Menuju "Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur"

02 Desember 2016 17:56:00 Diperbarui: 02 Desember 2016 18:08:59 Dibaca : Komentar : Nilai :

Rasa syukur harus kita panjatkan karena Aksi Damai 212 berjalan sesuai rencana. Ratusan ribu umat muslim dari penjuru daerah berkumpul untuk berdoa bersama. Walau diguyur hujan, semangat para jamaah tetap membara untuk duduk bersama di lapangan Monas. Kehadiran presiden Joko Widodo yang ikut sholat Jum'at dan memberikan pidato singkat memberikan tambahan semangat. Hujan deras tidak mampu melunturkan semangat tersebut.

Banyak cerita dibalik aksi yang berlangsung damai tersebut. Dari cerita heroik sejumlah santri yang melakukan long march dari Ciamis sampai Jakarta, cerita jenaka tokoh 'Wiro Sableng' jadi-jadian yang muncul di aksi 212 seakan mencari Kapak Naga Geninya, bahkan cerita oknum kerusuhan yang berhasil diredam juga cerita sabotase massa dengan membagikan minuman kemasan yang sudah disuntik zat tertentu.

Terlepas dari segala cerita tersebut, mari kita lihat dengan mata hati tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Ratusan ribu ummat muslim datang, berkumpul di Monas. Prasangka baik saya, mereka datang untuk ikut berdoa dan berdzikir. Mengharapkan Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mengharapkan Indonesia diampuni dan dilindungi oleh Tuhan. Mendoakan Indonesia menjadi negeri yang 'Rabbun Ghafuur.' Semua itu berdasarkan husnudzon saya, prasangka baik.

Ratusan ribu ummat muslim yang berkumpul mengharapkan satu hal: Indonesia harus dipegang oleh orang yang bisa menjadikan negeri ini 'baldatun thoyyibah', negeri yang baik sesuai dengan amanah para pendiri bangsa.

Saya sendiri hanya bisa memantau semua aksi tersebut via layar televisi dan laporan langsung dari berbagai media sosial. Alhamdulillah, tidak ada hal yang tidak diinginkan. Hanya berita tentang ditangkapnya aktivis yang diduga merencanakan makar (atau apa pun istilahnya), tapi semua itu diluar aksi 212 dan sudah ditangani dengan baik.

***

Siapkah Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur?

Masyarakat Indonesia sudah mendoakan negeri ini. Insya Allah Tuhan akan melindungi. Pemerintah, dengan kawalan rakyat, (harus) berusaha maksimal untuk menjadikan negeri ini baldatun thoyyibah. Thoyyib rakyatnya, hukumnya, ekonominya, thoyyib segalanya.

Yang saya sedihkan hari ini, justru terjadi setelah aksi selesai. Bukan di dunia nyata, karena segala riak aksi bisa diredam dengan baik. Tapi di jagat media sosial.

Saya tahu bahwa Indonesia menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, tapi setidakknya kita harus ikut berkontribusi dalam rangka pem-baldatun-thoyyibatun-wa-rabbun-ghafuur-an Indonesia. Bagaimana caranya?

Sederhana saja: hindari debat kusir di ranah publik. Biasakan dialog langsung kepada orang yang ingin dikritisi. Gunakan mata hati dalam melihat segala kejadian. Karena sesungguhnya, apa yang terjadi di hadapan mata kita banyak yang tidak bisa dicapai dengan kemampuan terbatas pengetahuan kita. Lebih seringlah melihat hakikat segala hal dengan hati kita. Insya Allah baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur bukanlah sekedar mimpi.

Iqbal Iftikar

/iftikar

Mahasiswa biasa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Railway enthusiast, Railway traveler. Musafir hafi. (Pengembara bertelanjang kaki)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article