PILIHAN

Sudahlah Prof

16 Februari 2017 18:55:22 Diperbarui: 16 Februari 2017 19:10:44 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Arsenal kembali menelan pil pahit di kejuaraan Liga Champions Eropa. Yang lebih menyakitkan adalah lawan yang mengalahkan mereka adalah itu- itu lagi. Seperti sudah takdir dalam beberapa tahun belakangan mereka harus kalah dari tim yang sama dan di babak yang sama. Kalah dari Bayern Munchen di babak knock out 16 besar.

Ada apa dengan Arsenal? Mengapa mereka  seperti mendapatkan kutukan ketika harus bertemu lagi dengan Bayern dan kalah lagi. Pada fase group sebenarnya laju Arsenal boleh dibilang mulus, menjadi juara Group. Pada saat yang sama Bayern yang diunggulkan menjadi juara Group malah hanya menjadi Runner Up. 

Bayang bayang bakal bertemu lagi dua raksasa ini sudah terasa karena pada babk 16 ini klub klub di satu negara tidak boleh bertemu dahulu. Dan akhirnya pada saat pengundian takdir berkata kembali bahwa Arsenal harus bertemu Bayern. Tentunya secara kondisi psikis Bayern lebih diuntungkan karena mereka lebih banyak menang dalam pertemuan mereka sebelumnya. Arsenal malah dalam kondisi tertekan karena dituntut harus menang. Dan melepas kutukan gagal di babak 16 besar.

Sampailah pada hari pertandingan tanggal 15 Februari 2017. Pertandingan pertama dihelat di markas Bayern, Allianz Arena. Arsenal datang dengan keyakinan dan semangat yang tinggi. Kemenangan 2-0 atas Hull City pada pertandingan liga Inggris pada hari minggu jelas mendongkrak semangat mereka.

Rupanya yang terjadi dilapangan berbeda dengan yang diatas kertas. Lawan yang mereka hadapi tetaplah salah satu raksasa yang tidak mudah untuk ditumbangkan dengan modal semangat saja. Bayern tetaplah Bayern. Mereka ternyata lebih disiap meladeni permainan terbuka yang coba dikembangkan Arsenal. Taktik Don Carlo ternyata lebih ampuh dari Taktik Sang Profesor. Kehilangan satu pemain belakang seharusnya tidak membuat mental tim sebesar Arsenal goyang. Tetapi yang terjadi dilapangan adalah setelah Koscielny terpaksa keluar akibat cedera pertahanan Arsenal sangat rapuh. 3 gol tanpa balas bersarang sejak bek kawakan tersebut meninggalkan lapangan.

Pertanyaannya adalah sebegitu jauhkah kualitas pemain Arsenal dibandingkan Bayern? Atau memang ini adalah murni kesalahan taktik dari Sang Prof dalam membaca permainan? Kalau penulis melihat adalah ini lebih kepada sang Prof yang tidak mengantisipasi perubahan permainan Bayern. Justru sang Prof memasukkan pemain pemain yang bertipikal menyerang saat tertinggal padahal sebenarnya lebh baik memperkuat lapangan tengah daripada memaksa menyerang. Karena karakter Bayern sama seperti Barca yang akan menusuk cepat apalagi diladeni dengan permainan terbuka.  Hasilnya sudah jelas 4-1 dengan 3 gol bersarang di babak kedua.

Lalu selanjutnya bagaimana? Menang minimal 3-0 tanpa balas di kandang? Memang tidak mustahil tapi sangat berat bagi Arsenal. Belum lagi mereka harus menjaga fokus di Liga Inggris untuk tetap berada di 4 besar. Kalau sampai mereka gagal lolos dari babak 16 besar Liga Champions ini dapat dipastikan musim ini adalah musim terakhir Sang Prof di Arsenal. Tidak ada lagi Major tiltle yang bisa diraih. Hanya tersisa Piala FA dan Piala Liga. Untuk Liga Primer sudah sangat berat karena tertinggal 10 poin dari Chelsea. Desakan Fans dan Tekanan Manajemen dipastikan menjadi alasan yang kuat untuk mengakhiri 21 tahun kariernya di Arsenal.

Satu kata saya titipkan untuk Sang Prof, “Sudahlah Prof….”  serahkan estafet kemereka yang lebih muda. Semua orang tentu akan hormat dengan segala hal yang sudah anda perbuat untuk Arsenal. Tetapi jaman tidak dapat dilawan. Sudah ditakdirkan masa harus berganti. Tidak perlu bersikeras duduk di bangku panas itu lagi. Contohlah Sir Alex yang tau batas waktunya. Percayalah kami fans tetap akan hormat kepada anda.

Salam

Leonardi Gunawan

/ha-eun

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana