Gapey Sandy
Gapey Sandy Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Keblinger, Mblenger

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Media headline featured highlight

Liviana dan Hari Pers Nasional 2016

9 Februari 2016   12:57 Diperbarui: 9 Februari 2017   10:50 3732 28 15
Liviana dan Hari Pers Nasional 2016
Jurnalis Kompas TV, Liviana Cherlisa Latief. (Foto: Google+ Liviana Cherlisa)

Selasa, 9 Februari 2016 ini diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Pemusatan seremonialnya berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menariknya, HPN yang tahun ini mengusung tema Pers Yang Merdeka Mendorong Poros Maritim dan Pariwisata, disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam sejarah HPN.

Disebut terbesar sepanjang sejarah karena penyambutan dan rangkaian acaranya begitu megah juga meriah. Termasuk, manakala ratusan wartawan, pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sampai jajaran pimpinan TNI menggelar Sail of Journalist. Menumpang KRI Makassar milik TNI AL dari Surabaya sampai ke Pulau Lombok, pelayaran para jurnalis itu berlangsung Jumat hingga Sabtu (5 – 6 Februari).

Adapun puncak acara HPN digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, dengan dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo.

Demi ikut memeriahkan HPN, Selasa pagi ini, saya menelepon Liviana Cherlisa Latief, jurnalis Kompas TV, untuk meminta pendapatnya seputar HPN dan dunia jurnalistik.

“Kemajuan Pers Nasional saat ini adalah kita lebih bebas berekspresi. Pers di masa sekarang beda banget dengan masa dulu. Kalau kita ingat, Pers di masa Ibu Sumita Tobing---mantan Dirut Perjan TVRI yang memperoleh penghargaan dari Kompas TV atas sosoknya yang dianggap inspiratif, membuka perubahan dan membuat pergerakan di Indonesia---umpamanya. Beliau bahkan sempat berhenti karirnya karena mengomentari Pemerintahan. Sementara kita sekarang sudah berbalik 180 derajat, kita bisa ngomongin Pemerintah apa saja, asal konteksnya kita tidak menghina, dan tetap mengkritik Pemerintah untuk arah yang positif. Itu salah satu contoh kebebasan sekarang, jadi beda banget dengan Pers zaman dulu,” ujar Livi yang bergabung dengan Kompas TV sejak Maret 2012.

Media Sosial semakin menunjukkan perannya. Liviana Cherlisa, jurnalis Kompas TV. (Foto: Google+ Liviana Cherlisa)
Media Sosial semakin menunjukkan perannya. Liviana Cherlisa, jurnalis Kompas TV. (Foto: Google+ Liviana Cherlisa)

Tapi, kata Livi---sapaan akrabnya---, kemajuan Pers Nasional yang bebas berekspresi seperti ini, oleh beberapa oknum justru malah membuat mereka menjadi kebablasan. “Menurut aku pribadi, kebebasan Pers untuk berekspresi ini merupakan sebuah kemajuan sekaligus kemunduran,” kata jurnalis dan news anchor yang pernah bekerja di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) periode 2010 – 2012 ini.

Dampak kebebasan Pers Nasional saat ini, dibenarkan oleh Livi berdampak kepada publik yang seolah-olah hanya menjadi konsumen bulan-bulanan kepentingan media massa atau Pers. “Ya itu benar. Tetapi, dengan kebebasan Pers justru lebih banyak manfaatnya karena publik jadi lebih  tahu, misalnya tentang sebuah kebijakan Pemerintah yang justru malah berpotensi merugikan mereka. Atau misalnya lagi, program-program Pemerintah mungkin masih bisa dikritisi lagi, sehingga lebih memiliki manfaat, pro rakyat dan punya dampak besar kepada publik,” tutur pemilik tanggal lahir 9 Desember 1989 ini.

Livi memberi contoh tentang bagaimana ekspresi kebebasan Pers saat ini, dengan pemeo yang dikatakannya sebagai ibarat “Mencari Hakim dalam Satu Kasus”. Maksudnya, dalam penayangan sebuah kasus, media massa biasanya akan mencari tahu kebenaran suatu kasus dengan menghadirkan para ahli yang nantinya akan mengeluarkan opini.

“Dengan opini para ahli ini, sebenarnya kita sebagai insan Pers ingin tahu, sebenarnya kasus ini arahnya akan kemana, tapi kadang-kadang, mungkin untuk beberapa orang justru melihatnya sebagai terlalu cepat. Contoh, proses hukumnya saja belum sampai pada tahap yang dibicarakan oleh media massa, tapi Pers jutsru sudah selangkah lebih maju. Hal seperti ini, kadang-kadang yang justru menimbulkan dampak positif sekaligus negatif. Dalam konteks ini, media massa sebenarnya tidak membentuk opini, tapi justru opini itu yang terbentuk dari setiap apa yang dimunculkan oleh media massa. Disinilah, jurnalis harus berhati-hati, apalagi ada etika untuk menghormati asas praduga tak bersalah,” urai Livi yang ternyata punya kemampuan beladiri bak bik buk alias taekwondo.

Liviana Cherlisa ketika menjadi pemandu dialog secara off air. (Foto: Gapey Sandy)
Liviana Cherlisa ketika menjadi pemandu dialog secara off air. (Foto: Gapey Sandy)

Livi mencontohkan kasus ‘Kopi Sianida’ yang menewaskan korban bernama Mirna. Ketika kasus itu bergulir, seluruh dunia seperti sudah bisa menebak siapa tersangka pelaku yang membubuhkan sianida ke gelas kopi, yaitu tersangka ‘JSC’. “Sebelum pihak kepolisian menetapkan JSC sebagai tersangka, semuanya seperti sudah meyakini bahwa dialah tersangkanya. Hal ini dikarenakan opini publik yang terbentuk didalam masyarakat,” jelas Livi yang memang kuliah di Ilmu Komunikasi jurusan Broadcasting.

Dalam konteks opini publik yang meyakini bahwa ‘JSC’ adalah tersangka pelaku kasus ‘Kopi Sianida’, sergah Livi, media massa dalam posisi tidak bersalah. Alasannya? Media massa mengungkapkan fakta-fakta yang ada di lapangan.

“Insan Pers atau kita, berusaha untuk menggali fakta-fakta yang ada. Kita juga tidak berusaha untuk meng-create atau membentuk opini secara asal-asalan. Justru yang kita sajikan adalah rentetan seperti ini, mulai dari JSC yang menjadi saksi spesial, lalu rumah JSC yang digeledah, kemudian JSC dianggap sebagai saksi kunci, lalu kita meramu pendapat dari pihak-pihak yang terkait, lalu kita tambahkan lagi dari saksi-saksi ahli yang dipanggil pihak berwajib. Nah, dari sekian banyak saksi, hanya JSC yang didampingi psikiater ahli untuk menjalani pemeriksaan. Lalu tidak lama kemudian, rumah JSC digeledah, dan diteruskan dengan pembantunya yang menjadi saksi kunci karena ternyata ada ketidakcocokan antara alibi celana JSC yang robek, dengan keterangan pembantu JSC yang mengaku disuruh buang celana tersebut. Nah, sebetulnya fakta-fakta ini yang kita deliver ke publik, tapi secara enggak langsung akhirnya membentuk opini,” papar empunya darah Maluku Utara dari sang ayahanda ini.

Menurut Livi lagi, karena men-deliver fakta-fakta yang ada di lapangan dan kemudian secara tidak langsung membentuk opini publik, maka imbasnya kembali kepada insan Pers itu sendiri. “Kita harus pintar-pintar meramu kata, memilih kalimat, dan men-deliver faktanya juga harus dengan cara yang tepat. Sehingga akhirnya, apa yang dilakukan media massa menjadi bagus, karena pada akhirnya benar-benar pihak kepolisian menetapkan JSC sebagai tersangka. Coba kalau akhirnya JSC enggak ditetapkan sebagai tersangka, maka media massa memiliki tanggung-jawab terhadap yang bersangkutan,” tegas Livi yang punya hobi diving dan snorkeling.

Liviana Cherlisa (kiri) ketika memandu talkshow di Kantor Pusat JNE, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)
Liviana Cherlisa (kiri) ketika memandu talkshow di Kantor Pusat JNE, Jakarta. (Foto: Gapey Sandy)

Dengan terbentuknya opini publik terhadap suatu kasus, karena suguhan informasi dan fakta-fakta di lapangan yang disajikan oleh Pers, kata Livi, bukan merupakan dosa media. “Media mengarahkan pembentukan opini? Aku rasa itu bukan dosa besar. Yang namanya media itu, memang dia punya tugas untuk menginformasikan segala sesuatu. Dengan informasi yang dihadirkan, kalau kemudian masyarakat menelan mentah-mentah maka otomatis itu akan membentuk opini seseorang. Tapi, itu justru tidak berlaku bagi masyarakat yang bisa mengkritisi media. Jadi sebetulnya, pembentukan opini publik oleh media massa, kalau dianggap sebagai suatu kesalahan atau dosa besar media massa, buat aku enggak juga begitu. Semua itu tergantung bagaimana masyarakat menerimanya,” ujar Livi.

Tapi, Livi tidak menampik bahwa setiap media massa punya agenda masing-masing terkait penelusuran suatu kasus. “Agenda yang tersembunyi oleh media massa, menurut aku, bukan harus menyebutnya sebagai sesuatu yang halal atau haram. Kita ambil contoh misalnya, kasus yang sempat ramai belum lama ini, tentang layanan aplikasi GoJek dengan Kementerian Perhubungan. Waktu itu, GoJek sempat dilarang beroperasi sama sekali oleh Departemen Perhubungan. Tapi kemudian, media massa tidak langsung menelan mentah-mentah kebijakan pelarangan tersebut. Meskipun pelarangan GoJek dari sisi Departemen Perhubungan ini tetap kita angkat dengan alasan pelanggaran undang-undang dan peraturan segala macam, tapi kita juga mengkritisi bahwa Pemerintah belum bisa menghadirkan tranportasi publik yang nyaman, aman dan betul-betul dibutuhkan publik sebagai alternatif transportasi yang sudah sekarang,” urai Livi yang pada usia 19 tahun sudah menjajal kontes Miss Indonesia 2009.

Media Sosial, Tantangan Terbesar Jurnalis

Buat Livi, salah satu tantangan sulit yang dihadapi insan Pers adalah kecenderungan untuk bersikap tidak netral karena pengaruh kuat dari sang pemilik modal media massa. “Kita sebagai anak buah, enggak akan bisa ngapa-ngapain. Tapi, tidak semua seperti itu. Mungkin ada yang menggunakan hal-hal seperti itu, tapi saya rasa pun pasti yang digunakan adalah bukan media yang besar, karena terlalu sayang kalau kita punya media yang besar tetapi dipergunakan untuk kepentingan golongan tertentu. Kecuali, memang itu merupakan agenda besar dari sang pemilik atau pemegang saham,” tuturnya.

Menghadapi dominasi pemodal media massa yang memanfaatkan medianya demi kepentingan agenda-agenda khusus pemiliknya, ungkap Livi, membuat banyak dari teman-teman sesama jurnalis yang merasa jengah sehingga terpaksa mengundurkan diri lalu pindah ke media lain yang netral atau lebih netral. “Tetapi tidak sedikit juga yang memilih untuk bertahan,” ujarnya.

Jurnalis Kompas TV, Liviana Cherlisa Latief. (Foto: Profile Picture WhatsApp Liviana Cherlisa)
Jurnalis Kompas TV, Liviana Cherlisa Latief. (Foto: Profile Picture WhatsApp Liviana Cherlisa)

Selain dominasi pemodal yang membuat medianya menjadi tidak netral, menurut Livi, tantangan insan Pers berikutnya adalah peran media sosial yang sangat besar. “Tantangan terbesar bagi jurnalis masa kini adalah media sosial yang semakin punya peran. Karena, sekarang ini masyarakat sudah seperti kayak wartawan. Jadi, kita yang merupakan wartawan beneran harus bisa lebih netral, juga melakukancheck and balance yang semakin detil dan lebih ketat. Kenapa? Karena, masyarakat bisa menelan apapun yang dimuat media massa secara mentah-mentah, lalu di-capture, kemudian di-share ke media-media sosial, dan terbentuklah opini publik. Setelah itu semua, giliran kita nih dari media massa yang harus membenahinya. Hahahaaa … sekarang kan sebagian berlangsung kayak begitu,” ungkap Livi seraya tergelak.

Ambil contoh ketika kasus pengeboman di Gedung Sarinah, Jakarta, belum lama ini. Semua orang seolah berebut ingin menjadi ‘wartawan’ atau ‘wartawan dadakan’.

“Alasannya, karena semua orang ingin berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Semua orang ingin mengabarkan kondisi di lapangan. Semua orang juga ingin menjadi pengamat, semua orang ingin punya argumen sendiri. Nah, ini yang terkadang bikin miris. Kita masih ingat waktu ada Pesawat Hercules jatuh di Medan, sempat heboh ada foto di media-media sosial tentang ibu-ibu yang justru berfotoselfie di lokasi musibah. Hal ini membuktikan bahwa mereka ingin menunjukkan atau menginformasikan kepada semua orang tentang keberadaan mereka di TKP. Padahal, sebenarnya ini pekerjaan rumah dari wartawan sehingga berarti pula wartawan harus men-delivery lebih banyak lagi informasi untuk mengenyangkan hasrat masyarakat yang ingin sekali tahu dan ingin sekali berada langsung di lokasi TKP,” jelas Livi yang kini bermukim di Tangerang Selatan.

Wawancara Paling Menarik

Sepanjang berkarir sebagai jurnalis, Livi mengaku pernah mengalami wawancara yang dirasa paling menarik dengan narasumber. “Yaitu ketika mewawancarai salah seorang tokoh di ibukota yang merupakan anggota DPRD DKI Jakarta. Waktu itu, usai wawancara live, sang narasumber merasa kesal, dan menelepon ke kantor redaksi Kompas TV untuk mengatakan bahwa dirinya tidak akan lagi bersedia diwawancarai kalau pewawancaranya adalah aku, hahahaaaa ...,” ungkap Livi sambil tertawa.

Kenapa sampai begitu? “Ceritanya, dalam wawancara live yang memiliki keterbatasan durasi, aku membahas bersama sang narasumber tentang isu upaya pelengseran Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok oleh DPRD DKI Jakarta. Pertanyaanku waktu itu menukik tentang kebenaran isu menggulirkan Hak Angket oleh DPRD DKI Jakarta demi memberhentikan Ahok. Juga, kenapa musti Hak Angket, bukankah ada langkah-langkah lain yang bisa ditempuh terlebih dahulu. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan aku ke narasumber yang politisi ini seolah tidak dijawab. Ia malah mengajukan jawaban yang muter-muter, dan mungkin bisa membuat aku sebagai interviewer lupa akan pertanyaanku sendiri. Maklumlah, narasumberku ini politisi,” tutur empunya wajah oval ini.

Liviana Cherlisa ketika menjadi pemandu dialog di JNE. (Foto: Gapey Sandy)
Liviana Cherlisa ketika menjadi pemandu dialog di JNE. (Foto: Gapey Sandy)

Karena merasa kurang memperoleh jawaban yang diharapkan, Livi akhirnya terpaksa berbicara sekaligus mengingatkan kembali kepada narasumber tadi. “Saya akhirnya jadi mengatakan, ‘Maaf Bapak, Bapak belum jawab pertanyaan saya’. Aku pikir, apa yang aku katakana ini santun, karena sebelumnya aku menyatakan permohonan maaf. Cuma, kayaknya dia tersinggung. Dia marah! Di televisi secara langsung, dia bilang,‘Kamu tuh enggak mengerti hukum! Saya itu, lulusan S2 jurusan Ilmu Hukum. Saya tuh lebih mengerti hukum dibandingkan kamu’. Nah, kemudian aku tekankan lagi ke narasumber, ‘Iya Bapak, tapi Bapak belum jawab pertanyaan saya tentang soal ini, ini dan ini ... Sambil aku jelaskan ke narasumber. Akhirnya narasumber aku menjawab, tetapi tetap jawabannya muter-muter. Karena sudah ‘panas’ maka dialog pun dihentikan, karena kita menjaga juga jangan sampai narasumber ini emosi lalu keceplosan bicara yang tidak patut di siaran langsung televisi. Bisa-bisa kita juga yang dikasih peringatan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) nantinya,” kenang Livi yang menyebut bahwa itu pengalaman pertama dirinya dimarah-marahi oleh narasumber.

Gara-gara dialog yang narasumbernya emosi itu, terang Livi, kemudian ada message ke kantor redaksi yang intinya mempertanyakan siapa nama pewawancara yang tadi, dan penolakan untuk melakukan wawancara lagi bila pewawancaranya masih jurnalis yang sama. “Hahahaaa … sampe begitu lho, Mas! Padahal, aku tuh tipikal orang yang tidak suka basa-basi kalau wawancara misalnya untuk penggalian fakta. Akuenggak bisa muter-muter dulu nanyanya, lalu bermuka manis-manis, dan kembali kepada pertanyaan semula untuk memperoleh jawaban narasumber. Aku enggak bisa kayak gitu, susah Mas, apalagi kita berpacu dengan keterbatasan durasi,” tutur Livi.

Untunglah, kata Livi, pihak kantor tidak mempersoalkan masalah ini. “Justru kantorku malah suka dengan kasus aku. Mereka suka karena meskipun aku dimarah-marahi sama narasumber dalam dialog secara live, tapi aku tidak langsung down. Aku tetap maju dan menyelesaikan agenda dialog sesuai arahan semula. Tapi, semua ini justru menjadi pelajaran buat aku. Pelajarannya adalah kita harus pintar-pintar tahu karakter narasumber. Karena, tidak semua narasumber bisa ‘ditembak’ dengan pertanyaan yang tanpa basa-basi begitu. Pelajaran ini penting karena sebenarnya, akan lebih baik kalau dialog aku dengan narasumber yang sensitif ini tidak harus menimbulkan ‘drama’ seperti tadi. Apalagi, Kompas TV ini bukan media massa yang menawarkan banyak ‘drama’ seperti itu. Jadi, ya begitulah,” jelas Livi.

Sebagai jurnalis yang banyak melakukan wawancara, Livi mengaku paling tidak bisa melakukan wawancara dengan berbagai persyaratan sebelumnya. “Aku palingenggak bisa, Mas, kalau wawancara terus pertanyaannya diatur ini dan itu saja, termasuk tidak boleh menanyakan hal ini dan hal itu lainnya. Padahal, apa-apa yang tidak boleh ditanyakan itu justru menjadi agenda yang akan ditampilkan, hahahahaaa ... Wawancara yang diatur terlebih dahulu seperti ini, buat aku adalah yang paling susah, Mas. Tapi kadangkala, apa yang dilarang untuk ditanyakan itu aku tetap tanyakan juga, dan hasilnya, narasumberku marah juga ke aku, lho Mas … hahahahaaaa,” Livi tergelak.

Logo HPN 2016 di Nusa Tenggara Barat. (Sumber: metropolitan.id)
Logo HPN 2016 di Nusa Tenggara Barat. (Sumber: metropolitan.id)

Pesan untuk Jurnalis Muda

Enam tahun sudah Livi berkarir sebagai jurnalis di media televisi. Sebuah pencapaian yang lumayan. Karena itu, Livi berpesan kepada calon dan jurnalis muda, untuk melakukan pekerjaan secara CEPAT sebagai tuntutan, sekaligus AKURAT fakta dan datanya sebagai kewajiban.

“Ini yang membedakan pekerjaan kita dengan masyarakat yang kini berjiwa wartawan. Jadi, kepada calon dan para jurnalis muda, jangan terburu-buru menyiarkan berita, tetapi akhirnya malah merugikan orang-orang yang akan kita beritakan. Tuntutan kantor akan semakin banyak, apalagi kini televisi berita bertambah jumlahnya dan terus berlomba menyiarkan berita. Makanya, calon dan jurnalis muda harus lebih cepat, tepat dan akurat dalam menyiarkan berita,” pesan Livi yang kerapkali tampil menjadi moderator diskusi secara off air.