Kerja Keras Sebatas Wacana

23 Mei 2013 14:03:27 Dibaca :

Presiden SBY mengajak semua elemen strategis melakukan refleksi atas perjalanan Reformasi 15 tahun ini. Presiden SBY berpandangan bahwa sebaiknya kita membuat evaluasi kritis dan jujur atas apa yang telah kita hasilkan dengan reformasi.

"Presiden SBY yakin bahwa yang kita perlukan adalah kontinuitas, bukan jalan pintas. Yang kita perlukan kerja keras, bukan suara keras," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringga, Rabu (22/5).

Jangan terasing oleh hasilnya yang kita sendiri adalah fasilitator utamanya. Sementara kita mendorong perubahan, seharusnya kita juga mampu mengendalikan proses dan dampaknya, termasuk hasil sampingan dan residunya.

Presiden SBY mencermati, sebagian kalangan berpandangan bahwa sekarang ini semua seakan tak berujung, tampak kacau, tampak seperti benang ruwet. Bahkan seperti nasi yang telah menjadi bubur," katanya.

Ajakan Presiden SBY agar semua pihak mendahulukan kerja keras dibanding suara keras, memang ajakan lugas dan cerdas. Namun, yang patut dipertanyakan, kerja keras macam apa sajakah yang telah berhasil dilakukan pemerintah selama ini demi menyejahterakan rakyat ?

Pasalnya, yang kerap menjadi concern banyak kalangan terkait dengan kekurangan pemerintahan SBY selama dua periode, adalah karena dominannya berbagai kebijakan dan pernyataan, yang dipandang dilakukan dalam konteks pencitraan (image building).

Sejumlah kalangan justru menilai, berbagai pernyataan yang dilontarkan Presiden SBY, dalam beberapa haal kerap bertentangan antara das-sein dan das-solen. Para menteri yang berasal dari parpol misalnya pernah diminta agar berkonsentrasi dalam menjalankan tugas sebagai pembantu presiden.

Dan, jika tidak bisa melakoninya, diimbau supaya mundur saja. Tapi, apa lacur, Presiden SBY sendiri beberapa waktu lalu lebih banyak meluangkan waktunya untuk mengurusi partai, karena dia sendiri kemudian menerima tawaran menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Dalam konteks demikian, mungkin ada benarnya, bahwa pihak pemerintah selama ini, tidak merasa perlu melontarkan suara keras. Namun, dengan suara lembut dan santun pun, hasilnya belumlah sejalan dengan ekspektasi rakyat Indonesia. Karenanya, tidak terlalu berlebihan, jika kita nyatakan, imbauan untuk lebih mengutamakan kerja keras itu, tidak lebih sekadar wacana belaka.

harian andalas

/harianandalas

harianandalas lugas dan cerdas
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?