Lanjutan 7 Nafsu Dalam Diri

29 April 2012 20:18:10 Dibaca :

2- LAWWAMAH

Nafsu lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila berlaku suatu kejahatan dosa atas dirinya hingga menyesali, mencerca dan mencelanya, nafsu lawwamah lebih baik sedikit dari nafsu amarah, ia lebih cepat sadar dan menyesali perbuatannya, Perasaan ini sebenarnya timbul dari dorongan yang berupa bisikan dilubuk hatinya disebabkan mengetahui jika itu perbuatan yang tercela. Inilah arti lawwamah, bisikan hati seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara spontan bila tergerak dihatinya, cepat rasa bersalah atas kezaliman pada dirinya dan pada Allah atas keterlanjurannya. taufik dan hidayah Allah yang memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan yang lurus, Rasulullah SAW bersabda: 'Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasehat dari hatinya sendiri' 'Barangsiapa yang hatinya menjadi penasehat baginya, maka Allah akan menjadi pelindung ke atasnya.' Tapi bila seseorang itu sampai pada martabat nafsu ini tapi tiada mengetahui tanda-tanda yang memancar di hatinya, atau ia tiada mengamalkan isyarat yang ada, maka lama-kelamaan isyarat ini akan meredup dan padam, sehingga ia jatuh kembali pada tahap nafsu amarah, sebab itulah sering kita menyaksikan seseorang orang terkadang baik, lalu sekejap berubah jahat kembali, kemudian berubah balik, inilah bulak-baliknya hati yang di sebabkan oleh keadaan nafsunya yang berubah-ubah, seperti Firman Allah: 'Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti mereka (dorongan jahat/Khatar Syaithoni) setelah datang ilmu (Isyarat lawwamah) kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim' (QS Al-Baqarah: 145) 'Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti mereka (dorongan jahat dan keji/Khatar Syaithoni), setelah ilmu di dapati (datang kepadamu) maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu'. (QS Al-Baqarah: 120) Pada tahap ini ia membenci sifat-sifat mazmumah yang ada pada dirinya, tetapi tetap terkadang ia tiada berdaya pada saat digerakan pada perbuatan dosa dan keji itu, dan pada kenyataannya telah berkurang pada dirinya melakukan itu, Keinsafan memancar, sekiranya ia terus mematuhi isyarat lawwamah yang ada, sedikit demi sedikit sifat-sifat keji akan di angkat mufaqat dengan dorongan perbuatan taubat kepada Allah atas perbuatan itu

Pada peringkat ini ia banyak meneliti diri sendiri dan merenung segala kesilapan yang lampau, bila perasaan menyesal datang, orang-orang pada peringkat sangat mudah mengeluarkan air mata penyesalan, kerap menangis dalam shalat, bila sendirian, sewaktu berdzikir atau bershalawat, keluarnya air mata bukanlah disengaja tetapi berlaku secara spontan. Inilah dikatakan sebagai tangisan diri MUHASABAH, ia mulai banyak mengkaji dan meneliti alam dan kejadian, dan sentiasa membandingkan sesuatu dengan dirinya hingga menganggap jasadnya dan seisi alam ini adalah Rahmat dan Rahim dari dzat Yang Maha Penyayang bagi dirinya sebagai sandaran dan jalan untuk dapat mengenal Rabbnya. Ia juga menjadi gila untuk beribadat dan cenderung kepada perbincangan berkaitan soal mengenal diri dan mulai jemu dengan persoalan yang tidak berkaitan dengan agama. Perubahan ini terkadang terjadi mendadak sekiranya kita terjun ke alam tasawuf. Rasulullah SAW bersabda: 'Bahwasanya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada shalat, puasa dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan minuman seperti halnya binatang' 'Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berfikir, dan berfikir perkara duniawi itu mendarurotkan, dan sebaliknya berfikir perkara agama pasti mendatangkan kegembiraan' Pada tahap ini sudah mementingkan akhirat dari dunia. Namun begitu walaupun dibandingkan dengan amarah ia lebih tinggi sedikit, namun sekali-sekala ia tidak terlepas juga dari jatuh kedalam jurang dosa dan kejahatan. Imannya masih belum kuat. Namun ia cepat sadar dan cepat beristigfar minta ampun kepada Allah. Firman Allah: 'Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (Jiwa yang amat menyesali dirinya) (QS Al-Qiyaamah: 2) Sebagai contoh kalau tertinggal sembahyang terdapat perasaan kecut hati dan cepat menyesal sehingga terus pergi qodho'. Isyarat (tanda-tanda) sifat nafsu lawwamah antara lain:

Nafsu LawwamahNafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati,

tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :1. Al-Laum artinya mencela2. Al-Hawa artinya bersenang-senang3. Al-Makr artinya menipu4. Al-’Ujb artinya bangga diri5. Al-Ghibah artinya mengumpat6. Ar-Riya’ artinya pamer amal7. Az-Zhulm artinya zalim8. Al-Kidzb artinya dusta9. Al-ghoflah artinya lupa

Barang siapa yang berdegup di hati terhadap tanda-tanda diatas, maka ia berada pada tahap nafsu lawwamah, terdapat pada kebanyakan orang awam. Sandaran thobi’at untuk dapat menembus dan menyucikan sisa-sisa karat dihatinya pada tahap ini adalah dengan amalan, yakni lebih kuat berzikir lagi untuk menembus dan menyucikan sisa-sisa karat hati. dzikir pada peringakat nafsu ini masih lagi dibibir tetapi kadang-kadang sudah mulai meresap masuk ke lubuk hati tapi dalam keadaan yang tidak istiqamah (tidak tetap), namun memang sudah timbul gila beribadat sehingga kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang terasa seperti hilang dirinya, atau ada semacam kesemutan diseluruh tubuhnya hingga tiada terasa lagi keadaan jasadnya terutama pada bahagian tulang belakang dan tangannya, keadaan beginilah yang menimbulkan keasyikan yang masyuk dengan amalan dzikir atau dengan ibadat-ibadat lain. Pada tahap ini terkadang menerima sedikit ilham dengan merasakan dzauq dan faham, kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru, bila terus menerus patuh dengan petuah dan amalan yang diberi oleh guru, terutama melatih menjaga rahasia dengan apa-apa yang terjadi kecuali pada guru, InsyaAllah ia akan meningkat kepada tahapan nafsu yang berikutnya ..............

Ali Albais

/hakikatcintahamba

kecil,sabar,ulet
Mereka mematuhi ajaran al-Qur’an dan mematuhi amalan dan peraturan yang dicontohkan dari perilaku dan kata-kata Nabi Muharnmad Saw.
Mereka mengikuti panduan tersebut dalam perkataan, dalam bertindak, dalam pemikiran dan dalam perasaan mereka.
Mereka mengikuti maksud di dalam hati atau intisari yang tersirat dan yang terpendam dalam ajaran Islam.
Mereka sangat paham dan tidak mengikuti begitu saja ajaran-ajaran Islam.
Mereka mematuhi ajaran Islam sepenuhnya, menghayati dan menikmati manisnya ajaran dan prinsip agama.
Mereka melakukan ibadah bukan karena paksaan, tetapi mereka merasa nikmat melakukannya. Inilah jalan mistik (keruhanian) yang mereka patuhi.
Mereka adalah kaum pencinta Allah yang sebenarnya.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?