Politik

Mengapa Habieb Rizieq Takut Pulang?

20 Mei 2017   06:09 Diperbarui: 20 Mei 2017   08:26 2507 9 8

Habieb Rizieq dekat dengan banyak pejabat tinggi termasuk para jenderal. Dia juga akrab dengan orang-orang super kaya. Dan paling utama Riezieq punya massa fanatik yang garang. Mereka siap mati untuk Rizieq.

Pemimpin FPI itu  adalah salah satu orang kuat dan berpengaruh di Indonesia. Tapi mengapa dia takut pulang untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Padahal dia terkenal sebagai tokoh sangat vokal, yang  tidak gentar  berhadapan dengan  aparat hukum Indonesia.

Beberapa alasan yang mungkin, mengapa Rieziq tidak mau pulang adalah sebagai berikut:

Kemungkinan pertama, Rizieq bekerja berdasarkan order atau pesanan. Si pemberi order berpikir orderan telah selesai. Kontrak habis, hubungan kerja putus. Sipemberi order tidak merasa berhutang apa-apa pada Rizieq, karena dia telah menerima upah yang sangat layak.

Sipemberi order sekarang sementara fokus  menjalankan tugas sesuai prosedur hukum positive Indonesia. Mereka berjuang untuk  mengaplikasikan program sesuai koridor politik etis.

Artinya sipemberi order saat ini telah masuk pada strategi tahap kedua, yaitu: Berusaha mengembalikan citra sebagai pemimpin untuk semua golongan. Polarisasi masyarakat yang sengaja diciptakan sebelumnya, sekarang berusaha untuk dihubungkan kembali dan  dicairkan. 

Bermitra dengan Rizieq akan menganggu citra baru yang sementara dipoles itu. Berikut bermitra dengan Rizieq yang radikal itu akan merusak visi politik yang telah mereka rancang dengan melibatkan berbagai pakar dari berbagi disiplin ilmu.

Bukankah visi politik itu rational sifatnya. Sangat dibutuhkan keterampilan managerial, kerja keras dan disiplin tinggi. Seperti kinerja yang telah ditunjukkan Ahok untuk Jakarta.

Kemungkinan kedua, si pemberi order tidak bisa pasang badan lagi untuk melindungi Rizieg dari jeratan hukum. Karena kasus Rizieq terlalu banyak. Lagi pula kwalitas kejahatan yang dibuatnya terlalu besar.

Rizieq bukan hanya melanggar pasal pornografi dan porno aksi. Dia juga menista agama lain,memandang kebudayaan lokal sebagai syrik dan dia melecehkan Panca sila sebagai dasar negara. Bagi sipemberi order membela Rizieq resikonya terlalu besar.

Sekarang kita mengerti, mengapa Rizieq  melarikan diri keluar negeri dengan membawa keluarganya. Padahal dihadapan Ketua Majelis hakim Dwiarso Budi Santiaro,saat sidang perkara Ahok pada 28 Pebuari 2017, Rizieg menuntut agar hakim menahan Ahok untuk mencegah jangan sampai Ahok melarikan diri.

Sekarang kita mengerti. Mengapa Rizieq minta perlindungan HAM kepda  PBB. Padahal Rizieq adalah tokoh yang tidak percaya pada penegakkan Hak Asasi Manusia. Menurutnya HAM itu adalah produk  sekularisme barat yang tidak sesuai dengan paham agama garis keras yang diyakininya.

Bayangkan agama Kristen yang diakui oleh negara, disebutnya agama kafir. Dalam bahasa lain agama minoritas tidak punya hak hidup dibumi Indonesia.   Kalangan LGBT dipandang halal darahnya. Dengan kata lain LGBT itu bukan manusia utuh, mereka tidak punya hak untuk mengaktualisasikan eksistensinya di Indonesia.  Hak Asasi Manusia golongan minoritas telah direndahkannya sedemikian rupa. Dan sekarang dia iminta perlindungan PBB atas nama HAM.

Padahal HAM itu bertentangan dengan ideologi fundamentalis yang diperjuangkan Rizieq. Sedangkan PBB dalam pandangan Rizieq adalah sebuah lembaga dunia yang dipimpin  para bangsat kafir antek Zionis.

Tapi posisi Rizieq  setelah Ahok dipenjara sudah sangat terdesak. Dia tidak mungkin menghindar dari jeratan hukum. Karena Ahok saja yang tidak bersalah bisa dipenjarakan, apalagi Rizieq yang telah nyata-nyata melanggar pasal pornografi, penodaan agama lain dan pelecehan terhadap dasar negara.

Karena itu Rizieq rela menempuh upaya apa saja, walaupun upaya itu memalukan dan mengkhianati perjuangannya. Mengapa?. Karena orang-orang kuat dan orang-orang super kaya yang dahulu mendukungnya, atau yang memanfaatkannya, sekarang pada cuci tangan.

Semua orang besar dan orang kuat yang dahulu mendukung Rizieq, sekarang meninggalkan dirinya sendiri. Seolah-olah Rizieq adalah orang asing yang tidak pernah dikenal mereka. Sungguh tragis nasib Rizieq. Persahabatan dalam dunia politik selalu hanya dalam rangka kepentingan. Jika kepentingan dipandang selesai, maka persahabatanpun selesai.

Sekarang muncul pertanyaan besar.Siapakah yang terpenjara, Ahok atau Rizieq?.

Saat ini Ahok hidup dalam jeruji besi. Tapi jutaan lilin perdamaian dan keadilan dinyalakan diseluruh pelosok tanah air bahkan sampai dikota-kota besar diluar negeri. Solidaritas dari berbagai pemerintah dunia dan lembaga dunia diberikan untuk Ahok.  

Tubuh Ahok dipenjara, tapi roh dan jiwanya hidup bebas dan membakar semangat orang-orang yang cinta akan keadilan dan perdamaian.

Rizieq hidup dalam pelarian, tapi tidak ada dukungan moral dari umat Muslim Indonesia untuknya. Umat Muslim yang rational dan saleh memandang, justru Rizieqlah penista agama Islam yang sebenarnya.

Ahok dipenjara tapi dia menikmati kebebasan jiwa. Sementara Rizieq mungkin sekarang tinggal dihotel berbintang, tapi roh dan jiwanya terpenjara. Rizieq hidup dalam ketakutan, dia dikejar-kejar oleh bayangan kejahatan yang dibuatnya sendiri. Tidurnya pasti diganggu mimpi-mimpi buruk.