HIGHLIGHT

Rekonstruksi Candi Jago

10 Februari 2011 04:58:49 Dibaca :

Situs Candi Jago yang terletak di desa Tumpang kota Malang ini terlihat rapi dan bersih. Namun apabila dilihat Situs Candi ini sudah berubah dari bentuk semula. Hal ini dikarenakan adanya tangan2 usil yang tidak bertanggung jawab yang membuat Situs Candi ini tidak lengkap seperti aslinya. Candi Jago sejatinya adalah makam Maharaja Wisynuwardhana, namun jika dilihat dari bentuk arsitektur dan ragam hiasnya maka bangunan itu berasal dari zaman majapahit akhir. Pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi, misalnya, candi itu pernah diperbaiki oleh Adityawarman. Dan sesudah itu, candi itu tampaknya mengalami beberapa kali pemugaran pada kurun akhir majapahit yakni pada pertengahan abad ke 15. Relief-relief yang menghiasi tubuh candi  yang mengisahkan lakon Krishnayana, Parthayajna dan Kunjakarna. Munculnya beberapa punakawan dan wanita2 telanjang bisa menggambarkan kemakmuran Majapahit pada abad ini.  Relief Kunjakarna yang menghiasi bagian teras Candi jago menceritakan Boddhicitta Wairocana di wihara yang sedang mengajarkan dharma kepada para Jina, Boddhisattwa, Bajrapani dan dewa-dewa. Pada saat yang sama yaksa bernama Kunjarakarna melakukan meditasi Buddha di Gunung Semeru agar dapat dibebaskan dari wataknya sebagai setan pada inkarnasi berikutnya. Masih berada di desa yang sama rekosntruksi Candi Jago bisa merujuk kepada Candi Kidal yang berada tidak terlalu jauh dengan Candi Jago. Hanya saja Candi Kidal yang terletak di Dusun Kidal ini masih terpelihara dengan rapi pada setiap cawan dan tingkat bangunannya. Hiasan kepala Dwara Kala nampak menyeramkan dengan matanya melotot penuh. Mulutnya terbuka dan nampak dua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya dua taring tersebut juga merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran. Disudut kiri dan kanan terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi. Kedua bola mata patung Dwara Kala ini memberikan kesan sangar karena adanya gradasi warna tiga lapis ukiran, terutama pada patung Dwara Kala Candi Kidal. Sedangakan hal ini tidak kita temukan pada Dwara Kalla di Candi Jago. Apabila dibandingkan, pada pintu situs Candi Kidal diatasnya terdapat hiasan kepala berwajah seram Dwara Kala. Si dewa Dwara Kala ini berkuku runcing dengan mata melotot dan wajah yang cukup menyeramkan. Panjang ke empat gigi taring menyebabkan mulut Dewa Kala ini terdesak sehingga mulutnya lebar. Kepala Dwara Kala yang terletak di Candi Jago semuanya tidak berada di tempatnya yaitu diatas pintu stupa yang menghadap ke Selatan. Pintu stupa ini rupanya sudah tidak lagi lengkap, kepalanya semua diletakkan di tanah meski masih terlihat utuh dan seram. Pintu stupa pada cawan teratas tingkat ketiga ini tembus menghadap ke Utara dimana ini tidak terdapat pada Candi Kidal. Pada Candi yang konon adalah makam Anusapati terdapat ruang kosong dalam stupa selebar 1x1 meter. Di dalam ruangan inilah banyak ditemukan sisa2 orang2 yang melakukan ritual dengan mempergunakan dupa. Pintu stupa di cawan teratas juga menghadap lepas ke Utara namun tidak ditemukan undakan seperti di depan pintu  Selatan.  Bila menghadap ke Utara akan terlihat di bawah adanya cekukan pada cawan lantai 2 yang telihat seolah bekas kolam. Namun apakah demikian adanya.. Dilihat dari bentuk arsitekturnya, Candi Jago mirip sekali dengan bentuk punden berundak yang merupakan ciri bangunan religi dari zaman megalithikum yang mengalami kebangkitan kembali pada massa akhir majapahit. Badan candi terletak diatas kaki candi yang bertingkat tiga. Bangunan utama candi terletak agak kebelakang dan menduduki teras tinggi. Diduga pada bangunan utama itu diberi atap dari ijuk sebagaimana pura-pura di Bali. Bahkan dari sudut pandang aetiologi nama Desa Tumpang tempat dimana Candi Jago berada tentu berasal dari bentuk candi tersebut, sebab didalam bahasa Jawa kuno kata Tumpang memeliki arti "lapis, deretan bertingkat, bersusun, membangun dalam deretan bertingkat". Meskipun Candi Jago kapasitasnya cukup kecil bila dibandingkan dengan Candi-candi besar yang lain selevel Borobudur, namun tidak ada salahnya apabila kita melakukan rekonstruksi pada Candi yang sudah berbentuk berbeda dengan asalnya dengan merujuk pada Candi Kidal yang masih terlihat kokoh dan asli.

Ika Hentihu

/ikafarihah

Ika Farihah Hentihu lahir dan besar di kota Malang Jawa Timur, pengajar di jurusan sastra Inggris. Saat ini sedang tertarik kepada sejarah, antropologi dan budaya Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?