PILIHAN

Persib Buang Duit Beli Essien

21 Maret 2017 12:06:58 Diperbarui: 21 Maret 2017 12:25:46 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Pemberitaan media olahraga tanah air banyak mewartakan tentang transfer Essien ke Persib. Wajar, karena Essien memiliki track record yang mentereng. Pernah bermain di berbagai klub elit Eropa seperti Lyon, Chealsea, Madrid, Milan. Untuk mendatangkan pemain seperti ini.

Pastinya Persib mengeluarkan uang ekstra untuk gaji sang pemain. Pastinya honor pemain Persib lain dan pelatih tidak sebanding dengan apa yanh diterima Essien. Pertanyaannya, apakah apa yang dikeluarkan Persib sebanding dengan yang didapat.

Dalam Liga di klib elit Eropa, ada banyak contoh klub justru berhasil saat tidak membeli pemain mahal. Kita masih ingat Inter Milan kerapkali gagal juara meskipun sudah membeli pemain berpredikat termahal seperti Ronaldo atau Vieri, Ibrahimovic. Mereka justru juara 4 kali, juara Champhion dan mengukir rekor kemenangan beruntung terlama dengan pemain sekelas Milito, Goran Pandev dan Etoo. 

Apakah jor joran klub sepakbola Persib dapat membuat liga Indonesia berprestasi di level Asia, atau membawa pengaruh pada penciptaan timnas yang semakin baik. Belajar dari liga Inggris dan AS. Pertumbuhan industri sepakbola dengan kedatangan pemain top dari berbagai negara tidak membawa klub Inggris berprestasi, tidak membuat timnas Inggris menjadi juara dikancah Eropa apalagi Dunia. 

Persib seyogianya belajar dari sejarah. Persib menjadi juara liga profesional pertama saat seluruh pemainnya berasal dari lokal. Anggaran Persib saat itu jauh dibawah klub klub bekas Galatama. Hal yang sama terjadi saat Persib juara liga kedua kalinya. Nama pemain yang tidak mahal mengisi line up. 

Uang untuk Essien aan lebih bermanfaat untuk menghasilkan pemain asal Bandung seperti Atep, Tantan. Ferdinand Sinaga, Febri Harianto. Melalui pemain seperti ini, Persib tidak hanya menghemat dana, sekaligus berkontribusi pada timnas.

Apalah mungkin pemain seperti Essien memiliki motivasi menjuarai liga Indonesia, sedangkan Ia telah pernah menjuarai liga Prancis, Liga Inggris, Piala FA, dan Piala Champhion. Apakah Essien bisa menerima latihan kang Janur, sedangkan ia pernah begitu dekatnya dengan Mourinho.

Apakah Essien masih tergolong sepadan, sedangkan klub seperti Milan dan Pananthianakos mendapatkannya dengan status bebas transfer. Apakah usia 34 tahun masih sama hebatnya saat ia bersama Chealsea?. 

Keinginan untuk mendaptkan prestasi instan pada dasarnya merugikan sepakbola nasional.Dengan kehadiran pemain mahal seperti Essien, publik akan disuguhkan gaya sang pemain, padahal liga Indonesia merupakan liga terunik di dunia, karena diisi oleh klub dengan berbagai filosopi. 

Persib satu dari sedikit klub yang memiliki fans fanatik, fans yang begitu sabar menunggu klubnya juara. Ada atau tanpa Essien, Bobotoh, Viking atau suporter lainnya tetap mendukung Persib. Jadi, aspek bisnispun tidak menjadi alasan Persib mengeluarkan uang yang sangat besar. 

Guntur Saragih

/guntur_saragih

Saya adalah orang yang bermimpi menjadi Guru, bukan sekedar Dosen atau Trainer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana