Hasan Nur Aminudin
Hasan Nur Aminudin

Mahasiswa Geografi Universitas Indonesia, Anggota Geographical Mountaineering Club UI

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Cerita Kelahiran Anakku, Lahir Vakum sampai Rawat NICU

20 Mei 2017   21:19 Diperbarui: 22 Mei 2017   11:58 471 3 1
Cerita Kelahiran Anakku, Lahir Vakum sampai Rawat NICU
My Little Family

Rabu, Tgl 18 April 2017

Ceritanya dimulai hari rabu tgl 18 april 2017. Selepas pulang kerja, saya mendapati istri sudah dalam kondisi mules-mules yg semakin parah (dari hari sebelumnya yg sudah pembukaan 1) dan langsung minta dibawa ke bidan. Saat itu saya langsung membawanya ke Puskesmas Kecamatan karena puskes itulah tempat persalinan terdekat dari tempat tinggal kami dan memang kami berencana lahiran menggunakan BPJS. Setibanya di Puskes, bidan yg jaga langsung mengecek dan ternyata sudah pembukaan 4. Oleh bidan, istri saya langsung dibawa ke kamar bersalin untuk menunggu pembukaan lengkap. Saat itu kurang lebih sudah pukul 20.00. Sekitar satu jam kemudian kondisi istri saya sudah pecah ketuban, dan setelah di cek sudah pembukaan 5. Bu bidan saat itu bilang kemungkinan istri saya akan mencapai pembukaan lengkap sekitar pukul 01.00.

Saya dan Ibu menemani istri yg tengah meringis kesakitan menahan kontraksi yang saat itu sudah per-lima menit sekali. Bingung dan tidak tega adalah hal yg saya rasakan ketika itu. Yg saya bisa lakukan adalah memegang tangannya sambil terus memberikan semangat. Dzikir dan Sholawat tidak henti-hentinya dilantunkan. Kondisi ruangan sebelah malah lebih parah lg, si ibu disana sudah meronta-ronta tak karuan. Bidannya sampai kewalahan ngadepinnya. Padahal ini sudah persalinan anak yg ke-tiga katanya.

Masalah lain muncul, istri saya demam. Bidan kemudian memberikan paracetamol dan menyuruh istri saya untuk banyak minum, karena kemungkinan kekurangan cairan katanya. Setiap satu jam sekali bidan mengecek detak jantung bayi untuk mendeteksi kondisi si bayi di kandungan.

Rabu, Tgl 19 April 2017

Pukul  01.00, bidan kembali mengecek pembukaan. Saat itu istri saya sudah pembukaan 9 tipis katanya. Ditunggu sampai setengah 3 untuk sampai pembukaan lengkap. Tetapi kondisi istri saya saat itu masih demam. Sudah minum paracetamol dan minum banyak masih juga belum turun panasnya. Bidan kemudian memberikan infus dan oksigen untuk meredakan kondisi.

Pukul 02.30, bidan kembali mengecek pembukaan. Sudah hampir pembukaan lengkap katanya. Mulailah persiapan untuk persalinan. Istri saya diinstruksikan untuk mulai mengejan saat kontraksi datang. Tetapi berkali-kali mengejan kok belum ada perkembangan. Bidan bilang istri saya kurang kuat dalam mengejan. Kemungkinan istri saya sudah kelelahan. Namun ia masih terus mencoba, tapi tetap hasilnya nihil. Si kepala bayi belum kunjung muncul. Di antara rasa lelah dan frustasi, eh ruangan sebelah sudah terdengar suara tangis bayi. Si ibu sebelah yg sejak masuk ruang bersalin bersama kami dan sepanjang kontraksi meronta-ronta tak karuan malah sudah lahir duluan. Makin down lah istri saya.

Bidan akhirnya mengambil keputusan untuk merujuk istri saya ke rumah sakit. Sebab pertama kondisi istri saya yg sudah tidak memungkinkan (kelelahan dan demam), yg kedua detak jantung si bayi saat itu sudah lebih cepat. Bidan menyarankan ke RS Budi Kemuliaan saja, dan kebetulan kami juga pernah memeriksakan kandungan di sana pada saat awal-awal kehamilan.

Salah satu moment galau juga saat itu bagi kami. Kami yg sejak lama menginginkan persalinan dengan proses normal dihadapkan dengan situasi seperti ini yg saat itu saya berfikiran ini pasti akan Caesar karena sudah cukup genting kondisinya. Istri saya bahkan sampai minta maaf kepada saya karena tidak bisa melahirkan normal. Saya saat itu hanya bilang “yg penting kamu sama anak selamat, berdoa ke Allah untuk yg terbaik”. Yg saya sesalkan sebetulnya bukan masalah normal atau caesarnya. Tetapi kalau lah tahu akan Caesar ya nggak perlu lah sampai menghadapi kontraksi yg sakitnya pake banget (yg ini kata istri saya, saya sih nggak merasakan.hehe).

Istriku saat akan dibawa ke RSBK
Istriku saat akan dibawa ke RSBK

Setelah selesai mengurus segala administrasi di puskes, kami langsung dibawa ke RS dengan menggunakan Ambulance yg memang selalu standby di sana. Sesampainya RSIA Budi Kemuliaan (RSBK), istri saya langsung dibawa ke IGD. Segala sesuatunya diurus bu bidan yg menangani kami di puskes, dari mulai membawa masuk IGD, menjelaskan kondisi istri saya ke pihak RS dan mengurus rujukan. Saya dan ibu hanya menunggu di luar. Sekitar 15 menit di IGD, istri saya dibawa ke ruang persalinan di lantai 4. Ketika akan dibawa ibu saya sempat menanyakan ke suster apakah ini akan di Caesar. Susternya jawab, “nggak kok bu, masih bisa normal”. Saya yg mendengar itu langsung reflek mengucap “Alhamdulillah”. Tapi dalam hati mikir juga,” apa bisa normal?, kan istri saya sudah tidak bisa mengejan”. Tapi saya pikir dokter lebih mengerti lah tindakan yang terbaik.

Di ruang bersalin istri saya kembali diperiksa. Saya langsung disodorkan form-form persetujuan tindakan. Salah satunya persetujuan tindakan Vakum. Saya langsung bertanya kepada susternya, “apa nggak masalah bu suster kalo divakum gini?”. “ya nggak lah pak, kan sudah sering prosedur vakum gini, selama ini nggak ada masalah”, kata susternya. Namanya saya orang awam, ya terang saja saya khawatir. Tapi ya Bismillah saja lah. Tidak lama setelah itu mulai lah proses persalinan istri saya. Saya mendampingi disampingnya. Ada tiga suster/bidan dan satu dokter yang menangani. Prosesnya tidak lama, hanya 5-10 menit kalo saya tidak salah.

Tepat pukul 03.50 akhirnya anak kami terlahir ke dunia ini. Tangisannya pecah memenuhi ruangan dan lorong-lorong di lantai 4. Setelah lahir anak kami langsung dibersihkan. Kemudian setelah rapih dokter menyarankan ke saya untuk langsung mengazankan saja. Saya pun langsung mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya. Selesai dari situ saya tidak tahu lagi apa yg terjadi karena saya bergantian jaga dengan ibu saya (yg mendampingi hanya boleh 1 orang). Sekitar pukul 04.30, saya dipanggil lagi oleh suster untuk segera mengurus administrasi di lantai 2. Suster juga memberitahukan bahwa anak saya sudah dibawa ke NICU untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Tentu saya kaget karena yg saya tahu NICU kan seperti ICU tetapi yg untuk bayi. Tapi suster tidak menerangkan lebih lanjut, hanya menyuruh untuk langsung ditanyakan ke dokternya saja di ruang NICU.

Saya kemudian ke bagian administrasi untuk mengurus kamar. Ada banyak berkas yg harus dilengkapi dan form yg harus di tandatangani. Saya tidak mengecek satu persatu karena pikiran saat itu sedang kalut. Belum lagi ada masalah pada berkas anak saya karena ia belum punya BPJS. Jadilah dia tercatat sebagai pasien umum selama belum punya BPJS. Saya saat itu agak ketar ketir juga, sebab biaya perawatan di NICU hampir 3 juta per harinya. Padahal hari itu BPJS tutup karena sedang pilkada. Yang saya khawatirkan kalau baru bikin BPJS besoknya dan tidak bisa sehari jadi ya makin banyak biaya yg dibebankan ke kami. Sebab bagian administrasi bilang BPJS baru bisa dipakai setelah kartunya jadi.         

Setelah itu saya ke ruang NICU di lantai 5. Dokter langsung menjelaskan perihal kondisi anak kami. Kira-kira begini percakapan saya dengan bu dokter yg menangani anak kami.

Sy           : Gimana bu dokter kondisi anak kami?

Dok        : Jadi begini pak, anak bapak ketika lahir ketubannya sudah hijau. Hijaunya itu karena pupnya si bayi. Mestinya kan kalau di dalam kandungan bayi belum pup. Tapi kalau sampe pup bisa jadi karena sudah kelamaan atau bisa juga si bayi sudah stress di dalam. Si ketuban hijaunya ini beracun pak, kemungkinan sudah ada yg terminum atau terhirup oleh si dede bayi.

Sy           : Kayaknya pas waktu lahir kelihatan sehat-sehat aja dok?

Dok        : Iya tapi ketika pemeriksaan kita dapati nafas dedeknya lebih cepat. Makanya disini kita pasang alat bantu pernafasan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)

Sy           : Waduh, masalahnya terhitung berat nggak dok untuk case kayak gini?

Dok        : Makanya nanti kita cek dulu pak. Kita pasang CPAP, trus nanti dirontgen dan cek darah juga untuk kita liat secara menyeluruh. Mudah-mudahan ngga ada masalah lain.

Saya kemudian melihat anak kami sudah di dalam incubator dengan kondisi sudah dipasang selang pernafasan dan infus. Sedih sekali rasanya, nyesek sekali dihati ini. Orangtua mana yang tak sedih melihat anaknya yg baru lahir harus dipasang macam-macam alat. Orangtua mana yg tega melihat anaknya yg selama 9 bulan dijaga dan dinanti ternyata harus dipasangi alat-alat asing untuk menunjang hidupnya. Padahal anak kami ketika lahir terlihat sangat sehat. Tangisannya saja paling lantang diantara bayi-bayi yg lahir barengannya. Beratnya hampir 3,5 kg (3450 gram). Perawakannya montok tidak kelihatan seperti bayi yg sakit. Tapi siapa sangka harus dirawat intensif di NICU. Saat itu saya hanya bisa berdoa agar kami diberikan kekuatan, kesabaran, dan kesembuhan untuk Diarka anak kami.

Hari pertama Diarka di ruang NICU
Hari pertama Diarka di ruang NICU

Istri saya dirawat di lantai 1. Sedihnya, istri saya belum sempat melihat apalagi menyusui anak kami (ketika lahir hanya melihatnya sekilas). Untuk menengok ke ruang NICU pun belum bisa karena belum boleh banyak bergerak. Walhasil hari itu hanya saya saja yg bolak-balik menengok Diarka di NICU.

Hari itu rumah sakit tidak terlalu ramai kalau boleh dibilang sepi. Loket pasien BPJS juga tutup, padahal saya penasaran ingin menayakan lagi soal BPJS anak kami. Karena penasaran dan bingung mau tanya ke siapa, akhirnya saya coba telpon ke call centernya BPJS. Kepada CS nya saya jelaskan kondisi anak kami yg dimasukkan sebagai pasien umum oleh pihak RSBK dengan alasan tidak punya BPJS. Padahal kami bukannya tidak mau bikin, dari usia kandungan 7 bulan kami sudah mengurus BPJS untuk anak kami tetapi dari pihak BPJS tidak mau mengeluarkan karena katanya untuk BPJS PNS (Askes) nanti diurus ketika lahir. Eh kok tahu-tahu ketika lahir dan saya akan mengurus lagi BPJSnya malah dimasukkan sebagai pasien umum. Gimana nggak gedeg tuh.

CS nya bilang untuk BPJS bisa ditunggu sampai 3 hari semenjak pasien masuk dirawat, jadi anak saya akan dicover BPJS jika sudah punya BPJS sebelum 3 hari. Mendengar itu lega juga saya, apalagi CS nya juga bilang jangan mau kalau disuruh bayar umum. Dikoordinasikan saja ke bagian BPJS rumah sakitnya. Memang terkadang ada oknum petugas yg nakal, makanya kita harus benar-benar pastikan prosedur benarnya.

Kamis, Tgl 20 April 2017

Besoknya, sejak pagi saya sudah antri di bagian pengurusan BPJS. Petugasnya bilang berkas istri saya sudah lengkap tinggal mengurus BPJS untuk anak saya. Kemudian saya dikasih memo untuk mengambil surat keterangan lahir di bagian administrasi. Setelah selesai di bagian admintrasi saya kembali lagi ke bagian BPJS dan diberikan surat pengantar untuk pembuatan BPJS di kantor BPJS Matraman. Sampai Matraman ternyata antri juga (pokoknya kalau pakai BPJS di setiap tahap pasti antri deh.hehe). Sekitar sejam akhirnya kartu BPJS anak kami selesai di cetak. Karena waktu itu anak belum kami kasih nama, jadi di kartu hanya tertulis bayi ibu S**P* (nama istri saya).

Singkat cerita akhirnya sore menjelang maghrib Surat Eligibilitas Peserta (SEP) anak kami jadi juga. Terakhir saya kembali mencecar petugasnya untuk memastikan apa saja item yg akan dicover BPJS. Dan Alhamdulillah petugasnya bilang akan dicover semua termasuk biaya perawatan hari kemarin (sebelum punya BPJS). Alhamdulillah

Malamnya, istri saya ternyata sudah boleh pulang. Namun tidak demikian dengan anak kami, Diarka masih harus dirawat diruang NICU. Sebelum pulang kami menyempatkan kembali menengok Diarka di NICU. Hari ini kondisinya masih pakai CPAP, tetapi level oksigennya sudah diturunkan ke level paling rendah. Namun belum ada kepastian kapan Diarka bisa pulang.

Jum’at, Tgl 21 April 2017

Jum’at paginya kami ke RSBK lagi untuk menyusui anak kami. Suster yg jaga bilang bayi harus disusui pertiga jam sekali. Sampai hari itu ASI istri saya belum banyak. Tetapi tetap harus disusukan karena kalau tidak dirangsang ya tidak akan keluar. Hari itu selang pernafasan sudah bisa dilepas. Hari itu juga istri saya sudah boleh menggendong dan menyusui Diarka. Suster bilang 24 jam setelah selang dilepas kemungkinan Diarka sudah bisa pulang. Tentu senang sekali kami saat itu karena besok Diarka sudah bisa pulang

Sabtu, Tgl 22 April 2017

Sabtu pagi kami ke RSBK lagi. Kami yg hari itu mengira Diarka akan boleh pulang, kembali harus bersabar mendengar informasi dari suster. Hasil tes darah menunjukan bilirubin anak kami cukup tinggi pada angka 18mg/dL dari normalnya 13mg/dL. Walhasil anak kami harus menjalani terapi sinar (fototerapi). Diarka ditempatkan di incubator yg diberi sinar biru (bluelight) dengan hanya memakai diaper dan penutup mata. Karena bilirubin Diarka cukup tinggi, maka harus disinari setidaknya dalam 2 hari.

Kondisi Diarka saat Foto Terapi
Kondisi Diarka saat Foto Terapi

Sedihnya perasaan kami bahwa Diarka harus dirawat lebih lama lagi. Belum lagi ASI istri saya juga masih belum banyak sehingga Diarka terpaksa diberikan susu formula. Dokter yg menangani anak kami sebenarnya sangat tidak merekomendasikan. Tetapi ya mau bagaimana lagi, Diarka perlu makan karena ini sudah hari ke-4. Apalagi beratnya sudah turun 1,5 ons menjadi 3300gram. Kabar baiknya Diarka sudah dipindah keruang SCN.

Jadi ternyata di Perinatologi (lantai 5) ada 3 ruangan utama. Ada NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk perawatan berat, SCN (Special Care Unit) untuk perawatan sedang, dan Perina untuk perawatan ringan. Bayi yang ketika lahir ada kelainan/masalah akan dibawa ke ruangan tersebut tergantung pada tingkat masalahnya.

Minggu, Tgl 23 April 2017

Minggu pagi, seperti hari-hari sebelumnya kami sudah di RSBK. Suster bilang besok pagi anak kami akan dites darah lagi. Hasilnya akan menentukan apakah Diarka boleh pulang atau kembali dirawat. Ditengah jeda menunggu menyusui tidak banyak yg bisa kami lakukan. Untungnya ada ruang tunggu dengan sofa sehingga lebih nyaman. Jika tidak, bingung juga karena istri saya belum bisa duduk di bangku biasa karena masih merasa nyeri pada luka jahitannya.

Banyak kerabat termasuk orangtua kami menyarankan untuk membawa pulang Diarka. Alasannya bayi kuning bisa sembuh dengan dijemur sendiri di rumah. Tentu kami tidak mau ambil resiko, kami menunggu intruksi dokter untuk memastikan Diarka benar-benar pulih ketika akan dibawa pulang.

Senin, Tgl 24 April 2017

Senin pagi kami ke RSBK lagi. Hari itu kami sudah pasrah saja sebetulnya, sambil tetap berdoa untuk yg terbaik tentunya. Yg kami khawatirkan Diarka masih belum boleh pulang. Namun ternyata hasil tes darah Diarka menunjukan hasil yg positif. Bilirubinnya sudah turun, infeksi di dalam darah juga sudah hilang. Hari itu Diarka sudah dinyatakan boleh pulang, Alhamdulillah.

Diarka saat Aqiqah (usia 10 hari)
Diarka saat Aqiqah (usia 10 hari)

Beberapa catatan dari cerita kelahiran anak kami:

  • Pengalaman melahirkan anak khususnya pengalaman Diarka di NICU, mengajarkan kami arti dari bersabar, syukur, dan ikhlas. Bersabar bahwa kondisi yg terjadi (dalam kehidupan) tidak selalu sesuai dengan yg kita harapkan. Bersyukur bahwa apa yg dialami Diarka sesungguhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan kondisi anak-anak lain di NICU. Kami  banyak melihat bayi dengan kondisi yg lebih berat dari kondisi Diarka, dari mulai bayi prematur, gawat janin, kelainan/kegagalan organ (jantung, paru-paru dsb), hingga bayi yg tak terselamatkan. Juga bersyukur kami sudah diberikan nikmat hamil dan mempunyai anak dimana banyak keluarga yg masih menantikan kehadiran buah hatinya. Kemudian ikhlas bahwa anak hanya merupakan titipan dari Allah, kita hanya bisa berusaha sampai batas maksimal sambil berharap dan berdoa Allah memberikan yg terbaik.
  • BPJS sesungguhnya sangat membantu meski dengan banyak syarat yg mesti dilengkapi. Seperti kasus kami, biaya untuk persalinan dan kamar istri saya sebesar 7.500.000 rupiah sedangkan biaya perawatan anak kami selama 6 hari di NICU sebesar 16.500.000 rupiah. Hampir semua dari jumlah tersebut dicover oleh BPJS. Kami hanya membayar sebesar 250.000,- saja karena ada beberapa obat yg tidak dicover oleh BPJS. Jadi asalkan kita mengikuti terus prosedurnya, InsyaAllah akan dicover semua (kecuali minta naik kelas kamar atau ada obat yg tidak ditanggung).
  • Ketika akan memilih/merujuk rumah sakit untuk bersalin, usahakan pilih rumah sakit yg memiliki instalasi NICU. Sebab jika ketika lahir anak mengalami masalah/kelainan, bisa langsung dibawa dan ditangani di ruang NICU. Banyak cerita dari para orangtua yg kesulitan merujuk bayinya ke RS yg memiliki NICU karena dimana-mana NICU selalu penuh. Di Jakarta sendiri tidak semua rumah sakit memiliki Instalasi NICU. Sekalipun ada biasanya sudah penuh pasien bahkan sampai ada waiting list nya. Kalau di Jakarta yg saya tahu RS yg ada NICU nya seperti RSCM, RSIA Harapan Kita, RSIA Budi Kemuliaan, Hermina dan RS sekelas RSUD seperti Tarakan, Cengkareng, Koja, Pasar Rebo, dan Fatmawati.
  • Sekali lagi, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha maksimal. Pada akhirnya Tuhan lah yg memutuskan. Terkadang yg baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Semoga Allah SWT selalu memberikan apa-apa yg menjadi terbaik bagi kita. “Bismillahi tawakaltu alallah, La hawla wala quwwata illa billah”. Dengan namamu Ya Allah Kami berserah diri kepada Engkau, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolonganmu.