HIGHLIGHT

Memulai Berbisnis Tanaman Hias dengan Teknik Kultur Jaringan

17 Januari 2011 00:07:09 Dibaca :

Pastinya tidak asing lagi dengan istilah teknik kultur jaringan pada tanaman. Kultur jaringan adalah suatu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif, diamana teknik perbanyakannya adalah dengan mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan mengatur tumbuh dalam wadah yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Teknik kultur jaringan banyak dipergunakan pada saat membudidayakan tanaman hias. Terdapat berbagai keuntungan membudidayakan tanaman dengan memanfaatkan teknik kultur jaringan yaitu mempu memproduksi bibit dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang relatif singkat, bibit yang dihasilkan seragam, bibit yang dihasilkan bebas dari penyakit, pengadaan bibit tidak tergantung pada musim dan yang tidak kalah pentingnya adalah biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah.

Di tangan Ir. Edy Sandra. M.Si (44) dosen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB teknik kultur jaringan sebagai media dalam berbisnis tanaman hias. Dimulai dari kecintaannya terhadap tanaman hias khususnya bunga angrek dan memilih Kultur Meristem sebagai topik dalam menyelesaikan gelar sarjana S1nya. Selain itu, kecintaanya dengan anggrek dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Kultur Jaringan Angrek Skala Rumah Tangga” dan “Teknik Pembungakan Anggrek”. Pak Edy Sandra memulai usaha Kultur Jaringan pertama kali dengan mengadakan pelatihan kultur jaringan secara sederhana dikediamannya pada tahun 1996. Setiap tahun pelatihan kultur jaringan semakin banyak peminatnya, sampai-sampai pada masa kejayaanya yaitu tahun 2005 terdapat dua kelompok pelatihan kultur jaringan sekaligus setiap bulan. Dari situlah Pak Edy melihat terdapat peluang bisnis dari pelatiahan tersebut, dengan bermodal awal tanaman kultur jaringan milik temannya dijualkanlah kepada peserta pelatihan dan mereka banyak yang tertarik. Semenjak itu Pak Edy Sandra mulai untuk memproduksi tanaman kultur jaringan.

Tanaman pertama yang dibudidayakan Pak Edy dengan menggunakan teknik kultur jaringan adalah jenis tanaman anggrek. Pada tahun 2007 Pak Edy Sandra mulai membudidayakan jenis tanaman Antorium kobra. Pak Edy Sandra pada tahun 2007 bisa memperoleh omset perbulan 90-100 juta dengan memproduksi tanaman dengan menggunakan teknologi kultur jaringan serta pelatihan-pelatihan yang telah diadakannya.

Usaha Pak Edy Sandra tentang kultur jaringan tidak sebatas sampai pemberian pelatihan dan memproduksi tanaman kultur jaringan saja, tetapi diperluas dengan membuaka sebuah kios tanaman hias yang bernama “ESHA FLORA”. di ESHA FLORA Pak Edy menjual berbagai tanaman hias baik itu anggrek, angronema dan jenis tanaman yang lain yang sangat unik, menarik dan beranekaragam jenisnya. Selain itu Pak Edy Sandra juga mulai memproduksi berbagai hormon perangsang untuk bunga, tunas dan akar. Kelebihan ESHA FLORA dibandingkan kios tanaman hias lainnya adalah, di sana diberikan konsultasi secara lengkap dan gratis mengenai jenis tanaman hias, teknik budidaya sampai pada perawatan tanaman hias. Salah satu alasan tersebutlah ESHA FLORA banyak dikunjungi oleh para konsumen yang bersekala rumah tanngga sampai kolektor sekalipun.

Yang membuat bisnis budidaya tanaman hias dengan menggunakan teknik kultur jaringan milik Pak Edy Sandra mampu bertahan sampai sekarang adalah karena beliau mempunyai visi yang sangat arif sekali yaitu memperkenalkan teknik budidaya tanaman kultur jaringan kepada masyarakat luas dengan harapan masyarakat mampu menerapkan serta mengaplikasikanya sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Melalui bisnis kultur jaringan dengan skala rumah tangga Pak Edy Sandra mampu membuktikan keberhasilannya, bahwasanya segala sesuatu asal ada niat dan kemauan yang keras serta memiliki jiwa entrepreneur maka akan mampu mendirikan bisnis sendiri. Saat ini Pak Edy Sandra sedang disibukan oleh budidaya kultur jaringan jenis tanaman Antorium Golden, Agronema Lipstik Klasik, Antorium Supernova dan Tanaman Tiara yang harganya diperkirakan bisa sampai berjuta-juta saat ini. Pada saat ini omset Pak Edy Sandra dalam menggeluti bisnis teknik kultur jaringan tanaman hias adalah 20 juta per bulan.

Anggapan teknik kultur jaringan sulit adalah salah besar, pada intinya dalam melakukan teknik kultur jaringan hanyalah melakukan isolasi tanaman, bisa bagian protoplasma, sel, jaringan ataupun organ tanaman yang selanjutnya ditanam dalam kondisi steril di dalam botol menggunakan media buatan. Tanaman dalam botol itulah yang akan dipelihara sehingga saatnya dikelurakan dan ditanam diluar. Terdapat beberapa tips dari Pak Edy Sandra bagi pemula yang ingin berbisnis budidaya tanaman hias dengan menggunakan teknik kultur jaringan yaitu:1) Memiliki motivasi, keuletan dan jiwa entrepreneur yang kuat dalam memulai usaha. 2) Harus memiliki visi dan misi yang jelas. 3) harus mampu memahami terlebih dahulu apa itu tanaman hias, kultur jaringan dan segala permasalannya yang dapat terjadi. 4) Dalam memulai usaha lebih baik mengawalinya dengan hal yang sederhana yaitu dengan sub kultur terlebih dahulu. 5) Tips yang terakhir jangan pernah terlena dengan kegiatan coba-coba yang mengasyikan karena tanpa disadari akan mengabiskan uang anda.

Melalui budidaya kultur jaringan tanaman, Indonesia tidak akan tertinggal oleh Negara lain dan akan sangat bermanfaat sekali dalam mengatasi masalah kelangkaan dan pemenuhan tanaman kehutanan, perkebunan dan penghijauan. Selain itu mampu mengurangi pemanfaatan secara berlebihan tanaman di alam. Membudidayakan tanaman hias dengan teknik kultur jaringan juga mampu menjadi peluang bisnis yang mengantarkan masyarakat Indonesia kepada kehidupan yang lebih sejahtera. (evi)

evi heriyaningtyas

/heriyaningtyasevi

cita-cita saya membuat perpustakaan keliling ^^
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?