HIGHLIGHT

Virus Kebencian yang Menular bagai Influenza

17 Juni 2012 01:22:07 Dibaca :

Alkisah seorang suami marah-marah dipagi hari pada sang istri dikarenakan sang istri telat bangun sehingga belum masak. Saat berangkat kekantor, sang suami tetap dongkol, sudah kelaparan dijalan macet lagi, dengan motor bututnya sang suami nerobos trotor, sungguh apes ternyata motor tersebut nyerempet mobil, sudah pagi hari kelaparan bertengkar sama istri ditambah kejadian ini emosi sudah di puncak himalaya.

"bapak ndak apa-apa" sang punya mobil berusaha ramah walau sebenarnya dia tidak salah namun pada umumnya perkara mobil dan motor, kebanyakan mobil lah yang di anggap salah

"muke lo peot, bisa nyetir ngak sih"

"ia pak, ma'af bapak ndak apa-apa?" padahal mobilnya sudah tergores parah, namun tetap berusaha sabar

"gila lo ya, kayak gini ndak apa-apa, mata lo ditaruh mana?"

"ok, deh ngak usah panjang lebar, mari saya biayai semua kerugiannya" karena waktu sudah mepet mau bertemu klien

"heh jangan belagak sok kaya, gue juga punya uang, elo tuh tolol elo nilai semua orang dengan uang tolol plus dongo akut lo" sang pengendara motor terus marah meluapkan kekesalan dari kejadian dirumah dan dijalan sampai sang pengendara mobil sudah tidak tahan lagi

"hoi, ayo kita kekantor polisi saja langsung, udah dikasih hati gak tahu diri" luapan amarah pengendara mobil membuat jantung pengendara motor berhenti sejenak deg,

"waduh dompet gua ketinggalan dirumah tadi keburu-buru, kalau kekantor polisi tambah berabe" dalam hati pengendara motor

"sory bro, karena gue keburu-buru kita damai saja" kata pengendara motor

Akhirnya mereka damai, tetapi sang pengendara mobil gagal bertemu klien karena terlambat datang, sang klien suka menilai ketepatan waktu seseorang menentukan kinerja pekerjaannya, hmm sungguh apes.Dalam hati pengendara mobil "asem banget sih tuh pengendara motor udah di baikin malah ngata-ngatain  gue, mana gagal deh ketemu klien apes", hati sang pengendara mobil menggrundal tiba-tiba datanglah sang sekertaris

"tok-tok"

"masuk"

"ini pak tolong ditanda tanganin"

"wek ewek ewk sreet" suara tanda tangan

"aduh pak, kok disitu, tanda tangan bapak seharusnya disini"

"waduh jadi sekertaris kok ngak becus, seharusnya bilang tanda tangan disini, jadi sekertaris yang smart donk, di beritahu pimpinannya jangan asal-asalan gitu ya" ternyata emosi sama pengendara motor masih ada dan apesnya sang sekertaris kena dampret pelampiasan emosi, jelas-jelas yang salah pimpinan, orang ada namanya sendiri kok tanda tangan nama orang lain.

keluarlah sang sekertaris, dari ruang pimpinan dengan perasaan dongkol, sampai tiba-tiba OB datang

"mbak, ini kopinya"

"hay jangan ditaruh di situ, nanti kena berkas saya gimana, kerjaan  sebulanmu ngak akan pernah bisa nganti, jadi OB itu hati-htai ditanya dahulu ditaruh mana, jangan sembarangan jadi OB, gue laporin pimpinan dipecat tahu rasa elo, udah enak-enak ketrerima diperusahaan ini tahu diri donk, elo itu siapa? oe be ebe OB.

Jelas-jelas menurunkan harkat martabat OB, udah pegawai rendahan dicaci maki, mau nyaci maki balik besok makan apa, marah besar itu OB pergilah kekantin makan 2 piring dan jajanan dimakan buat ngeredain emosi akibat perbuatan si sekertaris, tiba saat pembayaran

"waduh pak tarno, lupa bawa uang, sekalian tagihan buat bulan depan gajian ya"

"wasem semprol OB ini" dalam hati penjaga kantin

ya begitu deh, ternyata tindakan tidak menyenangkan kita kepada orang lain merupakan penyakit yang menular, jika seseorang tidak memiliki anti body yang kuat tentu sudah terserang dan tertular peyakit ini. Coba jika kejadian di atas kita balik bukan virus kebencian yang kita berikan tapi virus kebahagiaan, tentu kehidupan kita akan menemui banyak kebahagiaan dan senyum orang lain.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?