banyak sekali legenda yang diceritakan berulang-ulang oleh orang tua dahulu kepada anaknya mengenai Sunan Kalijaga, khususnya penduduk yang ada di Pulau Jawa.

Setelah diangkat menjadi murid oleh Sunan Bonang, Raden Said berhenti untuk melakukan kebiasaannya dan lebih memilih untuk belajar lebih dalam tentang ilmu spiritual. Dengan syarat, Sunan Bonang menerima Raden Said menjadi muridnya. Syarat yang diberikan adalah menjaga tongkat yang diberikan sunan Bonang dan menghimbaunya untuk menjaga tanpa berpindah tempat sampai sunan Bonang kembali. Syarat itu dilewati Raden Said dengan penuh tantangan yang berat. Namun, berkat kegagahan beliau dalam mengaplikasikan rasa sabar dan menghilangkan diri (salik) akan warisan jabatan dari sang Ayah, akhirnya syarat itu mampu diselesaikan.

Berkat potensi kecerdasan yang dimiliki oleh raden Said, Ia diberi amanah untuk berdakwah di kalangan penduduk Pulau Jawa. Kala itu, penduduk Jawa adalah penduduk yang terkenal kesaktiannya. Ritual pancawakarsa (untuk menghilangkan diri menuju alam surga) dengan berkeliling di tengah tumpeng (nasi berbentuk gunung) dan ditaburi daging manusia juga didorong oleh minuman keras serta seks bebas sudah menjadi salah satu kebiasaan orang Jawa kala itu. 

Menurut catatan Marcopolo, banyak Ulama Islam yang dimakan (canibalisme) oleh penduduk Jawa. Namun, semua kesaktian itu bisa dikalahkan oleh kekuatan luar biasa sunan Bonang yang merupakan guru dari sunan Kalijaga. Hanya tinggal menambahkan sentuhan budaya untuk memicu motivasi beribadah penduduk. Pekerjaan tersebut dipasrahkan oleh Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga dibantu muridnya Sunan Gunung Jati.

Sentuhan budaya yang diberikan oleh sunan Kalijaga rupanya berhasil mengubah pola pikir penduduk Jawa untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Ajaran yang sebelumnya diamalkan untuk memuaskan spiritualitas penduduk kini mulai ditinggalkan dan penduduk berbondong-bondong memeluk agama Islam. Saat itu Islam memiliki daya tawar yang mampu membuat alasan kuat penduduk untuk memeluknya.

Hal yang paling menonjol dan digemari oleh penduduk kala itu adalah segi perilaku. Islam mengajarkan untuk menjaga sesama manusia dengan saling membantu tanpa memandang perbedaan. Kemudian perlahan Sunan Kalijaga memasukkan prinsip-prinsip keagaamaan melalui cerita wayang, alat musik tradisional dan lagu. Tanpa unsur menggurui (karena keangkuhan penduduk Jawa kala itu sangat menonjol), sunan Kalijaga mulai mengintervensi keangkuhan penduduk dengan simbol (bahasa).

LANJUTAN PRINSIP DAKWAH MENGGUNAKAN LAGU LIR-ILIR

Prinsip keagamaan yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga salah satunya yang bertahan sampai saat ini (era modern) adalah sebuah karya fenomenal, lagu berjudul "lir-ilir". Lagu yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga saat itu sangat masyhur, baik di jaman Sunan Kalijaga sampai di jaman Sunan Kali Jodoh (saat ini). Dengan nada yang sangat sederhana dan saya rasa sangat mudah untuk dihapal. Kesederhanaan nada lagu dan kemudahan proses menghapal lagu, tak lantas mudah untuk diremehkan. Hal ini dikarenakan makna yang sangat dalam terkandung dalam lagu bertajuk lir-ilir tersebut.

Dalam lagu lir-ilir, Sunan Kalijaga hendak menyampaikan kepada umat manusia tentang sebuah perjuangan dan ke-istiqomahan yang akan memberikan manfaat besar bagi pelakunya. Kajian ini bisa kita tinjau dalam makna bahasa yang ditulis oleh Sunan Kalijaga dalam lagunya.

Tidak berlebihan saya kira, jika saya dan banyak teman-teman saya serta para masyarakat yang mengagumi lagu lir-ilir.Bukan sebuah pengkultusan buta seperti yang sering dilontarkan para generasi melati mengenai kecintaan serta suatu rasa kekaguman terhadap lagu dan penciptanya. Hanya saja saya heran, tentu keheranan saya ternyata juga merupakan sebuah keheranan banyak orang yang sedang mengagumi lagu ini. Keheranan itu meliputi rasa penasaran tentang resep yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam membuat lagu lir-ilir yang eksis lebih dari 500 tahun silam.

Bisa jadi ada kesamaan motif dari penggagas Linux dan pencipta lagu lir-ilir. Mohon maaf bukan maksud menyamakan maqamat, hanya saja sebuah kesamaan kecil bernama motif.

Motif "ikhlas" yang diduga kuat dalam proses menciptakan sebuah karya, baik lir-ilir dan Linux. Merupakan sebuah karya dari pencipta karya seni yang sudah dalam tingkatan "tak butuh pengakuan".  Mengapa demikian? Layak dikatakan tak butuh pengakuan dikarenakan para pencipta tersebut tidak pernah berkeinginan untuk menjual karyanya dalam bentuk penghambaan nilai estetik karya. Hanya satu yang dipikirkan ketika karya dibuat, yakni maksud tujuan membuat sebuah mahakarya sampai kepada para penikmat.

Kini kita tahu, banyak sekali para musisi yang dibayar ketika ia sedang berdendang diatas panggung dengan membawakan lagu lir-ilir.Belum lagi dalam pelaksanaan manggung tersebut, mereka para musisi dibantu dengan operator panggung yang menjalankan teknis acara dengan bantuan operasional PC yang memakai sistem operasi Linux. Apakah bayaran manggung mereka sampai pada kantong Sunan Kalijaga dan kantong Linus Torvalds? Wallahu a'lam bisshowab.