Abhy Azra Vie Erum
Abhy Azra Vie Erum

Jika Manusia membuat sejarah, itu karena manusia tidak dibuat oleh sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Makna dan Konsep Filsafat Dalam Islam

10 Mei 2013   02:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:50 4244 1 0

Sebuah representasi terhadap arti filsafat islam


Berdasarkan Al-Qur’an dan hadis yang di dalamnya digunakaan istilah hikmah, para otoritas muslim dari berbagai mazhab pemikiran yang berbeda selama berabad-abad mencoba mendefinisan makna hikmah dan juga filsafat, suatu istilah yang masuk dalam bahasa arab melalui usaha penerjemah teks yunani yang dilakukan pada abad ke-2/ke-8 M dan ke-3/ke 9 M. di satu pihak, apa yang disebut sebagai philosophy dalam bahasa inggris harus dilacak dalam konteks peradaban islam bukan hanya dalam berbagai mazhab filsafat islam, melainkan juga dalam mazhab yang memakai sebutan-sebutan lain, khususnya kalam,ma’rifat,ushul fiqh, dan juga ilmu-ilmu awa’il, belum termasuk subyek-subyek seperti tata bahasa dan sejarah yang mengembangkan cabang-cabang tertentu filsafat.


Jika ditinjau dari segi semantik, perkataan filsafat berasal dari kata arab falsafah, yang berasal dari bahasa yunani, philosophia, yang berarti philos: cinta, suka, (loving), dan Sophia: pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksud, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa arabnya failasuf. Menurut musthofa Abdul Razik pemakaian kata filsafat di kalangan umat islam adalah kata hikmah. Sehingga kata hakim ditempatkan pada kata failusuf atau hukum Al-Islam(hakim-hakim islam) sama dengan falasifatul islam(failafus-failasuf islam). Hal ini dikuatkan oleh Dr. Fuad Al-Ahwani, bahwa kebanyakan para pengarang-pengarang Arab menempat kalimat hikmah di tempat kalimat filsafat. Dan menempatkan kalimat hakim di tempat kalimat failusuf atau sebaliknya. Namun demikian, mereka mengatakan bahwa sebenarnya kalimat hikmah itu berada di atas kata filsafat.


Ibnu Sina mengatakan hikmah adalah mencari kesempurnaan dalam diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktis menurut kadar kemampuan manusia, dalam arti baginya antara hikmah dan filsafat sama, yaitu suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi atas segala hal dan pembenaran realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan ukuran manusia. Namun, di sisi lain Ibnu Sina juga menerima definisi-definisi pendahulunya ini walaupun mencoba membuat ciri dan presisi tertentu pada definisinya sendiri.


Bersama Suhrawardi, kita memasuki bukan hanya pada dunia baru, melainkan juga dunia lain filsafat islam. Hikmah Al-Suhrawardi terkenal dengan nama hikmah asyraqiyah, serta di nisbatkan pada isyraq, yang bernama ilmunisi(kasyf). Menurutnya, hikmah ini dikenal pula sebagai hikmah masyriqiah(kebijaksanan timur), sebagaimana yang disebut Ibnu Sina, yang dinisbatkan kepada para penduduk kawasan timur, yaitu orang-orang Persia. Adapun hikmah mereka tersebut didasarkan pada iluminasi, yaitu terbitnya cahaya rasional, kecemerlanganannya, dan kelimpahanya pada jiwa sewaktu jiwa menjadi bebas, hikmah orang-orang Persia, seperti yang dikemukakan Quthbuddian Al-Syirazi, memang didasarkan pada rasa dan iluminasi. Dan ini seperti halnya dengan orang-orang yunani kuno, kecuali Aristoteles dan para pemikutnya, yang justru didasarkan pada pengkajian serta pembuktian, serta selainya.


Pada filsafat Mulla Sadra, kita dapat menemukan bukan hanya usaha menyintesis berbagai mazhab pemikiran islam, melainkan juga pandangan-pandangan sebelumnya tentang makna istilah dan konsep filsafat. Pada bagian pertama Asfar, dia menulis, mengulangi kata perkata, dan merangkum dari sebagian definisi para pendahulunya, Filsafat adalah upaya atas jiwa manusia dan dalam beberapa hal atas kemampuan manusia melalui pengetahuan tentang realitas reaitas esensial segala sesuatu sebagaimana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas demonstrasi(burhan) dan bukan diturunkan atas opini atau dugaan. Selain itu, dalam Al-Syawahid Al-Rububiyah, dia menambahkan,(melalui hikmah) manusia menjadi sebuah dunia yang intelijiber yang dapat difahami dan mirip dengan dunia obyektif dan yang serupa dengan tatanan eksistensi universal.


Mulla Sadra membagi filsafat kepada dua pembagian utama pertama yang bersifat teoritis yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya. Dan kedua yang bersifat praktis yang mengacu pada penyampain kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujutan kegiatan yang pertama ialah pencapaian tujuan akhir semua pengajaran teoritis, yakni yang menyalin atau menyerminkan dunia akali yang dengannya jiwa menjadi sebuah dunia akali bagi dirinya sendiri.


Filsafat islam bukan saja meliputi apa yang tersebut di atas, tetapi juga tidak melupakan terhadap problem-problem besar filsafat, seperti soal wujud,esa,dan berbilang, teori tentang pembagian dan keutamaan, hubungan dengan tuhan dan lain-lain. Lapangan filsafat pada waktu dulu lebih luas dari pada sekarang. Filsafat islam banyak kemiripan dengan pandangan-pandangan orang-orang yunani, terutama Aristoteles, dimana teorinya tentang pembagian filsafat diikuti oleh filosof-filosof islam, filsafat mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, music, dan falak, yang semuanya ini sebenarnya tidak lain adalah cabang-cabang filsafat.