Hery Supriyanto
Hery Supriyanto Warganet

Liberté, égalité, fraternité ││Sapere aude ││ Iqro' bismirobbikalladzi kholaq ││www.herysupri.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Filosofi Kopi 2, Mengelola Pahitnya Kopi dalam Persahabatan Sejati

17 Juli 2017   11:23 Diperbarui: 17 Juli 2017   11:34 245 0 0
Filosofi Kopi 2, Mengelola Pahitnya Kopi dalam Persahabatan Sejati
Sumber :cdn.metrotvnews.com

Salut dua jempol layak diberikan kepada film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody yang sudah dirilis 13 Juli lalu. Antusias penonton begitu  besar, beberapa studio penuh dan tiket sold out sebelum jam tayang di putar. Beberapa pemerhati film menyatakan tren positif. Sebuah film sekuel sebelumnya Filosofi Kopi yang juga mendapat antusias penonton, apalagi di situ ada nama besar Dewi Lestari di mana cerpen karangannya itu diangkat ke layar lebar. Inilah sebuah film yang mengangkat lika-liku kehidupan, cinta, kopi nusantara, yang dikemas dalam persahabatan : Ben dan Jody.

Film kedua kali ini mencoba menjual minuan kopi dalam bentuk lain, sedangkan kedai yang lama dijual. Melalui kombi, sebuah mobil besar yang dibentuk kedai mini dan bertingkat lagi. Kedai kombi ini selalu berpindah tempat untuk menyajikan seduhan kopi dengan segala filosofinya, yang diberikan dalam sebuah kartu kepada pelanggannya. Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) sangat menikmati cara berjualan seperti ini, bisa berkeliling antar kota sekaligus berjualan sambil mengenalkan kopi terbaik nusantara.

Keadaan yang nyaman ini tiba-tiba terganggu dengan pengunduran tiga baristanya dengan alasan yang rasional. Nana karena sedang hamil, Aga (Muhammad Aga), dan Aldi (Aufa Dien Assegaf) yang ingin mengembangkan kedainya sendiri dan bosan dengan cara yang berkeliling. Kedai pun sedikit oleng, tetap dipaksa bertahan walau hanya berdua. Beberapa kali merekrut barista namun tak bertahan lama, tak cocok dengan karakter Ben yang begitu idealis dalam menyajikan secangkir kopi.

Akhirnya mereka menyerah dengan sistem kombi dan memutuskan untuk menghidupkan kembali kedai Filosofi Kopi di Jakarta yang telah dimatikan itu. Dan rupanya bekas kedai Filosofi Kopi itu ditelantarkan oleh pemilik baru sehingga menjadi bangunan yang kumuh. Ben dan Jody pun ingin kembali membeli kedai yang pernah dimilikinya itu. Sial tidak mudah mendapatkannya, pemilik bersedia melepas dengan harga 1,5 kali lipat dari harga yang pernah dilepasnya itu.

Karena tidak punya dana cukup, mencari investor adalah solusi terbaik. Walaupun Filosofi Kopi pernah berjaya tak mudah mendapatkan investor setelah cukup banyak berpresentasi. Angin segar pun didapatkan, seorang investor Tarra (Luna Maya) setuju menanamkan modal dengan syarat saham 49 persen. Pada mulanya Jody tidak setuju dengan aturan ini, tapi Ben justru ngotot agar kesepakatan ini diambil dengan dalih inilah kesempatan emas menghidupkan kembali Filosofi Kopi itu.

Perjalanan Filosofi Kopi berkembang penuh dinamika. Barista baru juga direkut Brie (Nadine Alexandra) untuk membantu Ben. Perkembangan selanjutnya akhirmya mereka bertiga, Ben, Jody, dan Tarra memutuskan membuka cabang di Jogja. Pada tahap inilah persahabatan di uji satu-sama lain yang punya ego sendiri. Ada sedikit mengganjal antara Ben dan Jody ternyata diam-diam juga menyukai orang yang sama, Tarra.

Soal asmara memang terkadang cukup pelik dalam persahabatan. Suatu hal yang klasik sebenarnya yang bisa terjadi pada siapa saja. Terjadi dilema. Ingin lebih lanjut, sahabat juga suka. Tidak lanjut tetapi hati harus memendam rasa. Di sisi lain lain tak hanya perasaan yang terlanjur suka, Ben dihadapkan kenyataan bahwa  Tarra ternyata ayahnya punya andil yang tidak mengenakkan terhadap orang tua Ben. Ayah Tarra lah yang menggusur paksa perkebunan kopi ayah Ben yang juga menyebabkan ibunya meninggal.

Konflik terus berlanjut dengan terancamnya keberadaan Filosofi Kopi yang ternyata Ben ingin membeli semua sahamnya untuk dikelola sendiri. Tentu saja Jody dan Tarra tidak setuju karena Filosofi Kopi itu bukanlah tergantung satu orang. Satu sama lain punya peranannya tersendiri yang akan timpang jika salah satunya tiada. Apalagi pembentukan Filosofi Kopi ini dengan perjanjian yang kuat, hitam di atas putih.   

Sumber gambar: ecs7.tokopedia.net
Sumber gambar: ecs7.tokopedia.net

Suatu film yang --menurut saya- dikemas dengan cerita yang menarik. Dengan Filosofi --yang mudah dicerna-  seperti perjalanan kopi yang diracik dengan baik. Seorang teman menasehati Ben bahwa persahabatan antara Ben dan Jody adalah seperti biji kopi yang utuh kanan kirinya, dan menasehatinya agar diselesaikan dengan kepala dingin. Dalam kehidupan nyata persehabatan memang diuji seperti itu, apakah bisa lolos dikala situasi salah satunya berasa pada sesuatu yang tidak mengenakkan. OST Filosofi Kopi 2 "Sahabat Sejati" kali ini dinyanyikan Chicco dan Rio, yang merupakan daur ulang dari lagu milik Sheila on 7 cukup membantu untuk memahami arti persahabatan itu.

Setiap ciptaan Tuhan keberadaaannya tidaklah sia-sia dan kita bisa mengambil pelajaran (baca: filosofi) didalamnya. Seperti  layaknya kopi. Pahit tetap ada yang bagaimana kita memaknai dan mengemas sehingga menikmatinya dengan suka cita. Persahabatan pun tidak selamanya berjalan dengan manis. Akan ada suatu saat akan diuji dengan "badai" yang tidak mengenakkan. Apalagi bila persabahatan itu bercampur dengan hubungan bisnis, banyak yang tidak lolos didalamnya pada akhirnya persahabatan itu retak.  

Menonton film ini seperti menikmati segelas es kopi dengan menyeruput pakai sedotan tanpa berfokus pada gelasnya. Dan tiba-tiba tanpa terasa, isinya sudah habis tinggal menyisakan esnya. Di film ini juga begitu, tiba-tiba film ini harus diakhiri tanpa memberi "kode" jeda akan berakhir. Penonton memang dituntut cerdas dalam memahami jalannya cerita. Antara beberapa plot kadang berjalan tidak beraturan untuk merujuk keadaan tertentu. Di antara jeda tersebut, memang tidak semua harus diceritakan secara detail sehingga dikhawatirkan akan jemu.

Boleh dibilang film ini termasuk idealis. Tak semata "serakah" mengambil keuntungan, yang beberapa bagian akan didonasikan untuk kesejahteraan petani kopi. Dengan kita menonton dan membeli tiket secara tidak langsung berpartisipasi dalam mengembangkan kopi nusantara. Persahabatan dibangun tidak harus dengan teman terdekat. Dalam konteks ini, persahabatan dengan petani kopi juga harus dibangun. Karena merekalah yang menanam, merawat, dan memanen untuk selanjutnya diolah. Menjadikan petani yang baik akan menghasilkan kopi yang berkualitas sehingga kita bisa menikmatinya dalam secangkir kopi dengan perasaan puas.