Muda highlight

Ayo Jadi Pemuda Literate Melalui Kelas Literasi

10 September 2017   12:43 Diperbarui: 10 September 2017   12:57 564 0 0
Ayo Jadi Pemuda Literate Melalui Kelas Literasi
Penulis Fajlurrahman Jurdi saat menjadi pembicara

Dengan memiliki kemampuan literasi yang mumpuni, mahasiswa dan pemuda Indonesia diharap memberi kontribusi gagasan bagi pembangunan di daerahnya masing-masing. Berkelindan dengan hal tersebut, menggelar pelatihan literasi perlu terus dikembangkan.

Setali tiga uang, pemuda sebagai pengguna media sosial dituntut memiliki kecakapan literasi. Dengan kemampuan membaca, menulis, dan menelaah informasi, maka penyebaran berita palsu atau hoaks di dunia maya dapat dicegah.

Demikian hal yang mengemuka dalam "Kelas Literasi" kerjasama Lembaga Riset Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (Badko) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) di Auditorium KH Muhammad Ramly, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/9/2017).

Acara yang didukung Kohati Badko HMI Sulselbar dan BPL HMI Cabang Makassar Timur ini mengetengahkan topik "Kontribusi Pemuda dalam Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Melalui Gerakan Literasi".

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Pemateri diskusi antara lain, penulis buku Fajlurrahman Jurdi, Wartawan Harian Tribun Timur Hasyim Arfah, Direktur Lembaga Riset KNPI Sulsel Miftah Fauzan, akademisi STAIN Sorong Ismail Suardi Wekke, dan Pendiri Lentera Institut Muhammad Ashar.

Berturut-turut materi yang disampaikan diantaranya strategi menulis buku, jurnalisme konvensional dan jurnalisme warga, metode publikasi dan penulisan jurnal internasional, arah kebijakan pendidikan, dan transformasi gerakan literasi.  

Pendiri Lentera Institut, Muhammad Ashar mengatakan, persoalan terbesar bangsa ini ada pada persoalan budaya. "Kita belum melewati budaya baca, lalu meloncat ke budaya tonton," katanya.

Menurut Ashar, kebohongan jika diulang terus-menerus bisa dianggap menjadi kebenaran. "Hoaks selalu menyerang otak kita. Ditambah lagi kita jarang membaca buku dan berpikir mendalam," paparnya.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Penulis sekaligus akademisi Universitas Hasanuddin Fajlurrahman Jurdi mengutarakan, tidak ada peradaban tanpa pengetahuan. Peradaban tanpa pengetahuan ibarat kertas yang apabila ditiup angin akan roboh dengan sendirinya. "Untuk menjadi penulis, haruslah banyak membaca. Tulislah apa yang Anda baca. Bacalah apa yang Anda tulis," ajaknya.

Menurutnya, problem dikalangan pemuda adalah masih kurangnya minat baca. Padahal, untuk bisa menulis syaratnya harus membaca. "Membaca minimal 1 judul buku dalam 3 hari. Kedua, menulis kembali apa yang kita baca," paparnya.

Pekerjaan seorang penulis adalah menulis. Jangan jadikan alasan ingin menerbitkan buku sebagai motivasi menulis. "Setiap hari saya menulis. Tetapi tidak punya target diterbitkan. Urusan menerbitkan buku itu urusan lain," ujarnya.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Dosen STAIN Sorong Ismail Suardi Wekke mengajak peserta kelas literasi menghasilkan karya dan dipublikasikan di Google Scholar dan Google Cendekia. Penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta, kata Ismail, masih kalah dibanding Malaysia dalam penulisan artikel ilmiah. "Ayo produktif ilmiah. Kumpulkan tulisan bab demi bab. Satu bulan satu bab, sehingga pada Desember bisa menjadi satu buku," ujarnya.

Menurutnya, jika menulis lantas salah, maka hal tersebut dimaklumi. Hal yang tidak boleh dilakukan seorang penulis adalah plagiat. "Sejelek apapun karya Anda, publikasikan. Satu catatan, jangan lakukan plagiat. Kalau plagiat sama halnya mencuri atau merampok," katanya.

Ketua KNPI Sulawesi Selatan Imran Eka Saputra menyatakan, pihaknya mendorong pelibatan lembaga profesi dalam rangka memberi kontribusi nyata bagi pemuda. "Saya menggagas lembaga profesi yang bisa meningkatkan soft skill pemuda dan mahasiswa di Sulawesi Selatan. Beberapa minggu lalu, misalnya, KNPI Sulsel menggelar simulasi TOEFL," papar Imran.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Ide kelas literasi, kata Imran, dimulai dari obrolan di warung kopi. Kelas literasi digelar dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional pada 8 September 2017.

Terkait persoalan ide dan wacana, ia mengatakan, pemuda di Sulawesi Selatan bisa bersaing dengan pemuda di daerah lain. Hal yang membedakan adalah akses informasi. Persoalannya adalah bagaimana mengaktualisasikan gagasan menjadi karya. Untuk itu, pada Desember 2017, pihaknya berencana menerbitkan buku. "Peserta kelas literasi, pengurus KNPI, dan OKP yang lain saya ajak membuat tulisan yang akan dbukukan. Judul buku tersebut adalah Pemuda Sulawesi Selatan Menatap Indonesia," katanya.

Direktur Lembaga Riset KNPI Sulawesi Selatan Miftah Fauzan mengajak menulis di jurnal bereputasi internasional. Dalam pelatihan, ia menyampaikan trik dan metode penulisan jurnal yang terindeks di Scopus. (KNPI Sulsel/Ilmaddin Husain)