HIGHLIGHT

Jangan melupakan sejarah

27 Februari 2010 15:39:11 Dibaca :

Dulu……..
Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar tahun 70-an, setiap murid harus hafal apa dasar negara kita, apa lambang negara kita, apa lagu kebangsaan kita, siapa pemimpin negara kita dan semua itu harus hafal diluar kepala kita. Sampai-sampai tidak jarang kita mendapat hukuman karena tidak hafal.
Tetapi…………………………
Sekian tahun kemudian, taruhlah era tahun 90-an keatas, aku mencoba bertanya kepada anak, hal-hal yang menyangkut kenegaraan, contoh apa lagu kebangsaan kita, dia dengan spontan menjawab tidak tahu, apalagi menyanyikannya….
Aku belum yakin, siapa tahu anak penulis memang bodoh dan tidak mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh guru, penulis mencoba bertanya kepada anak-anak tetangga, betapa kagetnya begitu mendapatkan jawaban yang sama dengan anak penulis.
Ironis………………………..
Aku pikir, memang anaknya yang bodoh atau memang didalam kurikulum tidak ada dan penulis mencoba menanyakan, apa tiap hari Senin tidak ada upacara bendera ? Dijawab oleh anak-anak bervariasi, ada yang bilang ada dan ada juga yang mengatakan tidak pernah melaksanakan upacara bendera, padahal era penulis sekolah dulu, dari tingkat sekolah dasar sampai menengah, setiap minggu sekali melaksanakan upacara bendera.
Sering aku menjumpai orang-orang dengan gagahnya menggunakan T-shirt bertuliskan JANGAN MELUPAKAN SEJARAH, menurut pemikiranku tulisan itu baik dan mendidik, serta bertujuan mengingatkan kepada generasi muda untuk tidak melupakan sejarah masa lalu. Tetapi kenyataan yang terjadi, kita akan tercengang dan heran, kenapa justru anak-anak tidak banyak yang mengetahui dan memahami sejarah.
Sekarang ini sudah sangat-sangat jarang, sekolah-sekolah maupun instansi-instansi yang masih mau melaksanakan upacara bendera. Bagaimana bangsa kita akan menghargai sejarah kalau dari usia dini anak-anak kita tidak diajari untuk mengenal sejarah. Untuk itu, pengenalan cinta tanah air sekaligus mengenalkan sejarah harus dimulai sejak anak usia dini.
Cara tersebut, dapat ditanamkan kepada anak sejak usia dini baik di PAUD Non Formal, TK atau RA melalui Tema Tanah Airku, misalnya dengan upacara sederhana setiap hari Senin dengan menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mengucapkan Pancasila. Meskipun lagu Indonesia Raya masih sulit dan panjang untuk ukuran anak usia dini, tetapi dengan membiasakan mengajak menyanyikannya setiap hari Senin, maka anak akan hafal dan bisa memahami isi lagu. Merah Putih bisa diangkat menjadi sub tema pembelajaran.
Kegiatannya bisa diarahkan pada lima aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita anak bisa menghargai dan mencintai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dengan merawat dan menyimpan dengan baik, menghormati bendera ketika dikibarkan, serta tidak untuk permainan.
Guru sudah menyediakan banyak bendera dari kertas dengan ukuran kecil, baik bendera yang salah maupun yang benar. Secara berkelompok 3 anak bergantian, anak mencari bendera yang benar, kemudian dihitung bersama-sama, yang mendapatkan paling banyak, dialah yang menang. Tetapi kepada anak tidak dikatakan siapa yang kalah dan siapa yang menang, yang ada adalah kebersamaan, bendera digabung dan dihitung kembali jumlah bendera yang benar yang diperoleh tiga anak tersebut.
Pada aspek bahasa, anak bisa diajak membuat syair tentang benderaku, menirukan syair yang diucapkan guru, atau anak menceritakan pengalamannya sesudah lomba mengelompokkan bendera.
Kegiatan lain adalah memperingati hari besar nasional dengan kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dengan menunjukkan miniatur candi dan menceritakannya, gambar rumah dan pakaian adat, mengenakan pakaian adat pada hari Kartini, serta mengunjungi museum terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau bermain peran.
Bisa juga diintegrasikan dalam tema lain melalui pembiasaan sikap dan perilaku, misalnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyanyangi sesama dan makhluk Tuhan yang lain, tenggang rasa dan menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adalah juga perwujudan rasa cinta tanah air.
Yang tidak kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu. Dengan menyanyi apalagi jika diiringi dengan musik, anak akan merasa senang, gembira, serta lebih mudah hafal dan memahami pesan yang akan disampaikan guru. Jika lagu wajib nasional dianggap masih terlalu sulit untuk anak, maka guru bisa menciptakan lagu sendiri yang sesuai untuk anak usia dini.
Guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya di sekolah termasuk dalam menciptakan lagu. Lagu untuk anak usia dini biasanya dengan kalimat yang sederhana, mudah diucapkan, mudah dipahami dan dihafalkan. Lagu sebaiknya yang bernada riang gembira, karena hal ini akan merangsang perkembangan otak anak, anak terbiasa untuk selalu riang dalam bekerja, cepat dalam menghadapi dan memutuskan masalah, tidak cepat putus asa.
Sedangkan jika tujuannya hanya untuk memperdengarkan musik pada anak, bisa dengan lagu atau instrumen musik yang lebih halus dan tenang. Misalnya, lagu Kebangsaan Indonesia Pusaka, Syukur, Tanah Air.
Dengan demikian, generasi muda yang akan datang tidak ada lagi yang tidak mengenal sejarah masa lalu.
Ada sedikit pengalaman sekaligus cerita, ketika itu aku mengikuti upacara peringatan hari Pahlawan tanggal 10 Nopember tingkat kabupaten, pada acara tabur bunga sekelompok peserta upacara yang berbaris di kelompok tamu dan undangan, yang kalau kita lihat mereka dari instansi yang terhormat, karena pakaian mereka perlente, menggunakan jas dan berdasi, gagah dan berwibawa. Tetapi ketika pimpinan upacara diikuti tamu undangan yang lain melaksanakan tabur bunga, kelompok yang menggunakan pakaian jas dan berdasi tersebut tidak mau mengikuti dan melaksanakan tabur bunga.
Hati kecil penulis bertanya, ada apa gerangan…..kenapa mereka tidak mau mengikuti tabur bunga? salahkah apabila mereka itu memberikan penghormatan kepada arwah para pahlawan kita?

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?