Sebelas Bulan untuk 30 Hari, Sebuah Tradisi?

09 Agustus 2012 18:11:46 Dibaca :

RITUAL-ritual bernuansa Islami sepanjang Ramadan itu sudah lazimnya. Tapi, puasa dan kaitannya dengan kebutuhan sandang pangan itu ritual badani. Sungguh elok apabila kita bisa bertahan dalam batas kewajaran, sebagaimana hari-hari biasa sebelum dan sesudah Ramadan.

Dengan berpuasa, frekuensi memenuhi panggilan perut tentunya berkurang. Tapi, kok malah boros. Puasa itu intinya menahan atau lomba makan? Puasa bukan pesta, Lebaran bukan tujuan.

Sebagaimana dilansir oleh media pada pertengahan Juli lalu bahwa, arus barang mengalir deras untuk persediaan selama Ramadan dan Lebaran. Artinya, kebutuhan sembako meningkat tajam. Tentu ada alasannya. Yang jelas, bukan disebabkan secara tiba-tiba jumlah penduduk meledak. Pertanyaannya adalah, apakah dengan berpuasa lantas kebutuhan kita membengkak?

Fenomena ‘perburuan sandang pangan’ itu semakin jelas pada puncaknya dalam minggu terakhir menjelang Lebaran. Tampak pusat-pusat perbelanjaan dipadati pengunjung yang ingin berbelanja. Silih berganti orang yang keluar masuk pasar, toko, dan mall. Lebih ramai dari hari-hari biasa. Dari pedagang kali lima sampai pramuniaga kewalahan melayani pembeli.

Kue lebaran pasti diserbu oleh ibu-ibu. Baik yang dijual toplesan, kalengan, kotakan, maupun kiloan laris manis. Demikian pula pakaian. Tidak sedikit yang mengejarnya. Apalagi yang diobral, laku keras. Tidak peduli isi dompet ludes. Yang penting keinginan kesampaian, seolah-olah jadi motto.

Untuk menyemarakkan Ramadan, di beberapa daerah (khususnya Kalsel) digelar Pasar Wadai. Pasar kuliner yang menjadi event tahunan ini beroperasi sejak awal puasa. Buka selepas tengah hari hingga menjelang magrib. Berbagai jenis makanan siap saji dan kudapan khas daerah untuk berbuka dijual di pasar tersebut. Nah, di mana ada stan Pasar Wadai, di situ pembeli berjubel setiap hari. Syukurlah kalau menu berbuka tidak untuk maksud melampiaskan ‘balas dendam’.

Memang, keinginan manusia itu tidak terbatas dan akan terus terbit seiring tuntutan hidupnya. Dan kebutuhan primer tak bisa ditunda-tunda pemenuhannya. Namun, terkadang kita lalai. Keinginan yang seharusnya terkendali tidak terkontrol. Sehingga kita cenderung mendahulukan yang sunat, menomorsekiankan yang wajib. Yang ada dirasa kurang. Kalau apa adanya, katanya gak gaul.

Puasa, tapi nafsu tetap diumbar. Raga dimanja, jiwa telantar. Bagaimana mungkin diri ini bisa dekat dengan Tuhan kalau kebendaan amat lekat di hati dan pikiran.

Akan tetapi, itulah gaya hidup. Telah membudaya di sebagian masyarakat. Apakah hasil jerih payah selama sebelas bulan digelontorkan hanya untuk biaya hidup satu bulan? Entahlah. Bukan hak kita memvonis itu salah ini benar. Sebab, kebenaran di muka bumi ini semu. Yang lebih tahu tentu yang menjalani. Kita punya prinsip, alasan, dan pandangan yang berbeda-beda. Siapa pun bebas memilih jalan hidup yang disukai.

Hidup ini tidak sesederhana dan serumit yang kita cermati. Hidup di dunia hanya sekali, hiduplah yang berarti. Syukuri apa yang dianugerahi, nikmati apa adanya setulus hati, dan hadapi apa pun yang terjadi. Ikhlas hidup, ikhlas sampai mati.

Selamat menunaikan ibadah puasa. (GR, 10/08/2012)

Galih Rakaysiwah

/galihrakaysiwah

Biasa-biasa saja, tengah-tengah, dan kadang-kadang...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?