Bahasa Indonesia sebagai Jati Diri Bangsa Kita

14 September 2012 04:58:49 Dibaca :

BAHASA INDONESIA SEBAGAI JATI DIRI BANGSA KITA


oleh


Hastangka



Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Keberagaman bahasa daerah dan suku bangsa Indonesia membutuhkan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia. oleh karena itu, bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan sebagai jembatan komunikasi antar suku bangsa di Indonesia. Tongak lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ketika para pemuda Indonesia mendeklarasikan sebuah sumpah yang dikenal dengan sumpah pemuda 28 oktober 1928. Sejak saat itu, Bahasa Indonesia sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi nusantara ini. Sebelum adanya sumpah pemuda, pada tanggal 28 oktober 1928, bangsa Indonesia belum memiliki bahasa persatuan sebagai alat komunikasi antar suku bangsa. Membangun nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme dapat melalui menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia adalah sebuah refleksi kehidupan keberagaman di negara kawasan Asia Tenggara. Misalnya, ketika kita mengunjungi di daerah pedalaman Papua, bahasa apa yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal? tentu saja adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang dapat dipahami dan dimengerti oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa membedakan suku dan bahasa. Dalam UUD 1945 pasal 36 juga menyebutkan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Melestarikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa dan bahasa persatuan adalah penting. Kita tidak mungkin meninggalkan bahasa Indonesia karena di dalam bahasa Indonesia terdapat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, dan persatuan. Kalau kita melihat negara India yang memiliki berbagai macam bahasa daerah di dalam satu negara, bahasa apa yang harus mereka gunakan ketika mereka harus berkomunikasi dengan teman satu bangsanya?, di India tidak memiliki bahasa pemersatu seperti di Indonesia. Orang India akan berkomunikasi satu dengan yang lain hanya dengan menggunakan bahasa Inggris. Bahasa asing yang bukan dari akar budaya India. Berbeda di Indonesia, berbagai macam suku bahasa, suku bangsa, dan adat-istiadat dapat disatukan dengan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.


Ketika pertama kali saya berkunjung ke Madura, saya memiliki pengalaman bahwa saya ternyata tidak mampu memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat Madura. Saya tidak mengerti satu kalimat pun apa yang mereka ucapkan. Masyarakat Madura sehari-hari menggunakan bahasa Madura dan logat yang unik. Sebagai orang Yogyakarta saya tidak dapat mengerti dengan komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat Madura tersebut. Saya baru paham ketika mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berkomunikasi dengan saya dalam bahasa Indonesia. Pengalaman lain, ketika saya memiliki teman yang tinggal di Asrama Daerah seperti Asrama Madura, Asrama Jawa Barat, dan Asrama Kalimantan, saat saya bermain dan berkumpul dengan teman-teman yang berbeda dari daerah saya tidak mampu memahami apa yang mereka bicarakan dan diskusikan ketika mereka menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing. Tetapi kami dapat disatukan dalam bahasa Indonesia, tanpa bahasa Indonesia kami menyadari akan sulit berkomunikasi satu dengan yang lain. Saya menyadari bahwa mengapa bahasa Indonesia harus terus diajarkan dan dipelajari mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi karena bahasa Indonesia memiliki tujuan untuk merajut dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa kita dan bahasa persatuan.

Hastangka -

/hastangka

Hastangka, lahir di Sleman pada 30 September 1983. Ia menamatkan pendidikan sekolah dasar pada SD Semarangan I. Pendidikan SMP di BOPKRI III dan kemudian diteruskan di SMU BOPKRI I Yogyakarta. Gelar sarjana diraihnya pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dengan predikat cum laude tahun 2007. Samasa di kampus ia aktif dalam berbagai kegiatan seminar, kegiatan akademik dan komunitas diskusi. Prestasi utama yang pernah dicapai saat menjadi mahasiswa adalah pada tahun 2006 mengikuti Pelayaran Kebangsaan VI yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikti. Hastangka juga pernah mengikuti berbagai Training yang diselenggarakan oleh SP2MP antara lain Training of Trainer Basic Academic Speech Skills 2006, Training of Trainer Basic Academic Writing Skills 2004 dan Workshop English Language Teaching Proficiency 2006. Pengalaman ke luar negeri pertama kali mengikuti forum Youth Exchange di Budapest, Hungaria,April 2010. Ia juga pernah mengikuti program Civic Exchange: Democracy and Tolerance, two nation exchange di Amerika Serikat:Washington DC, Massachusetts, Boston, Agustus 2010 yang disponsori oleh the US State Department melalui Donahue Institute, Massachusetts University. Ia pernah menjadi presenter pada Seminar International: Education,Language,and MGDs di Bangkok Thailand atas sponsor UNESCO, Bangkok dan Mahidol University, November 2010. Saat ini Hastangka aktif di Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada dan terlibat berbagai penelitian dan pelatihan seperti penelitian Model Pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, hibah DIKTI melalui LPPM tahun 2010. Penelitian tentang ESD studi kasus di Yogyakarta 2010 hibah kluster sosial-humaniora. Penelitian tentang Museum ke-UGM-an: Media Transformatif Pembelajaran nilai-nilai ke-UGM-an dan kebangsaan, hibah unggulan kluster Sosial-Humaniora tahun 2011 dan bersama teman-teman pusat Studi Pancasila menginisiasi forum Pancasila Study Club di Pusat Studi Pancasila, sebuah forum diskusi untuk anak muda yang berbicara tentang kebangsaan dan ke-Indonesia-an dari pemuda untuk bangsa. Hastangka pernah mengikuti Basic Short Course on International Humanitarian Law; workshop on Humanitarian Action Studies, dan moderator dalam sesi kluster Hukum pada International seminar on Humanitarian Action, 2011. Serta peserta International Conference on Knowledge and Values:Methodological Explorations of the Encounters of Science, Religion, and Local Culture,2011 kerjasama CRCS dan ICRS. Maret-Juni 2012, Sejahtra fellow di Tongyeong, Korea Selatan, 22-29 Juli 2012, mengikuti Pelatihan ASEAN-Green Partnership Academy di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan. Saat ini, Ia sedang menempuh S2 Filsafat, UGM dan menjadi staf pengajar tidak tetap di STIKES A Yani Yogyakarta.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?