Toleran Terhadap Keberagaman

24 September 2016 03:19:49 Diperbarui: 24 September 2016 03:25:14 Dibaca : Komentar : Nilai :
Toleran Terhadap Keberagaman
Toleran Terhadap Keberagaman - www.mediasiswa.com

KH Ahmad Dahlan, pernah diangap sebagai orang yang mempunyai otak miring, bahkan ada yang mengatakan kafir, ketika menyatakan bahwa arah kiblat masjid agung di Yoyakarta adalah miring. Pertentangan perihal ini, tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga justru berasal dari keluarganya sendiri. Setelah menjelaskan dengan ilmu pengatahuan, dan logika yang mudah dipahami, masyarakat akhirnya benar-benar mengerti, kalau padangan KH Dahlan, benar adanya.

Kini, anggapan miring kepada orang lain juga masih terjadi. Bahkan, anggapan itu seringkali disertai kebencian yang begitu kuat. Yang menyedihkan lagi, ujaran kebencian ini terus disebarluaskan melalui berbagai macam cara. Tidak hanya melalui forum pengajian, tapi juga menyebar ke sosial media. Pandangan negatif ini, terus menyebar di kalangan muda. 

Akibatnya, banyak generasi muda kita menjadi korban indoktrinasi kelompok radikal. Hanya karena tidak suka pada hal tertentu, seseorang bisa mudah melakukan kekerasan, meniru perilaku kelompok radikal. Masih ingat bom di salah satu mall di Alam Sutera? Peledakan itu tidak berbungan dengan teroris, tapi karena kuatnya kebencian pada diri pelaku.

Kebencian terhadap orang lain iniah, yang harus kita hilangkan dalam pikiran. Sehingga perilaku yang muncul adalah perilaku positif, yang saling menghormati antar sesama. Jika kebencian terus dibiarkan menguasa diri, maka yang terjadi adalah kita menjadi pribadi yang merasa benar sendiri. Hal ini diwujudkan pada perilaku yang tidak mau dikritik. Sikap merasa benar sendiri inilah, yang akhirnya memunculkan sikap mudah mengkafirkan orang lain.

Kelompok Gafatar, kelompok Ahmadiyah, seringkali menjadi korban oleh kelompok mayoritas karena dianggap sesat. Padahal, bisa jadi menjadi sesat, karena adanya kesalahan dalam memahami agama. Disisi lain, perilaku yang dimunculkan kelompok mayoritas, yang cenderung berupa kekerasan, justru dianggap sebagai upaya untuk menegakkan jalan Allah. Radikalisme terbukti telah menjadikan manusia, menjadi pribadi yang sesat. Bagaimana tidak, karena kesesatan itulah, mereka mudah mengkafirkan orang lain, mereka mudah melakukan tindak kekerasan, dan bahkan mereka mudah menyebarkan teror bom.

Keberagaman di Indonesia, merupakan pemerintahan Tuhan YME. Indonesia tidak hana kaya akan sumber alam, tapi juga kaya akan budayanya. Akibat keanekaragaman budaya ini, telah melahirkan sikap gotong royong, saling menghormati, dan tolong menolong. Toleransi dan kerukunan antar umat beragama, pada akhirnya menjadi ciri khas negeri yang sangat menghormati keberagaman. Ibarat sebuah taman, jika kita mengisinya dengan bunga yang penuh warna-warni, akan membuat taman menjadi lebih indah dipandang.

Mari kita rawat keberagaman negeri ini, seperti kita merawat warni-warni taman bunga. Mari kita hilangkan kebencian yang ada dalam diri, dan menggantinya dengan pesan damai. Biarkan masyarakat kita tumbuh menjadi masyarakat yang pluralis, dan bukan menjadi masyarakat yang sangat radikalis, yang begitu mudah menyalahkan orang lain. Dan mari kita kedepankan dialog, agar perbedaan yang sering dijadikan sumber persoalan itu bisa kita minimalisir. Ingat, kita adalah warga negara dari negeri yang penuh dengan multikultur. Karena itulah mari kita rawat keberagaman ini, agar kehidupan bisa lebih damai, tanpa ada kebencian dan kekerasan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL muda
Featured Article