HIGHLIGHT

Tradisi Pak Ponjen Tak Lekang Dimakan Waktu

25 Mei 2012 17:10:01 Dibaca :

Pembaca mungkin pernah mendengar atau melihat tradisi “pak ponjen” yang dirayakan masyarakat Jawa Tengah, terutama Jepara. Pak ponjen merupakan tradisi pengukuhan sekaligus sarana pengakraban antar saudara / handaitaulan. Selain itu pak ponjen juga merupakan bentuk rasa syukur keluarga karena telah berhasil mengantarkan seluruh anak-anaknya ke jenjang pernikahan. Oleh karena itu pak ponjen hanya dilaksanakan pada pernikahan anak bungsu (terakhir) sebagai tanda berakhirnya sebuah keluarga menyelenggarakan perayaan akad nikah atau mantu.



Tradisi menarik ini masih tetap diuri-uri sebagai wahana ta’aruf dan hiburan melepas kepenatan setelah berhari-hari berkutat dengan berbagai kesibukan mempersiapkan segala sesuatu jelang acara pernikahan.



Acara dibuka dengan do’a bersama yang dipimpin oleh pemuka agama, dilanjutkan dengan berputar mengitari gentong berisi air dan ditutup tampah sebanyak 3 kali. Dengan dipandu pemuka adat, pasangan suami istri dari kakak tertua memimpin adik-adiknya (secara berurutan dimulai dari adik ke dua sampai terakhir) dan saling memegang ujung belakang baju saudaranya. Di belakang pengantin (si bungsu), seorang yang telah ditunjuk oleh pemuka adapt membawa pecut laksana seorang kusir yang mengendalikan kereta kudanya. Pada putaran ke tiga si pengantin menyepak gentong sampai pecah dan tumpah seluruh air yang berada di dalamnya lalu beras kuning disebarkan oleh pemuka adat beserta uang recehan ditaburkan untuk diperebutkan oleh penonton/ tetamu yang hadir.


Adegan lucu mewarnai perebutan recehan ini. Kadang orang tua saling sodok, saling injak dan saling cakar (secara tak disengaja) dengan anak kecil. Gelak canda, tawa sesama yang hadir serasa menyiratkan kebahagiaan yang tak terhingga. Tak ada perbedaan miskin maupun kaya meski yang diperebutkan hanya berupa uang receh.



Perpaduan Nilai Jawa-Islam



Pak ponjen adalah salah satu budaya Jawa yang telah beradaptasi dengan Islam sebagai agama mayoritas di Jepara. Karena sifat budaya Jawa yang terbuka untuk menerima unsure budaya lain dan lapangan budaya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, maka tidak ada budaya yang dapat tumbuh terlepas dari budaya lain. Namun sewaktu budaya Jawa yang Animisitis magisbertemu dengan unsure budaya Islam yang monotheistis, terjadilah pergumulan yang menghasilkan Jawa Islam yang Sinkretis dan Islam yang puritan. Di kalangan Jawa Islam inilah tumbuh dan berkembangnya perpaduan budaya Islam Jawa yang memiliki ciri luar budaya itu menggunakan simbul Islam, tetapi ruh budayanya adalah Jawa Sinkretis. Islam digambarkan sebagai wadah sedang isinya adalah Jawa.



Dengan metode manut ilining banyu, konon para walisongo yang sangat toleran dalam menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa yang sebelumnya telah memiliki keyakinan membiarkan adapt istiadat Jawa tetap hidup, tetapi diberi warna keislaman, seperti : Bacaan mantra pada awal upacara pak ponjen diganti dengan bacaan surat Al fatihah, tahlil, tahmid, tasbih atau kalimah thoyyibah, sesaji diganti selametan dan lain-lain.



Itulah sekelumit cerita pak ponjen yang baru-baru ini diselenggarakan dalam pernikahan adik bungsuku yang tak lebih adalah semacam ruwatan, selamatan dan syukuran keluarga atas terlaksananya pernikahan dengan tertib, hidmat, sukses dan mudah-mudahan penuh ridho dari Allah swt sebagai pasangan suami istri menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah, amiin.



Barokallah.



* Mohon maaf fotonya sulit diunggah

Icha Nors

/icha_nors

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Berhenti melihat jam/waktu dan mulai melihat dengan mata

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?