Giens
Giens lainnya

I like reading, thinking, and writing.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tak Sengaja HL Hingga Tulisan Diculik Admin

17 Agustus 2017   21:24 Diperbarui: 17 Agustus 2017   22:12 213 7 5

Saya resmi memiliki akun Kompasiana sejak 6 Juli 2013. Dengan nama akun yang tetap sama dan satu-satunya, saya menapaki hari-hari bersama Kompasiana. Secara hitungan tahun, usia sudah lebih dari tiga, tapi soal kontribusi rasanya memang masih di bawah semenjana.

Suatu saat saya pernah mencermati  bahwa secara statistik saya menayangkan sekira 0,2 artikel per hari. Ini berarti saya (se)harus(nya) 5 kali lebih produktif untuk bisa mempraktikkan semboyan One Day -- One Article. Oke, cuma itu saja statistik yang berani saya ceritakan, mengingat beberapa saat sebelumnya tiba-tiba saja Kompasiana mengadakan diskon besar-besaran; jumlah hit (pembaca), artikel pilihan (highlight), dan artikel HL (headline) tiba-tiba berkurang nilainya secara signifikan. Alhasil, capaian yang tadinya cuma sedikit itu makin meliliput, saya makin malu menceritakannya. #wkwkwk

Mulanya Silent Reader

Mungkin seperti banyak kompasianer lain, sebelum mendaftar sebagai anggota kompasiana, saya lebih dulu menjadi pembaca yang tak bisa komen--tak bisa nge-vote (atau nge-rate). Istilah kerennya silent reader. Tak lama saya menjadi silent reader karena segera terpancing untuk ikut menulis.

Mengawali dengan Fiksi

Tulisan pertama saya di Kompasiana memang bergenre fiksi. Mungkin itu fiksi paling ruwet di alam semesta. Tak mengherankan jika admin menganggapnya tak ada sehingga sangat sedikit pembacanya. Hanya ada satu kompasianer yang berkomentar di bawahnya. Secara statistik terlihat ada dua komentar di sana karena saya memberikan tanggapan atas komentarnya. Sayangnya, proses perkembangan teknologi Kompasiana beberapa waktu kemudian menghilangkan komen kompasianer di lapak akunnya sendiri. Maka komentar di tulisan itu tinggal satu. Masih untung tidak ikut dihilangkan, tetap positif mikirnya.

Tak Sengaja HL

Kira-kira satu bulan sejak posting tulisan pertama di Kompasiana, ada tulisan saya yang berjudul "Horcrux Partai Politik" masuk kotak animasi. Ya, itu kotak berisi daftar beberapa tulisan dan gambar yang berganti-ganti secara siklis. Waktu itu saya beranggapan kalau semua tulisan Kompasianer akan masuk kotak animasi itu dulu. Beberapa tulisan saya sebelumnya memang tidak saya kawal keberadaannya sehingga saya pikir kemarin memang tidak sempat menyaksikan tulisan-tulisan saya mejeng di kotak animasi itu.

Awalnya saya mengira semua tulisan akan dimampirkan ke sana. Betul, waktu itu saya tak paham soal kasta tulisan di Kompasiana. Belakangan, dari hasil ngintip komen di berbagai tulisan kompasianer lain, akhirnya saya tahu kalau tulisan yang masuk kotak animasi itu merupakan headline (HL), kasta tertinggi untuk tulisan di Kompasiana. Hanya tulisan yang dimasukkan kategori HL yang akan mejeng di kotak animasi di halaman Kompasiana.

Yang namanya tak sengaja itu memang susah diulang. Maka hingga sekarang saya kesulitan untuk "menempatkan" tulisan saya di kotak HL. Karena kalau disengaja malah tak bisa-bisa.

Kenangan Dashboard Informatif

Ini kenangan soal dashboard kompasiana zaman dulu yang menurut saya lebih informatif dibandingkan setelah diubah kemudian. Dashboard Kompasiana yang dulu, selain memuat statistik pemilik akun juga menampilkan statistik tiap artikel di bawah judul artikel-artikel tersebut. Jadi bisa dilihat dari "luar".Tidak seperti sekarang, harus membuka artikelnya dulu untuk bisa tahu statistik artikel tersebut.

Dashboard tiap akun juga dilengkapi "nomor halaman" yang memungkinkan seseorang langsung mengakses tulisan pemilik akun tersebut di halaman tertentu. Tidak seperti sekarang, untuk mengakses tulisan yang sudah lama harus scrolling setahap demi setahap.

Selain itu, fasilitas notifikasi juga ada. Kompasianer mendapat notifikasi jika artikelnya dikomentari atau ada komentarnya mendapat tanggapan.

Tampilan dashboard Kompasiana yang sekarang memang lebih menarik dari sisi visual, tetapi dari sisi informasinya justru mengalami penurunan.

Gara-Gara Admin Ngantuk, Saya Divonis Berjiwa Kerdil

Ini pengalaman aneh. Suatu malam saya posting tulisan. Anehnya, tulisan saya itu nempel pada nama kompasianer lain. Kebetulan kompasianer tersebut sudah punya reputasi yang bagus (artikelnya sering Hoal-Hael). Alhasil, saya dapat inbox protes dari pemilik akun tersebut.

"Maaf, Anda siapa?....bla..bla..bla" yang intinya menanyakan kenapa saya menggunakan namanya untuk posting tulisan. Saya juga kaget kok bisa demikian, tapi saya jelaskan kemudian mungkin Kompasiana sedang error yang kali itu agak keterlaluan. Saya sarankan untuk me-refresh supaya tampilannya kembali pada kaidah kebenarannya. Tapi sampai lama pesan saya tak mendapat tanggapan. Saya jadi tambah marketing (penasaran-red).

Namun, akhirnya tanggapan itu datang juga. Beliau memakluminya dan akan menghapus tulisan terbarunya yang menginformasikan bahwa artikel (yang saya tulis) itu palsu. Saya agak shock juga. Sedemikian masygulnya sampai merilis "konferensi pers" yang menyatakan bahwa artikel tulisan saya itu bukan tulisannya.

Iseng saya googling untuk memastikan artikel "black campaign" tentang artikel saya sudah raib dari Kompasiana. Hasilnya?

Ternyata masih ada di Kompasiana mobile. Membaca isinya, saya tambah shock jadinya. Karena pada tulisan itu akun saya "dihajar" habis-habisan. Di bagian akhir malah ada kalimat yang menyatakan bahwa saya berjiwa kerdil karena tidak mau mengakui diri saya sendiri. Dalem banget! Cilomot memang. Tapi ya sudah. Wong sebenarnya yang salah itu keadaan. #sok_bijak

Saya berusaha memaklumi. Yang namanya error memang kadang-kadang mirip telor asing yang menetas menjadi kesalahpahaman. Yang namanya admin juga manusia. Ada yang sumbunya panjang, ada yang sumbunya pendek. Ada yang panjang antenanya, ada yang panjang serabutnya saja. Tetap manusia, tak luput dari dosa.

Tulisan Diculik Admin

Ini error juga tapi versi "false alarm". Gara-gara fitur sensor-sensoran a.k.a crossword filtering, maka kata-kata yang dianggap mewakili ketidakpantasan ditahan oleh lembaga pengadminan. Dengan kata lain, tulisan yang mencurigakan akan diculik oleh admin.

Memang diculik, karena saat ditayangkan ada peringatan error dan sebenarnya tulisan itu tetap tayang, hanya saja tidak di bawah akun penulisnya. Di akun Kompasianer penulisnya, tulisan itu tidak terdaftar. Biasanya tulisan itu akan dikembalikan setelah beberapa hari. Mungkin diinterogasi dulu dan dilepas setelah diyakini tidak membahayakan.

Banyak yang jadi korban, banyak yang menyuarakan ketidaknyamanan. Karena sepertinya tak sesuai impian, malah bikin rumit permasalahan. Entahlah crossword filtering itu masih diberlakukan apa tidak.

Memilih Kategori Tulisan

Saya merasa tidak memiliki keahlian spesifik. Pengetahuan cuma setengah ke sana, setengah ke sini, setengah ke situ. Maka sering loncat sana-sini, kadang fiksi, kadang nonfiksi, kadang kombinasi, kadang bingung sendiri. Karena setelah saya pikir-pikir sambil baca-baca referensi, saya lebih suka menulis "bebas" dengan ide yang saya olah sendiri. Saya hampir tidak "tega" menulis reportase karena tidak boleh sambil ngarang-ngarang sendiri. Untunglah di masa kini, tidak ada lagi pembedaan subkategori reportase dan opini pada form yang harus dilengkapi saat posting tulisan di Kompasiana.

Inspirasi dari Kompasianer Lain

Dengan membaca saya bisa memperoleh inspirasi. Saya akui, banyak ide tulisan saya bersumber dari tulisan Kompasianer lain. Bukan berarti menyontek. Karena yang saya lihat justru apa yang belum ada di tulisan tersebut. Bahkan tak jarang ide saya justru kebalikan dari ide tulisan kompasianer lain tersebut.

Menjumpai  Karakter Unik Kompasianer

Nah ini yang serasa tak ada habisnya. Kompasianer banyak macamnya. Kalau pas pemilu biasanya ada kubu-kubuan, saling serang secara tulisan meski genre-nya ngawur-ngawuran. Meski ngawur, ada yang ngawurnya elegan, ada yang belepotan. Ada yang masih menghormati logika orang kebanyakan, ada yang bawaannya memaksakan pendapat dan kemauan.

Kalau pas iseng, saya ikut komen, nge-bully kompasianer sohibul tulisan "aneh" pengkhianat logika atau perilis komentar tak karuan terutama provokator SARA dan perusak citra agama. Satu dua kali ketemu yang emosian sehingga terpaksa berbalas komentar berkepanjangan. Ada asyiknya, ada porsi adrenalin yang seakan memperoleh jalur pelepasannya. Ada juga gak asyiknya, karena kadang harus menyensor kalimat yang hendak ditulis demi menjaga adab dan budaya sebagai manusia Indonesia yang rahmatan lil alamin agamanya.

Kompasiana Terus Berkembang, ...

 Sekarang Kompasiana makin berkembang. Tampilannya makin elegan enak dipandang. Para penulis berkualitas makin berdatangan dengan ide-ide segar berkelanjutan. Hanya saja sedikit disayangkan, error-nya juga ikut berkelanjutan. Belakangan jumlah 'hits' pada tulisan pun kembali didiskon besar-besaran entah dengan algoritma usulan siapa, bahkan logika pemrograman pun seakan dikhianati dengan adanya statistik jumlah pembaca yang lebih sedikit daripada komentar maupun nilai/vote-nya. Entah ada opsi pembatalan pembacaan artikel oleh pembaca yang menyesal, ada pemberlakuan sistem noken, atau ada hukuman/penalti dari admin pada penulis artikel berupa pengurangan jumlah hits. Ah, sudahlah.. sabodo teuing. (17/08/2017)