Humaniora

Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi, "Guru dari Para Ulama Besar Jawa Barat"

22 Maret 2017   21:39 Diperbarui: 22 Maret 2017   22:01 4337 0 0
Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi, "Guru dari Para Ulama Besar Jawa Barat"
fahmialinh.wordpress.com

Mengenal Sosok KH. Ahmad Sanusi (Sukabumi) Sang Pemikir dan Pejuang (Guru dari Para Ulama Besar Jawa Barat)*

Oleh : Tatang Hidayat**

Beliau adalah sosok Kyai jenius yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, beliau menjadi rujukan penting perkembangan keilmuan Islam di Jawa Barat karena telah melahirkan Kyai-kyai besar yang berpengaruh di tanah jawa ini. Beliau merupakan sang pemikir dan pejuang yang gigih menentang kekuasaan Belanda hingga ia bersama sejumlah Kyai lainnya seperti KH. Wahid Hasyim, Moch. Yamin dan Kyai lainnya yang terlibat dalam merumuskan berdirinya negeri ini Beliau patut mendapat penghargaan yang selayaknya, apalagi keilmuan KH. Ahmad Sanusi adalah rujukan bagi ulama besar di Jawa Barat seperti KH. Zainal Musthafa, KH. Choer Affandy, KH. Abdullan bin Nuh dan sederet nama besar Kyai lainnya pernah berguru pada KH. Ahmad Sanusi.

Masa kecil (1888-1905) Ahmad Sanusi dilahirkan pada 12 Muharram 1306 H bertepatan dengan tanggal 18 September 1888 M di Kampung Cantayan Desa Cantayan Kecematan Cantayan Kabupaten Sukabumi (daerah tersebut dulunya bernama Kampung Cantayan Desa Cantayan Onderdistrik Cikembar, Distrik Cibadak, Afdeeling Sukabumi) KH. Ahmad Sanusi adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan KH. Abdurrohim (Ajengan Cantayan, Pimpinan Pondok PEsantren Cantayan) dengan Ibu Empok. Dilihat dari silsilah keluarga, Ahmad Sanusi masih keturunan Syaikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan yang berada di daerah Pamijahan Tasikmalaya yang berasal dari Gresik Jawa Timur.

Setelah menginjak usia 16 tahun lebih pada tahun 1905 M, Ahmad Sanusi mulai belajar serius mendalami ilmu Agama Islam atas anjuran ayahnya, ia bertualang menambah pengalaman dan memperluas pergaulan dengan masyarakat, menuntut ilmu di berbagai pesantren di Jawa Barat seperti Pesantren Salajambe (Cisaat Sukabumi), Pesantren Sukamantri (Cisaat Sukabumi), Pesantren Sukaraja (Sukaraja Sukabumi), Pesantren Cilaku (Cianjur), Pesantren Ciajag (Cianjur), Pesantren Gentur Warung Kondang (Cianjur), Pesantren Keresek (Garut), Pesantren Bunikasih (Garut), Pesantren Gudang (Tasikmalaya). Dan seluruh ilmu di pesantren tersebut dikusainya hanya dalam wakt 4.5 tahun saja karena memang ia memiliki kecerdasan diatas rata-rata.

Setelah menikah dengan Siti Juwariyah putri Haji Affandi dari Kebon Pedes, beberapa bulan kemudian pada tahun 1910 M Ahmad Sanusi beserta istri berangkat ke Mekkah al-Mukarromah untuk menunaikan ibadah haji, setelah menunaikan ibadah haji, mereka bermukim di Mekkah al-Mukarromah selama 5 tahun untuk memperdalam pengetahuan Agama Islam. Disanapun ia berguru ke berbagai ulama besar seperti Syaikh Saleh Bafadil, Syaikh Maliki, Syaikh Ali Thayyib, Haji Muhammad Junaedi, Haji Abdullah Jawani, Haji Mukhtar, Syaikh Katib al-Minangkabawi, dan lain sebagainya. Corak pemikiran pergerakannya Ia kental bergaul dengan tokoh-tokoh seperti KH. Abdul Halim (Tokoh Pendiri Persatuan Umat Islam Majalengka), Haji Abdl Muluk (Tokoh Syarikat Islam), KH. Abdul Wahab Hasbulloh (Salah satu pendiri NU), KH. Abdul Kahar Muzakkir (Salah satu tokoh Muhammadiyyah).

Pada tahun 1915 M, Ahmad Sanusi kembali ke kampung halamannya untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan, pada bulan Agustus 1927 dekat pesantren Cantayan terjadi insiden pengrusakan dua jaringan kawat telepon yang menghubungkan Sukabumi, Bandung dan Bogor. Peristiwa ini dijadikan bukti pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap dan menahan Ahmad Sanusi. Dengan tuduhan itu, ia terpaksa mendekam di penjara Cianjur selama 9 bulan sampai bulan Mei 1928, terus di pindahkan ke penjara Kota Sukabumi sampai November 1928. Selanjutnya sejak bulan November 1928 Ahmad Sanusi diasingkan dan dibuang ke Tanah Tinggi Senen Batavia Centrum.

Pada tanggal 3 Juli 1934, Gubernur Jenderal de Jonge mengeluarkan keputusan mengembalikan Ahmad Sanusi ke Kota Sukabumi dengan status tahanan kota. Kemudian di akhir tahun 1934, Ahmad Sanusi mendirikan Pondok Pesantren Gunung Puyuh yang lokasinya berada di belakang rumahnya, dalam perkembangan berikutnya Pondok Pesantren tersebut di beri nama Pergoeroean Syamsoel ‘Oeloem. Tahun 1942 Jepang menguasai Sukabumi dengan mengambil alih kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda melalui mobilisasai militernya. Pada 1 Februari 1943, diadakan latihan Ulama yang diselenggarakan oleh pemerintah militer Jepang bertempat di Kantor Masjoemi Jalam Imamura no.1 Jakarta. Ahmad Sanusi menjadi instruktur dalam kegiatan tersebut bersama H. Agus Salim, Dr. Amrullah, dan lain-lain.

Pada bulan Oktober 1943, Ahmad Sanusi diangkat menjadi anggota Dewan Penasehat Daerah Bogor (Giin Bogor Shu Sangi Kai), dengan syarat salah satunya agar Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII) dihidupkan kembali, karena sebelumnya organisasi yang lahir pada zaman pemerintah Kolonial Belanda dibubarkan Jepang. Akhirnya AII hidup kembali dengan merubah AD/ART dan nama itu menjadi Persatoean Oemmat Islam Indonesia (POII)

Pemikirannya tentang konsep bentuk Negara dan wilayah Negara, hal ini terungkap dalam sidang BPUPKI pada tanggal 10-11 Juli 1945. Ketika sidang BPUPKI digelar pada tanggal 10 Juli 1945, agenda yang dibicarakan adalah betuk Negara Mr. Soesanto (mewakili kelompk aristokrasi) mengusulkan agar bentuk Negara itu berbentu kerajaan. Usulan ini ditentang oleh Prof. Muhammad Yamin (Kelompok Nasionalis) menghendaki bentuk Negara ini berbentuk republik. Maka Ahmad Sanusi ikut berbicara  untuk menengahi kedua pengusul  tersebut dengan menjelaskan plus minus  bentuk kerajaan dan republik dari perspektif Alquran, sehingga beliau berpendapat bahwa sebaiknya Negara Indonesia itu sesuai dengan kondisi  yang ada berbentuk Imamat yang dipimpin oleh Imam.

Ia wafat pada umur 63 tahun di Pesantren Gunung Puyung sebelum cita-citanya bersama sahabatnya KH. Abdul Halim dari Majalengka ingin menyatukan (POII) Persatuan Oemmat Islam Indonesia) dan POI (Perikatan Oemmat Islam terwujud. Beliau banyak mendapatkan penghargaan  pemerintah  berupa perintis kemerdekaan dari Pemerintah RI, Bintang Maha Putra Utama dari Presiden RI, Bintang Maha Putra Pradana dari Presiden RI  dan namanya di abadikan oleh Pemerintah Kota Sukabumi menjadi salah satu nama jalan di Kota Sukabumi, yang menghubungkan antara jalan Cigunung  sampai dengan Degung, yaitu jalan KH. A. Sanusi.

Ia adalah mutiara yang terpendam di dalam lumpur, sebuah kekayaan yang tak ternilai namun tak banyak dikenal, di Usia 12 tahun sudah hafizh Quran, Usia 25 tahun sudah menjadi Imam di Masjidil Haram, ia menguasai berbagai disiplin keilmuan di usianya yang masih sangat muda, padahal semua ilmunya itu hanya didapatnya di pesantren dalam kurun waktu empat setengah tahun saja, dan corak pemikirannya terbentuk selama di Jazirah Arab  dengan menghabiskan waktunya lima tahun, hingga seorang syaikh disana pernah berkata “Jika orang Indonesia mau belajar agama Islam tidak usah ke Timur Tengah, cukup ke Sukabumi karena disana sudah ada Kyai yang mumpuni yakni KH. Ahmad Sanusi”.

*Tulisan ini diringkas dari Majalah Suara Ulama Edisi 2 (2016, hlm. 14-18)

** Penulis adalah seorang Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia