Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi. Ayo ikut "Cerahkan Indonesia" dengan berbagi kabar baik. Karena ada banyak hal hebat di dekat kita. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com. Instagram @HadiSantoso08/Twitter @HadiSantoso08

Selanjutnya

Tutup

Bola headline

Inikah Penyebab Kegagalan Indonesia di Piala AFF U-15?

14 Juli 2017   11:25 Diperbarui: 14 Juli 2017   14:52 59 6 6
Inikah Penyebab Kegagalan Indonesia di Piala AFF U-15?
Timnas U-15 Indonesia| Sumber: Dokumentasi twitter @PSSI__FAI

"Taktik kita untuk mencuri poin dan gol di awal pertandingan cukup berhasil tapi tidak diimbangi dengan kekompakan, sehingga tim kami mengalami kesulitan dalam bertahan".

Begitu pernyataan pelatih Timnas U-15 Fachry Husaini dalam rilisnya usai kekalahan 3-7 dari Australia di pertandingan ketiga Piala AFF U-15, Kamis (13/7). Pernyataan Fachry itu yang kemudian dimuat beberapa media di Indonesia. Termasukoleh Harian Kompas hari ini.

Pernyataan itu benar adanya. Anda yang tadi malam menyaksikan penampilan Rendy Juliansyah dan kawan-kawan melalui layar televisi, pastinya juga ikut girang di awal-awal pertandingan. Betapa tidak, di menit kedelapan, Timnas sudah mampu  unggul dua gol lewat gol Amiruddin Bagus Kahfi. Namun, di empat menit berikutnya, Australia malah sudah membalik skor 3-2. Tiga gol cepat itu yang membuat pemain-pemain Indonesia tak berkutik. Berikutnya, Australia menambah dua gol di sisa waktu babak pertama dan dua gol tambahan di babak kedua.

Indonesia yang butuh kemenangan untuk menjaga "cahaya" agar tetap menyala  menuju panggung semifinal, justru dihantam angin kencang yang mematikan cahaya itu. Maka, gelap pun menyapa. Indonesia gagal lolos ke semifinal. Sebab, babak semifinal hanya memilih dua tim peringkat teratas dari enam tim di Grup A yang kini diperebutkan Thailand, Australia dan Myanmar.

Sebelumnya, Indonesia U-15 dikalahkan Thailand 0-1 (11/7) dan bermain 2-2 dengan Myanmar di laga pembuka. Di laga tersisa yang tidak lagi berpengaruh, Indonesia akan bertemu Laos (15/7) dan Singapura (17/7).

"Mengapa Timnas U-15 gagal lolos ke semifinal?". 

"Mengapa Timnas seperti lupa cara meraih kemenangan?". 

"Mungkinkah karena mereka terlena pujian?".....Itu mungkin beberapa pertanyaan yang bisa dimunculkan merespons kegagalan anak asuh Fachry Husaini.

Padahal, Timnas U-15 berangkat ke Thailand dengan bekal keren. Mereka baru saja juara di Turnamen Tien Pong Plastic Cup di Vietnam pada pertengahan Juni lalu. Kala itu, Timnas juara setelah menang 4-1 atas Myanmar, imbang 1-1 melawan Vietnam dan pesta gol 11-0 atas China Taipei. Pun, di laga persahabatan, Indonesia menang 4-0 atas Filipina (21/5) dan 4-0 atas Singapura (8/6)

Lalu, mengapa bekal yang bagus itu seolah lenyap tanpa bekas ketika Timnas tampil di turnamen sesungguhnya? Mengapa?

Ada banyak jawaban yang bisa diapungkan. Misalnya, Indonesia memang berada di grup berat. Satu grup dengan tuan rumah Thailand, Australia dan juga Myanmar. Bandingkan dengan Grup B yang "hanya" berisi Malaysia, Vietnam, Kamboja, Brunei, Timor-Leste, dan Filipina.

Indonesia juga kehilangan salah satu pemain pilarnya, Hamsa Lestaluhu. Pemain asal Tulehu adalah pemain andalan Fachry. Dia adalah motor lini tengah Timnas. Dia juga terpilih jadi pemain terbaik di Turnamen Tien Pong Plastic Cup. Itu memang sebuah kehilangan besar.

Namun, dari semua jawaban, saya sepakat dengan ulasan Nasir Salassa yang dimuat Harian Kompas hari ini. Dia bilang begini "pemain muda jangan terlalu dipuji saat mereka memenangi turnamen yang bukan kalender FIFA. Mereka justru harus dilatih melawan tim yang lebih kuat".

Ya, boleh jadi selama ini kita memang terlalu memberikan puji-pujian kepada Briylian Neghieta dkk menyusul serangkaian hasil bagus yang mereka raih. Mungkin ekspektasi kita terlalu tinggi. Mungkin kita kurang memberikan ruang yang seimbang untuk melihat sisi kekurangan mereka.

Nasir Salassa juga tepat bila menyarankan Timnas usia dini kita harus dilatih melawan tim-tim yang lebih kuat. Sebab, dari sekian tim yang dihadapi Timnas selama masa persiapan menuju Piala AFF U-15, hanya Vietnam dan Myanmar yang terbilang lawan sepadan.

Tengok saja Singapura. Mereka kini jadi juru kunci Grup A. Dari tiga laga, Singapura belum bikin gol dan kemasukan 12 gol (kalah 0-2 dari Laos, 0-8 dari Australia dan 0-2 dari Myanmar). Bagaimana Filipina? Mereka jadi juru kunci Grup B usai dikalahkan Malaysia 2-0 dan dihancurkan 4-0 oleh Kamboja.

Yang jelas, kegagalan ini bukan untuk diratapi. Namun, ini menjadi momentum untuk perbaikan. Bahwa jika ingin mencetak Timnas usia muda yang kuat, kita butuh menggelar kompetisi usia dini yang reguler. Sebab, hanya dengan kompetisi reguler, maka kemampuan pemain belia bisa diasah. Outputnya, pelatih tidak akan kesulitan mencari pemain-pemain yang layak memperkuat Timnas. Selama ini, karena tidak ada kompetisi untuk memantau potensi pemain usia dini, pelatih harus mencari pemain dari seluruh negeri.

Ya, semoga kegagalan ini membuat kita berbenah. Karena memang, sukses itu berjenjang. Sukses itu butuh proses. Tim-tim dengan prestasi hebat, lahir dari tim junior yang hebat. Di level dunia, Anda ingat ketika negara kecil Kroasia tampil mengejutkan di Piala Eropa 1996 dan jadi juara III Piala Dunia 1998? Ternyata, tim hebat itu adalah cikal bakal dari tim muda Yugoslavia yang jadi juara dunia Piala Dunia junior 1987 di Chile. Tim muda itu dihuni pemain-pemain potensial macam Davor Suker, Robert Prosinecki, Robert Jarni.

Ya, kegagalan boleh datang dan lantas jadi kenangan. Tapi yang terpenting, semoga kegagalan itu tidak terus berulang karena kita bisa move on. Move on dengan cara berbenah. Bukan sekadar melupakan seperti halnya anak muda yang putus cinta. Salam.