Hikmah Komariah
Hikmah Komariah pelajar/mahasiswa

seseorang yang suka mengeluh atas berbagai ketidakidealan dan kerusakan yang ada, mencoba berpikir out of the box dan berusaha menemukan ide yang mencerahkan untuk dunia saat ini dan dunia dimasa mendatang.

Selanjutnya

Tutup

Cerita dari Kejawan, Ketika Anak Melihat Orangtua Sedang "Nganu"

12 November 2015   21:15 Diperbarui: 12 November 2015   23:45 35123 5 3

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi kota Surabaya selama beberapa hari. Kembali ke kota rantau, membuat saya teringat masa-masa menjadi mahasiswa. Ingat sekali bagaimana rasanya berkutat dengan yang namanya jurnal, angket, SPSS dan kawan sebangsanya itu demi menyelesaikan karya fenomenal bernama skripsi. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu. Ah iya, kan saya memang baru dinyatakan lulus beberapa bulan lalu! Tidak lucu? Yasudah, kita lanjutkan, tak perlu nostalgia. Toh, nostalgia berlarut-larut malah bisa menyiksa batin.

Dalam waktu yang singkat selama di Surabaya itu, ada seorang teman yang mengajak saya untuk mengunjungi sebuah bimbingan belajar gratis yang berlokasi di daerah Kejawan. Teman saya yang lain menyebutnya sebagai sekolah rakyat. Berhubung saya senang dengan segala sesuatu yang berbau pendidikan, apalagi yang datang dari inisiatif rakyat sendiri, tanpa pikir panjang saya mengiyakan ajakan tersebut. Maka, datanglah saya ke sebuah rumah yang menjadi tempat bimbingan belajar itu.

Saya dikenalkan dengan seorang ibu, si pemilik rumah. Yang menggagas ide memberikan bimbingan belajar gratis kepada anak-anak di daerah tersebut. Namanya Ibu Sita. Sekilas, barangkali kita hanya akan memandang si Ibu sebelah mata. Dandanan sederhana. Ah, bahkan beliau tidak berdandan. Khas ibu rumah tangga yang tidak lagi punya waktu untuk macak karena sibuk mengurus keluarga. Tapi sungguh, begitu beliau bicara, rasa hormat kepada beliau muncul hanya dalam sepersekian detik.

Kami berkenalan singkat. Ibu Sita mulai bercerita tentang bimbingan belajar gratis yang diselenggarakan dirumahnya itu, pun bercerita tentang apa yang sedang dia upayakan untuk menyelamatkan anak-anak Kejawan dari nasib buruk yang sedang mengintai. Cerita yang sukses bikin perasaan saya tidak enak bahkan berhari-hari setelahnya.

Saat saya datang kesana, ada seorang perempuan muda yang sedang diberi instruksi oleh Ibu Sita. Mbak yang saya tidak tahu namanya itu ternyata akan memberikan pendidikan seks usia dini kepada para orangtua dari anak-anak yang belajar disana. Kenapa para orangtua yang diberikan pendidikan seks usia dini? Pertanyaan ini muncul karena saya pikir, sasaran dari pendidikan seks usia dini itu adalah anak-anak. Ibu Sita mulai memberikan jawaban. Jawabannya adalah seperti ini:

Seks menjadi hal yang tabu bagi para orangtua. Mereka ogah membicarakan atau terlibat dalam pembicaraan seputar seks dalam ruang publik, tapi getol melakukannya tiap malam. Dikamar masing-masing, tentunya. Dengan pasangan halal masing-masing pula. Dimana salahnya kalau begitu? Kalau sudah dapat ijin dari Yang Maha Kuasa, mau ngapain saja ya ndak papa. Yayaya, sampai sini semuanya masih tidak ada masalah. Namun, ketika hubungan suami-istri yang sah itu berbenturan dengan persoalan kemiskinan, permasalahannya akan segera terlihat.

Bayangkan! Hidup yang pas-pasan, membuat sepasang suami-istri tidak sanggup membeli rumah yang cukup besar untuk dihuni oleh mereka dan anak-anak. Atau bahkan, jangankan membeli, untuk mengontrak saja sudah melambaikan bendera putih. Alhasil, mereka hanya mampu tinggal di sebuah rumah petak. Satu kamar digunakan untuk segala aktivitas, kecuali mandi dan buang air. Satu kamar untuk seluruh anggota keluarga. Nah, dari sini kita semakin mendekati permasalahannya.

Saya belum menikah. Tapi yang saya tau (dari berbagai referensi, bukan pengalaman pribadi loh), setelah seseorang menikah, kadar rasa butuh terhadap aktivitas seksual semakin meningkat. Yang terjadi adalah tiap malam, kebanyakan orangtua itu tidak kuasa menahan hasrat hingga mereka memilih melakukannya didalam kamar seluruh anggota keluarga itu. Dilakukan diam-diam, setelah yakin anak-anaknya telah tertidur pulas. Tetapi sialnya, mata kecil itu juga diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan orangtuanya. Mungkin terbangun karena suara-suara aneh yang muncul. Orangtua tetap tidak sadar, tidak tau ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka. Dan yang begini ini, bukan hanya terjadi di satu-dua rumah saja. Dari informasi yang saya dapat dari Ibu Sita, didaerah Kejawan sana, cukup banyak keluarga yang hanya mampu tinggal di rumah petak. Bisa dikatakan, anak-anak yang tanpa sengaja mengintip orangtuanya itu jumlahnya tidak sedikit.

Cerita selanjutnya adalah anak-anak itu perlahan-lahan akan mulai terbiasa dengan aktivitas seksual. Mereka akan menganggap melakukan hubungan seksual itu tidak apa-apa, toh ayah dan ibunya juga melakukannya setiap malam. Sesederhana itu yang dipahami oleh anak-anak. Mereka tidak tahu, ada aturan main untuk mengubah hubungan seksual menjadi sesuatu yang sah menurut hukum dan agama. Ingat yang saya katakan sebelumnya? Seks menjadi hal yang tabu bagi para orangtua. Mereka tidak mau membicarakan seks pada anak-anak mereka. Tak ada penjelasan soal hubungan suami-istri yang sah. Anak-anak hanya tau dari apa yang mereka lihat.

Saya gemas dengar cerita seperti ini. Betapa seseorang harus benar-benar bisa mengendalikan ego diatas segalanya. Siapapun dia. Termasuk para orangtua. Meski sudah halal, untuk bisa bermesraan, mereka tetap harus tau situasi dan kondisi. Jangan sampai memaksakan ego, lantas membuat anak-anak yang masih polos itu menjadi tidak polos lagi.

Setelah mendapat cerita ini, saya penasaran apakah perilaku anak-anak disana menunjukkan tanda-tanda penyimpangan? Ibu Sita mengiyakan dan melanjutkan ceritanya. Perasaan saya semakin tidak enak, tapi tetap penasaran juga dengan perilaku anak-anak itu. Anak-anak itu melakukan hal-hal aneh saat menghabiskan waktu bermain dengan teman sebaya. Katakanlah segerombolan anak sedang bermain petak umpet. Ada yang menang dan ada yang kalah. Pemenang menghukum yang kalah. Dan hukuman yang dipilih si pemenang ini benar-benar diluar dugaan. Dia meminta yang kalah memainkan kemaluan miliknya sebagai hukuman. Saya gak habis pikir, kok bisa hal macam itu ada dipikiran bocah yang seharusnya masih lugu itu. Ada juga yang katanya main sambil buka-bukaan baju. Dik, kamu itu mau main atau mau mandi? Atau main mandi-mandian? Duh Gusti, sedih sekali dengar kondisi anak-anak di Kejawan sana.

Itulah mengapa pendidikan seks usia dini diberikan kepada para orangtua. Agar mereka mau mengikuti jejak Feni Rose: mengangkat hal yang tabu menjadi patut dan layak untuk diperbincangkan. Supaya mereka mau memberikan pendidikan seks usia dini pada anak-anak mereka. Lewat ucapan yaitu dengan memberikan penjelasan kepada anak kalau hubungan seksual hanya pantas dilakukan ketika sudah dewasa dan sudah menikah nanti. Sama sekali belum pantas dilakukan oleh bocah yang masih sibuk mengurus ingus seperti mereka. Dan tentu lewat perbuatan. Perbuatan? Berbuat “itu” didepan anak-anak? Hush! Dengan perbuatan itu maksudnya adalah sabar menahan diri supaya tidak melakukan hubungan seksual didepan anak-anak, termasuk yang dilakukan diam-diam. Kalau mau mesra-mesraan, mbok ya dilakukan sewaktu anak-anak sedang sekolah atau sedang main diluar rumah. Jadi orangtua ya kudu banyak ngalah toh, demi kebaikan anak sendiri.

Saya dari jauh hanya bisa mendoakan supaya usaha yang dilakukan Ibu Sita ini membuahkan hasil. Ah iya, semoga permasalahan ini bisa didengar juga oleh Ibu Risma, supaya banyak bantuan yang dikerahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang menghantui anak-anak itu. Loh kok Ibu Risma? Kan beliau belum tentu terpilih kembali jadi walikota Surabaya. Ah, yakin seyakin-yakinnya saya kalau Bu Risma bakalan kepilih lagi jadi Walikota Surabaya! (Loh, malah jadi kampanye..hehe)

Yasudah, lanjut doa lagi yang khusyuk. Berdoa agar anak-anak itu bisa lepas dari nasib buruk yang mengintai dan berdoa agar Ibu Risma menang pilkada dan jadi walikota tercintah kembali. Amin.

 

Selamat malam…