Benarkah Abu Thalib Muslim? (Koreksi Atas Ketergelinciran dewa Gilang)

27 Juni 2012 02:36:02 Dibaca :

Sengaja saya membuat judul dengan kata "tergelincir", sebab saya berprasangka baik, mungkin dewa gilang ketika menulis tulisannya itu dalam keadaan lupa atau salah tulis atau ia sedang tak sadarkan diri ketika itu, entah mengantuk berat atau sebab lainnya.

Baik, sebelum mengoreksi apa yang ditulis dewa gilang dalam tulisannya, saya sebutkan dulu beberapa point keyakinan Ahlussunnah dalam masalah Akidah.

1. Sahabat nabi bukan munafik dan munafik bukan shahabat

2. Seluruh sahabat Nabi adalah adil, maka tak boleh mencela , melaknat dan mengkafirkan mereka.

3. Shahih Bukhari dan Muslim adalah kitab  tersahih setelah Al-Quran. Semuanya adalah kitab pedoman agama bagi umat islam.

Sekarang, saatnya mengulik tulisan dewa gilang.

1. Dewa gilang menolak hadits yang menerangkan bahwa Abu Thalib mati dalam keadaan tidak berislam sedangkan hadits itu jelas-jelas diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Hadits yang dimaksud adalah berikut ini:

Diriwayatkan dari Sa'id bin Al-Musayyab dari bapaknya, ia berkata; "Tatkala kematian mendekati Abu Thalib, datanglah Rasulullah kepadanya sedangkan di sisinya ada Abdullah Ibn Umayyah dan Abu Jahl. Maka Rasulullah pun berkatanya, 'Wahai Pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku jadikan bukti untuk membelamu di sisi Allah. ' Maka Abdullah Ibn Umayyah dan Abu Jahl pun berkata kepada Abu Thalib, 'Apakah engkau membenci agamanya Abdulmuthalib? ' Nabi pun mengulangi lagi perkataan sebelumnya, namun keduanya pun mengulangi pula perkataan mereka sebelumnya. Akhirnya, ucapan terakhirnya adalah dia di atas agama Abdulmuthalib dan enggan untuk mengucapkan  Laa ilaaha illallah. Maka Nabi pun berkata, "Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu selama tidak dilarang. " Maka Allah pun menurunkan ayat:

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. " (QS. At-Taubah: 113)

Dan Allah menurunkan perihal Abu Thalib:

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, " (QS. Al-Qashshash: 56)

Dalam riwayat Muslim, Abu Hurairah berkata, "Rasulullah bersabda kepada pamannya tatkala hendak meninggal, 'Ucapkanlah Laa ilaaha illallah. ' aku akan bersaksi untukmu dengan kalimat itu hari kiamat. Akan tetapi Abu Thalib enggan mengucapkannya, maka Allah pun menurunkan ayat: (Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…) (HR. Muslim)

2. Dewa gilang menolak hadits di atas dengan alasan hadist riwayat Muslim di atas diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Dan riwayat itu tertolak. Kenapa? Abu Hurairah masuk islam di akhir kehidupan Nabi yaitu tahun ke-7 Hijriyyah sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rasul shallallahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah

Dewa gilang berkata: "Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita meniilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?"

Koreksi:

1.Seandainya (ingat, seandainya) hadits riwayat muslim itu tidak bisa diterima, bukankah masih ada riwayat lain yang bisa diterima yaitu yang diriwayatkan dalam shahih bukhari yang menyebutkan tentang kisah abu thalib tersebut? Itu seandainya kita mau menolak riwayat muslim tersebut.

2. Termasuk yang disepakati oleh mayoritas ulama dalam periwayatan hadits yaitu diterimanya marasiil ash-shahabah. Apa itu marasil ash-shahabah? Yaitu periwayatan sahabat bahwa Rasulullah berkata atau berbuat demikian dan demikian sedangkan ia tak menyaksikannya.

Berkata Imam Ash-Shan'ani:

مراسيل الصحابة مقبولة عندنا وعند المحدثين وعند الأكثرين من طوائف العلماء

"Marasil Ash-Shahabah itu diterima menurut kami dan menurut ahli hadits dan menurut kebanyakan ulama. " (Taudhihu alafkar lima'ani tanqihi alanzhar juz 1 hal. 287 (maktabah syamilah)) bahkan Ibnu Abdilbarr menyebutkan ijma' (kesepakatan ) ulama tentang diterimanya marasil ash shahabah (Taudhihu alafkar lima'ani tanqihi alanzhar juz 1 hal.287 (maktabah syamilah))

Lihat juga: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=49&idto=49&bk_no=82&ID=44

Kalau memang Marasil Ash-Shahabah itu bisa diterima, bukankah kita bisa menerima marasil Abu Hurairah dalam riwayat muslim itu?

3. Akan tetapi kalau yang dimaksudkan dewa gilang dengan tidak diterimanya Abu Hurairah dalam riwayat ini karena ia orang yang tidak dipercaya, pendusta dll…innaa lillahi wainnaa ilaihi raji'un…lihat:

http://almanhaj.or.id/content/3093/slash/0

http://almanhaj.or.id/content/3094/slash/0

3. dewa gilang menolak hadits tentang Abu Thalib di atas dengan alasan bahwa:

1- QS: At-Taubah 113 ayat terakhir yang turun di Madinah sedangkan QS: Al-Qashash turun pada waktu perang Uhud.

2- Dan juga karena QS: At-Taubah 113  ialah ayat yang turun di Madinah, sementara Abu Thalib wafat di Makkah (sebelum hijrah).

Ia berkata:

"Dari sini kita telah mendapatkan kejanggalan, yaitu jarak bertahun2 yang menjadi selisih antara turunnya kedua ayat tersebut. Jadi ayat tersebut tidak turun pada satu kesempatan untuk menjelaskan peristiwa yang sama, yaitu wafatnya Abu Thalibb."

Ia juga berkata: "Bukankah suatu kejanggalan bahwa ayat yang turun di Madinah menjadi penjelasan terhadap peristiwa yang turun di Makkah? "

Koreksi:

1. Imam Ath-Thabari dalam tafsir Ath-Thabari telah menyebutkan 3 pendapat ulama tentang turunnya QS: At-Taubah 113 yaitu:

Pertama: ayat itu turun tentang Abu Thalib

Kedua: ayat itu turun tentang ibu Nabi kita (Aminah)

Ketiga: ayat itu turun tentang sebagian para sahabat yang mendoakan orang tua mereka yang mati di atas kekufuran

2. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan hadits di atas dalam Fathulbari:

أَمَّا نُزُول هَذِهِ الْآيَة الثَّانِيَة فَوَاضِح فِي قِصَّة أَبِي طَالِب ، وَأَمَّا نُزُول الَّتِي قَبْلهَا فَفِيهِ نَظَر ، وَيَظْهَر أَنَّ الْمُرَاد أَنَّ الْآيَة الْمُتَعَلِّقَة بِالِاسْتِغْفَارِ نَزَلَتْ بَعْد أَبِي طَالِب بِمُدَّةٍ ، وَهِيَ عَامَّة فِي حَقّه وَفِي حَقّ غَيْره ، وَيُوَضِّح ذَلِكَ مَا سَيَأْتِي فِي التَّفْسِير بِلَفْظِ " فَأَنْزَلَ اللَّه بَعْد ذَلِكَ ( مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَاَلَّذِينَ آمَنُوا ) الْآيَة . وَأَنْزَلَ فِي أَبِي طَالِب ( إِنَّك لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْت ) وَلِأَحْمَد مِنْ طَرِيق أَبِي حَازِم عَنْ أَبِي هُرَيْرَة فِي قِصَّة أَبِي طَالِب " قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّه ( إِنَّك لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْت ) وَهَذَا كُلّه ظَاهِر فِي أَنَّهُ مَاتَ عَلَى غَيْر الْإِسْلَام .

"Adapun turunnya ayat yang kedua (QS. Al-Qashshash: 56) maka itu jelas turun tentang Abu Thalib. Adapun terkait turunnya ayat yang sebelumnya (QS: At-Taubah 113) perlu ditinjau. Dan yang nampak adalah bahwasanya ayat yang terkait dengan permohonan ampun Nabi untuk pamannya ini (QS: At-Taubah 113) turun beberapa waktu setelah kematian Abu Thalib, dan ayat ini berlaku umum untuk Abu Thalib dan selainnya. Dan yang memperjelas demikian adalah apa yang akan datang di tafsir dengan lafazh: "Maka Allah pun menurunkan ayat setelah itu (kematian Abu Thalib): "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik…. " (QS. At-Taubah: 113)

Dan Allah menurunkan perihal Abu Thalib:

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…  " (QS. Al-Qashshash: 56) dan keterangan ini seluruhnya merupakan sesuatu yang jelas menunjukkan bahwa Abu Thalib mati di atas selain islam. "

Demikianlah penjelasan seorang faqih',  alim, muhaddits, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.

4. Dewa gilang menolak hadits yang lagi-lagi diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim

Haditsnya yaitu: Bersumber dari Abdullah bin Al Harits, beliau berkata, “Aku mendengar Al Abbas berkata, Aku bertanya kepada Rasullulah saw., ‘Ya Rasulullah! Abu Thalib dulu merawatmu dan menolongmu. Lalu apakah itu ada manfaatnya baginya?” Rasullulah saw. Bersabda: “Ya! Aku menemukannya berada diluapan neraka, lalu aku mengeluarkannya ke kedangkalan.” Bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa Rasullulah saw. Bersabda: “Ahli neraka yang paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang terompah yang menyebabkan otaknya mendidih.”

Dewa gilang menolak hadits ini dengan alasan bahwa di dalam riwayat ini terdapat rangkaian para pendusta dan mudallis.

Ia berkata: "Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hamper semuanya termasuk rangkaian para pendusta dan mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. Ibnu Abi ‘Umar menerimanya dari Sufyan al-Tsauri. Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya. "

Koreksi:

1. Seandainya (ingat, seandainya) hadits riwayat muslim ini tidak bisa diterima, bukankah masih ada beberapa riwayat lain di shahih bukhari yang menceritakan kisah abu thalib ini? Itu kalau kita mau menolak shahih muslim ini.

2. Dari perkataan dewa gilang ini ada 3 orang dalam riwayat hadits di SHAHIH MUSLIM  ini yang dikritik (menurut dewa gilang) sehingga dengan sebab itu tertolaklah riwayat  tentang kisah Abu Thalib tersebut.

3 orang itu adalah:

1. Sufyan al-Tsauri. Dewa gilang berkata, " Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin. "

Koreksi: subhanallah! Sufyan ats-tsauri, seorang tabi'in alim  yang kata imam Sufyan bin 'Uyainah:

أصحاب الحديث ثلاثة: ابن عباس في زمانه، والشعبي في زمانه، والثوري في زمانه.

"Para ahli hadits ada 3: 'Ibnu Abbas di zamannya, Asy-Sya'bi di zamannya dan Ats-Tsauri di zamannya. " (juz 11 hal.166 tahdzibul kamal karya imam Al-Mizzi (maktabah syamilah))

Lantas apakah imam Adz-Dzahabi sampai lupa kedudukan imam Sufyan ats-Tsauri?

Saya sudah mencari di Mizan al-I’tidal, dan saya tidak menemukan ucapan iman Al-Dzahabi seperti yang disebutkan oleh dewa gilang. Karena itu saya harap dewa gilang mau menyebutkan di juz berapa dan hal berapa dalam kitab itu. Dan untuk mempermudah itu bisa disebutkan dari maktabah syamilah; di halaman berapa dan juz berapa kitab tersebut. Agar saya bisa mengeceknya.  Saya akan tunggu. Kalau dia tak bisa menyebutnya, berarti ini fitnah yang sangat nyata terhadap tabi'in yang alim ini.

Dan bagaimana mungkin Adz-Dzahabi menyebutkan demikian, padahal beliau sendiri dalam kitab Siyar 'alam annubala (juz 7 hal 246(maktabah syamilah) menyebutkan perkataan imam Yahya Al-Qathan:

سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ فَوْقَ مَالِكٍ فِي كُلِّ شَيْءٍ.

"Sufyan Ats-Tsauri di atas (imam) Malik dalam segala hal. "

2. Ibnu Abi 'Umair (Abdulmalik bin Abi 'Umair)

Dewa gilang berkata: "Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. "

ia  juga berkata: "Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya. "

koreksi: Siapa maksud para ahli ini? Ahli hadits? Atau ulama syiah yang memang tak menerima hadits-hadits selain yang diriwayatkan ahlulbait?

Kalau memang maksudnya ahli hadits, tolong sebutkan dalam kitab apa.

Tapi kalau maksudnya adalah ulama-ulama syiah, ya tak perlu dia jelaskan. Jangankan Ibnu Abi ‘Umair mereka tolak, para shahabat nabi pun mereka tolak, cela bahkan mereka kafirkan.

Dan dewa gilang juga menyebutkan bahwa abu hatim berkata tentang Abdulmalik ibnu Abi 'Umair ini: "Tidak bisa dipercaya hafalannya. "

Dari kitab apa ini dan di hal berapa? Saya akan mengeceknya langsung dari maktabah syamilah..saya tunggu.

Teman-teman, hadits tentang Abu Thalib di atas sekali lagi diriwayatkan dalam 2 kitab tersahih setelah Al-Quran, yang telah disepakati oleh umat islam akan kesahihannya. Lantas apakah kita akan menolak hadits ini lalu membuangnya ke belakang punggung kita.

Kalau masalah kebaikan Abu Thalib terhadap Nabi kita dan juga dakwah islam, jelas tidak diragukan lagi akan hal itu. Siapa yang mengingkarinya jelas layaknya orang yang buta di siang hari. Namun, masalahnya, apakah dengan begitu kita akan mengingkari keterangan yang jelas dalam Al-Quran dan hadits yang SHAHIH tentang kematiannya di luar islam? Bukankah itu secara tidak langsung menolak firman-Nya dan juga sabda rasul-Nya? Dan bukankah itu secara tidak langsung mendustakan para sahabat Nabi yang mengakuinya?

Abdullah al-jakarty

/imamfatahillah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

santri biasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?