Gilang Dejan
Gilang Dejan MAHASISWA

Sepakbola adalah permainan improvisasi terbaik di dunia.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Mencari Suksesor Djadjang Nurdjaman

15 April 2017   12:09 Diperbarui: 15 April 2017   18:52 678 5 3
Mencari Suksesor Djadjang Nurdjaman
Pelatih Persib, Djajang Nurjaman. Sidomi.

Hubungan antara pelatih kepala Djadjang Nurdjaman dengan tim Persib Bandung masih baik-baik saja, tidak ada masalah. Sekalipun Ia gagal mempertahankan trofi Piala Presiden 2017, manajemen tetap mempercayakan kursi pelatih sepenuhnya kepada pria asal Majalengka ini. Lalu apa dasar artikel ini dibuat? Agaknya, rumus keduniawian yang berbunyi; ‘Tak ada yang abadi di dunia ini’, perlu dijadikan dasar pemikiran.

Cepat atau lambat jabatan kepelatihan yang di milikki coach Djanur, sapaan akrab Djadjang Nurdjaman, itu akan tanggal. Entah karena pensiun, dilengserkan, atau maut yang memisahkan. Bukan karena kursi pelatih Maung Bandung selalu panas, mengingat ekspetasi publik terhadap tim pelatih dan pemain selalu tinggi setiap musimnya. Ini hanya soal waktu, semua akan diperbarui sebagaimana mestinya, Coach Djanur pasti akan menerima hukum alam itu.

Sama seperti tim sepakbola lain yang beredar di jagad raya ini. Pergantian pelatih adalah hal yang mutlak terjadi, tidak bisa dihindari. Maka dari itu, penting sekali sebuah perencanaan untuk mencari suksesor pelatih yang masih aktif sejak jauh-jauh hari. Banyak klub yang oleng ketika ditinggal pelatih yang sudah lama menangani tim, contohnya adalah klub Manchester United era Sir Alex Ferguson (1986-2012).

Bisa dibilang, perencanaan yang dilakukan petinggi Setan Merah kurang begitu baik sehingga ada kesan bahwa penunjukan suksesor Ferguson tergesa-gesa dan kurang tepat atau tidak sistematis. Pilihan jatuh pada David Moyes, tapi hasilnya? Hingga saat ini, United masih saja limbung dan bergonta-ganti pelatih dari Louis van Gaal hingga Jose Mourinho. Masalahnya yakni tidak adanya kesinkronan antara filosofi klub dengan persepsi si pelatih itu sendiri.

Lain hal dengan yang terjadi di Juventus, Barcelona, Madrid, Borussia Dortmund, dan Bayern Munchen. Terlepas dari kedigdayaan klub-klub diatas, kaderisasi pelatih berjalan dengan mulus. Saya akan mengambil sampel dari salah satunya, Borussia Dortmund, setelah Juergen Klopp menanggalkan kursi kepelatihannya, manajemen Die Borussien menyiapkan kader pelatih yang mempunyai filosofi serupa. Thomas Tuchel.

Kegiatan apapun itu tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ‘perencanaan’, strategi umum yang sering digunakan oleh organisasi, perusahaan, intansi, sampai klub sepakbola sekalipun. Dapur tim memang menjadi rahasia para petinggi klub, dibalik sebuah keputusan pasti diiringi oleh sebuah alasan. Karena kembali, semua sudah direncanakan sebaik-baiknya. Namun, terkadang pada implementasinya perencanaan tidak sesuai dengan apa yang sudah dirancang.

Coach Djanur merupakan legenda yang juara di tiga jenjang berbeda, sebagai pemain 1986, 1989/90, dan 1993/94. Sebagai assisten pelatih Indra M. Thohir musim 1994/95, sebagai pelatih kepala di Indonesia Super League musim 2014 lalu. Maka bukan hal yang mudah mencari pengganti pelatih yang satu ini.

Atas kesuksesannya selama ini bisa saja Maung Bandung menyodorkan kontrak jangka panjang kepada coach Djanur sehingga kemudian para petinggi klub terbuai oleh waktu yang bergegas maju dengan cepat dan tidak/belum sempat menyiapkan rencana lain jika suatu hari terjadi hal-hal diluar dugaan terhadap kursi kepelatihan tim. Oleh sebab itu, ada beberapa referensi pelatih yang cocok terhadap filosofi permainan Persib yang sudah dihimpun berikut ini.

Kiatisuk Senamuang (Thailand)

Muda, berbakat, dan kaya pengetahuan sepakbola modern. Filosofi sepakbola menghibur dan modern menjadi senjata jitu Kiatisuk, permainan Timnas Thailand tak tertandingi di Asia Tenggara sejak dibesut dirinya. Agaknya, cocok dengan filosofi bermain Pangeran Biru. 

Meskipun Maung Bandung alergi dengan pelatih asing, setidaknya bobotoh masih ingat bagaimana romantisme tim kebanggaannya ketika bekerja sama dengan orang Thailand. Shintaweecai dan Suchao Nuchnum pernah meninggalkan kesan manis selama di Persib.

Setelah di depak oleh federasi sepakbola Thailand sebagai pelatih kepala Timnas Senior, Zico-nya Thailand ini sedang mencari klub. Dalam beberapa kesempatan dirinya sangat berminat dan terkesan dengan sepakbola Indonesia. Walaupun Tim Garuda sendiri kerap menjadi lawannya di Piala AFF maupun ajang lainnya.

Dejan Gluscevic (Serbia)

Eks pemain Mastrans Bandung Raya (MBR) ini cukup mumpuni saat beralih profesi menjadi pelatih. Ia hobi mengorbitkan pemain muda, Timnas Junior Singapura pernah dibuatnya perkasa. Hal tersebut sangat sejalan dengan kultur sepakbola Bandung khususnya Persib. Maung Bandung kerap perkasa ketika dihuni oleh pemain lokal, apalagi saat ini PSSI tengah gencar-gencarnya mensosialisasikan pemain muda di kompetisi utama.

Mengandalkan Local Youth, Dejan rasa-rasanya akan berkembang jika kembali ke Indonesia sebagai juru taktik. Beberapa klub tanah air sempat dikait-kaitkan dengan dirinya, salah satunya adalah Persija Jakarta. Sepertinya, nuansa romantisme Dejan sebagai striker yang ditakuti di seantero nusantara di era Perserikatan ingin diputar kembali walaupun dengan profesi yang berbeda.

Ketidakcocokan kursi pelatih Persib dengan juru taktik asing agaknya perlu dipinggirkan, Dejan pernah mengukir kisah sukses di Bandung meskipun dengan klub lain.

Miljan Radovic (Serbia)

Lagi, kandidat lain muncul dengan paspor Serbia. Siapa yang tak kenal Radovic, seorang pemain yang punya visi bermain luar biasa di lapangan tengah, selain itu Ia juga dikenal sebagai eksekutor handal saat berbaju Persib. Walaupun berkategori pelatih asing, sebagai mantan pemain Maung Bandung Radovic agaknya fasih betul filosofi tim ini.

Setidaknya, Ia sempat mengenali tekanan yang dihadirkan oleh bobotoh. Radovic juga sempat dikaitkan dengan beberapa klub nasional, Persija Jakarta, Persela Lamongan, hingga Persib Bandung sendiri saat kursi kepelatihan ditinggal Djanur musim lalu. Suami dari Jelena Radovic ini tengah bersiap untuk kembali ke sepakbola Indonesia, kapanpun Ia dibutuhkan.

Nova Arianto (Indonesia)

Kali ini, kandidat muncul dari WNI asli yang juga mantan pemain Persib Bandung. ‘Suster Ngesot’ beruntung pernah didaulat sebagai assisten pelatih di klub PBR dan PSS Sleman. Hal tersebut sangat penting bagi keberlangsungan karir kepelatihan pria berkepala plontos ini.

Putra pelatih kawakan Sartono Anwar ini memiliki potensi besar, bersama Madiun Putra FC di ISC B 2016 Ia menerapkan ilmu kepelatihan yang diperoleh dari berbagai kursus lisensi. Hasilnya, Ia bisa dikatakan sebagai pelatih masa depan Indonesia. Beberapa media nasional sempat menyebutnya sebagai Pep Guardiola versi Indonesia. Kebersamaannya dengan Persib membuat dirinya tidak asing lagi ketika memasuki dapur tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini.

Itulah beberapa referensi untuk sekadar antisipasi dini bilamana terjadi hal-hal diluar dugaan di masa jabatan Coach Djanur. Bukan ranah seorang penulis merekomendasikan perencanaan semacam itu, mengingat sudah ada bagian-bagian tertentu di dalam klub yang mengatur itu semua. Maka, saat ini juga saya ingin memposisikan diri sebagai manusia yang sedang berandai-andai atau bahasa sehari-harinya; melamun jauh.