Buya Hamka Bukan Syiah (Jawaban untuk dewa Gilang)

30 Juni 2012 02:09:45 Dibaca :

Di antara kewajiban seorang muslim dan juga bukti kecintaannya kepada Rabbnya dan Rasul-Nya adalah tunduk dan menerima apa yang datang dari agama-Nya baik itu berupa perintah maupun larangan, keputusan maupun pengabaran, meskipun itu terasa berat di hati dan terganjal di akal.

Allah berfirman:

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. " (QS. An-Nisa: 65)

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. " (QS. Al-Ahzab: 36)

Ali bin Abi Thalib sahabat Nabi yang mulia berkata:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

"Seandainya agama itu berdasarkan akal, niscaya apa yang dibawah khuf (sejenis kaus kaki), lebih pantas diusap dibandingkan yang di atasnya. Namun, sungguh, aku telah melihat Rasulullah mengusap atas kedua khufnya. " (HR. Abu Daud no. 140 maktabah syamilah)

Di dalam syariat ini seorang muslim dibolehkan bersuci/berwudhu tanpa melepaskan alas kakinya. Cukup dengan mengusapnya atas alas kakinya tanpa perlu mencopotnya, maka ia bisa menunaikan ibadah shalat dan semisalnya.

Seandainya agama ini semata-mata dibangun di atas akal, niscaya yang lebih pantas untuk diusap tentu bawah khuf karena di situlah tempat berpijak dan disitu pula kotoran lebih mungkin untuk menempel. Akan tetapi, dalam hal ini sahabat Rasulullah yang mulia ini mengabarkan bahwa Rasulullah justru memerintahkan untuk mengusap atas khuf, bukan bawah khuf. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa agama itu bukan dibangun di atas akal melainkan dibangun di atas wahyu.

Dan termasuk pula kewajiban seorang muslim dan juga bukti kecintaannya kepada Rabbnya dan Rasul-Nya adalah mengutamakan Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Siapapun itu dan apapun itu.

Karena itu Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. " (QS. Al-Hujurat: 2)

Dalam ayat ini Allah mengancam orang yang mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi akan terhapus amalannya sedangkan ia tak menyadarinya.

Kalau sekedar mengeraskan suara melebihi suara beliau saja, bisa membuat terhapus amalan seorang muslim, lantas bagaimana kalau ia mendahulukan ucapan seseorang di atas ucapan dan petunjuk  Nabi?! Bukankah lebih besar kemungkinan terhapus amalannnya?

Ini menunjukkan wajib bagi kita untuk mendahulukan ucapan dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya di atas ucapan siapapun. Sehebat apapun dia dan setinggi apapun kedudukannya.

Berarti, sikap yang benar bagi seorang muslim tatkala berhadapan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya baik itu yang ada dalam Al-Quran maupun yang ada dalam Hadits (shahih) adalah tunduk dan patuh terhadapnya walaupun itu bertentangan dengan perasaan dan akalnya. Meskipun itu bertentangan dengan pendapatnya, orang tuanya, gurunya atau siapapun yang ia hormati.

Dan inilah yang dipraktekkan oleh salafussaleh (pendahulu kita yang saleh) dari kalangan sahabat Nabi, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan baik.

Imam Abu Hanifah berkata:

إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي ) . ( الفلاني في الإيقاظ ص 50 )

"Jika aku mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan Kitabullah Ta'ala dan khabar (hadits ) rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka tinggalkanlah ucapanku."

Imam Malik berkata:

( إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه ) . ( ابن عبد البر في الجامع 2 / 32 )

"Sesungguhnya saya  hanyalah manusia, bisa salah dan bisa benar. Karena itu perhatikanlah pendapatku. Jika itu sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan apa yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah tinggalkanlah. "

Imam Asy-Syafi'i:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت ) . ( وفي رواية ( فاتبعوها ولا تلتفتوا إلى قول أحد ) . ( النووي في المجموع 1 / 63)

"Jika kalian mendapati dalam kitabku ada penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka ambillah sunnah rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan tinggalkan apa yang aku ucapkan. "

( إذا صح الحديث فهو مذهبي ) . ( النووي 1 / 63 )

"Jika shahih suatu hadits, maka itulah madzhabku. "

Imam Ahmad bin Hanbal:

( من رد حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو على شفا هلكة ) . ( ابن الجوزي في المناقب ( ص 182 )

"Siapa yang menolak hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka ia berada dalam jurang kehancuran. "

Inilah sikap para imam besar. Mereka mengingatkan kepada kita untuk mendahulukan kitabullah dan sunnah rasul yang shahih di atas ucapan siapapun. Karena itu Imam Asy-Syafi'I berkata:

( أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد ) . ( الفلاني ص 68 )

"Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa yang telah jelas baginya sunnah rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka tak boleh baginya meninggalkan itu karena ucapan seseorang. "

Teman-teman, setelah penjelasan dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta penjelasan para imam besar di atas menegaskan bahwa wajib seseorang mendahulukan kitabullah dan hadits Rasulullah yang shahih, marilah kita mengulik apa yang ada di tulisan dewa gilang terbaru ini.

Setelah pada tulisan sebelumnya (lihat di sini) sampai kepada dewa gilang penjelasan bahwa hadits tentang disihirnya nabi adalah hadits yang diriwayatkan dalam SHAHIH BUKHARI, MUSLIM, SUNAN IBNU MAJAH, MUSNAD AHMAD dan lainnya yang telah disepakati akan kesahihannya oleh umat, kini dewa gilang menolak semua itu dengan ucapan Abu Bakar Al-Asham, Muhammad Abduh, Al-Qasimi, Sayid Quthub, Thanthawi Jauhari, Az-Zamakhsyari.

Aduhai dewi gilang, sudahkah engkau membaca ayat-ayat di atas? Sudahkah sampai ke telingamu hadits Ali di atas? Sudahkah sampai ke hadapanmu penjelasan para imam besar yang jadi panutan di atas? Kalau memang sudah sampai kepadamu semua itu, lantas akankah engkau akan menolak sesuatu yang sampai kepada Rasulullah karena ucapan fulan dan fulan?

Teman-teman, perlu kita ketahui kembali bahwa umat, yaitu ulama dari kalangan sahabat, tabi'in  serta era setelahnya dari kalangan muhadditsin telah sepakat akan kesahihan hadits tentang tersihirnya Nabi, lantas akankah hadits itu kita buang ke punggung kita karena ucapan beberapa orang?

Saya belum meneliti, apakah betul mereka semua yang disebutkan dewa Gilang berpendapat menolak hadits tentang tersihirnya Nabi atau tidak.

Tapi, jika memang benar mereka semua menolak, lantas apa yang harus kita lakukan dengan para sahabat Nabi, tabi'in dan muhadditsin yang telah sepakat atas kesahihan hadits itu? Akankah kita menerima mereka (beberapa orang tersebut) lalu mendustakan kesepakatan umat?

Kalau memang benar mereka semua berpendapat menolak hadits tentang sihir,  lantas mau dikemanakan pendapat para sahabat nabi, tabi'in, imam yang empat di atas dan para ahli hadits seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam An-Nawawi, Hafizh As-Suyuthi dan seluruh ahli hadits lainnya yang telah sepakat akan kesahihan hadits itu? Akankah kita tetap menerima ucapan beberapa orang lalu mendustakan mayoritas umat di sana?

Kalau memang benar mereka semua berpendapat menolak hadits tentang sihir lantas apa yang akan kita katakan tentang  pendapat orang-orang yang lebih berilmu dibandingkan mereka semua yaitu dari kalangan sahabat Nabi, tabi'in, imam yang empat di atas dan para ahli hadits seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam An-Nawawi, Hafizh As-Suyuthi dan seluruh ahli hadits lainnya yang telah sepakat akan kesahihan hadits itu?  Akankah kita tetap menerima ucapan beberapa orang lalu mendustakan mayoritas orang-orang yang lebih berilmu dibandingkan beliau sana?

Sekarang, mari kita ulik siapa satu persatu tokoh-tokoh yang telah menyelisihi ijma' umat tersebut (jika memang mereka benar menolak hadits tentang sihir itu):

1. Abu Bakar Al-Asham adalah tokoh mu'tazilah. Bukankah dewa gilang tahu bahwa prinsip mu'tazilah adalah menolak hadits apapun jika bertentangan dengan akal? Walaupun itu di SHAHIH BUKHARI dan MUSLIM? Bagi yang ingin mengetahui siapakah Abu Bakar Al-Asham lihat ini.

2. Az-Zamakhsyari juga merupakan tokoh mu'tazilah sebagaimana disebutkan oleh dewa gilang sendiri. Karena itu cara berpikirnya sama seperti tokoh di atas.

3. Muhammad Abduh seorang ulama mesir yang mengikuti metode pemikiran mutazilah. Lantas apa sikapnya terhadap hadits sihir? Tentu saja bisa sama seperti tokoh sebelum ini.  Lihat.

4. Al-Qasimi yaitu Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi seorang ulama besar negeri syam. Dewa gilang menyebutkan bahwa beliau termasuk orang yang menolak hadits tentang tersihirnya nabi. Benarkah itu? Dari kitab apa ini? Saya sudah membaca penafsiran beliau di karya tafsir beliau mahasinuta'wil tentang ayat yang menyinggung tentang sihir di Al-Baqarah 102, saya tidak mendapati beliau menyinggung sedikit pun tentang hadits itu. Lantas dari mana engkau dapatkan ini wahai dewa gilang? Buktikan beliau menolak hadits itu (dengan teks aslinya berupa bahasa arab)!

5. Sayid Quthub adalah asalnya wartawan dan juga sastrawan. Setelah mengenal pergerakan islam di Mesir, ia pun bergabung dengannya. Yang jadi pertanyaan, apakah dengan menjadi 'aktivis' pergerakan lantas sudah menjadi 'alim dan ahli hadits? Adakah ia memiliki karya tulis yang berkaitan dengan hadits? Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh tentangnya silahkan lihat.

6. Thanthawi Jauhari beliau seorang mufassir namun beliau bukanlah seseorang yang memiliki spesialisasi dalam bidang hadits. Bahkan kalau melihat biografi hidupnya, beliau tak memiliki karya tulis dalam bidang hadits. Silahkan lihat biografinya di sini

7. Ar-Razi

Beliau adalah fachruddin Ar-Razi. Beliau sangat mendalami ilmu tafsir, bahkan inilah spesialisasi beliau. Namun apakah beliau seorang ahli hadits layaknya imam An-Nawawi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, As-Suyuthi dan ahli hadits lainnya?  Apakah beliau mempunyai karya tulis dalam bidang hadits seperti mereka?

Bagi yang ingin melihat sedikit biografi beliau lihat di sini

Dan yang terakhir disebut oleh dewa Gilang adalah Buya Hamka rahimahullah. Dewa Gilang bertanya: " Apakah Buya Hamka adalah seorang syiah, dajjal pendusta dan penipu? "

Saya jawab, "Tentu saja dia bukan syiah. "

Kenapa? Karena:

1. Beliau tidak melaknat 2 sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakar dan Umar

2. Beliau tidak mengkafirkan para sahabat Nabi

3. Beliau tidak menyatakan bahwa Aisyah adalah pelacur

4. Beliau juga tidak menyatakan bahwa tidak sah periwayatan hadits kecuali dari ahlulbait.

Bahkan, seandainya beliau hidup sampai tahun 1984 mungkin beliau ikut menandatangani fatwa MUI yang menyatakan bahwa syiah sesat. lihat di sini.

Lho, tapi beliau kan menolak hadits tentang tersihirnya Nabi?

Saya belum tahu dan belum mengeceknya. Kalau pun itu benar, maka yang berlaku adalah ucapan Imam Malik di atas: "Sesungguhnya saya  hanyalah manusia, bisa salah dan bisa benar. Karena itu perhatikanlah pendapatku. Jika itu sesuai dengan kitab dan sunnah, maka ambillah. Dan apa yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah tinggalkanlah. "

Maka, sekali lagi akankah kita tetap mencampakkan keshahihan hadits Bukhari-Muslim dan lain-lain tentang tersihirnya Nabi yang telah disepakati umat? Siapkah kita mempertanggungjawabkan penolakan itu di hadapan Allah di hari kiamat?

Aduhai  dewa Gilang. Kedokmu sudah makin nampak dan tercatat oleh kompasianer. Kini engkau sudah jelas-jelas menolak hadits-hadits dalam SHAHIH BUKHARI, MUSLIM dan lainnya. Dan esok? Entah apalagi yang akan kau dustakan. Sungguh, sebentar lagi akan jelas dan jelaslah siapa dirimu sebenarnya…

Kepada teman-teman semua,  sengaja saya tidak memperpanjang tanggapan saya terhadap artikel dewa gilang itu, karena semua tanggapan di tulisan ini sudah disebutkan di artikel sebelum ini. Di situ dinukilkan tentang kedudukan SHAHIH BUKHARI dan MUSLIM dan juga ijma' umat atas diterima keduanya. dan juga bantahan bagi yang menolak hadits ahad. Silahkan lihat agar lebih jelas...

Abdullah al-jakarty

/imamfatahillah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

santri biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?