Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@Volkshochschule,a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", a Tripadvisor level 6

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan headline

Hati-hati, Tersedak Bisa Merenggut Nyawa Orang di Sekitar Anda

19 Juni 2017   16:09 Diperbarui: 19 Juni 2017   23:01 43 11 6
Hati-hati, Tersedak Bisa Merenggut Nyawa Orang di Sekitar Anda
Penanganan anak yang tersedak. Sumber ilustrasi: child-matters.co.uk

Suatu hari, saya bangun pagi lalu mengubah fly mode jadi online. Beberapa email masuk, salah satunya dari koran online Jerman yang memberitakan seorang balita dari negara bagian Hessen, tersedak di Holiday Park Hagerloch pada 28 Mei 2017.

Si anak dikabarkan tiba-tiba tergeletak karena tersedak sosis. Tim penyelamat taman ria yang dihubungi tak punya kotak P3K, sehingga tak mampu mengatasi masalah. Felix yang dalam keadaan biru, segera dibawa ke rumah sakit Diakonissen-Stifftungs Krankenhaus. Setelah dirawat, nyawa si bocah tak tertolong dan meninggal pada 13 Juni 2017.

Ughh. Bayangkan sedih dan marahnya si ibu. 

Ya. Mati karena tersedak makanan pada anak-anak di Jerman bukan pertama kalinya terjadi. Pada tahun yang sama, di bulan Januari, seorang anak umur 5 tahun meninggal di sekolah taman kanak-kanak karena tersedak selagi makan.

Apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang tersedak?

Saya ingat betul ketika anak kami yang kedua, main ke tempat tetangga. Waktu itu ia masih 5 tahun tapi karena pemberani, saya nggak khawatir. Apalagi rumah tetangga cuma seberangan rumah.

Tak berapa lama, anak pulang sambil nangis. Ia lapor habis saja tersedak dan tenggorokannya sekarang sakit. Mengapa? Karena begitu ia tersedak Bonbon (permen), tetangga dari Amerika merogoh kerongkongannya. Lho, kok merogoh? Bahaya! Tenggorokan bisa rusak dan infeksi, bukan?

Pelukan erat saya setidaknya membuat dia nggak mingsek-mingsek lagi nangisnya. Harusnya, anak saya itu diberi pertolongan pertama seperti yang terlihat dalam film Mrs. Doubtfire. Ingat, si Robbie William itu mengambil posisi di belakang pasien lalu merangkul perut dengan kedua tangan yang berpegangan lalu ditarik-tarik ke belakang selama beberapa kali sampai keluar barang penyebab tersedak dari tenggorokan. 

Apa yang dilakukan Robbie pada orang dewasa, bisa diberikan pada balita dan anak-anak juga (dengan berlutut demi menyamakan ketinggian badan) secara hati-hati. Setelahnya, jika sudah keluar tapi kondisi mengkhawatirkan bisa menghubungi dokter atau rumah sakit.

Eh, bagaimana dengan pertolongan pada bayi? Pangku bayi. Badan bayi dibalik atau mengarah ke bawah, dan ditepuk bagian tengah-tengah, antara punggung selama beberapa kali. Atau bisa berhadap-hadapan dengan penolong dan ditekan bagian tengah di dadanya selama 5 kali. Itu seperti yang terlihat di gambar sosialiasi P3K di Jerman.

Oalahhh, bocah, tersedak. Kalau anaknya sakit, ibunya ikut ngerasain sakit tak hanya karena pernah terhubung oleh meteran plasenta selama 9 bulan 10 hari.

Beberapa menit berlalu, ia lupa dan riang gembira bermain dengan anak tetangga tapi kejadian itu nggak pernah hilang di ingatan saya. Mulai saat itu, anak saya atur agar lapor di mana dan ke mana perginya. Harus izin, biar orang tua ikut mengawasi. Dikasih jam pula, kapan harus makan, kapan harus pulang. Kalau terlalu lama, ditelepon atau dicari. Percaya itu baik tapi kontrol semakin baik.

P3K ketika tersedak (dok.Erstehilfe.de)
P3K ketika tersedak (dok.Erstehilfe.de)

Barang-barang apa saja penyebab tersedak?

Selain sosis dan permen, makanan yang banyak dikonsumsi di Jerman dengan beragam rasa, bahan dan ukuran, rupanya masih banyak penyebab tersedak dan berbahaya. Antara lain:

  1. Anggur
    Seorang facebooker berakun "Finlee and Me" menyebarkan hasil rontgen seorang anak yang tersedak anggur. Gelondongannya masih utuh di dalam tubuh. Gambarnya di-share 4,4 K.

    Sarannya, agar orang tua memotong anggur atau tomat ketika akan diberikan kepada anak-anak demi menghindari tersedak. Namanya anak-anak kadang kalau makan sambil lari-lari, ngomong, nyanyi, main atau lunjak-lunjak. Bisa bahaya.

  2. Mainan yang terlalu kecil
    Mengapa di setiap kardus mainan tertulis atau terpampang gambar anak di bawah 3 tahun dilarang memilikinya? Karena ada bagian-bagian kecil yang rawan masuk mulut anak-anak. Apalagi anak-anak umur segitu paling penasaran dengan barang baru dan dimasukkan ke mulut. Untung hidung lubangnya dua, ia masih bisa bernafas jadi masih hidup. Bahaya kalau kelereng masuk mulut dan tersedak karena satu-satunya jalan bernafas tertutup.

    Aduh, jadi ingat! Suatu hari, saya bingung mencari SDHC card kamera yang hilang. Saya pikir pasti terjatuh dari meja. Tak berapa lama, saya pandangi bungsu kami yang waktu itu masih umur 2 tahun. Dia tampak diam dekat meja, sembari menatap mata saya. Biasanya, kalau saya lihat dia, dia akan bilang, "Mama... mama..." Ini kok, nggak? Haaa... curiga. Segera saya buka mulutnya. Di sanalah saya nemu kartu yang hilang. Ya, Allah, untung nggak kenapa-kenapa. Pelajaran berharga untuk nggak sembarangan menaruh kartu mini.

  3. Koin (uang)
    Miris jika lihat anak dapat koin dari ibunya dan memasukkan ke dalam mulut, dikeluarin lagi, dimasukkan lagi. Bisa saja kejadian tersedak, bukan? Segera ingatkan anak-anak yang memasukkan benda kecil di dalam mulutnya.

  4. Kacang-kacangan
    Waktu liburan bersama, anak dari kompasianer Eberle lagi makan kacang. Kami berada di sekitarnya. Terlihat ia lunjak-lunjak, kemudian terbatuk-batuk tersedak. Ya, ampuuun. Segera saya tepuk punggungnya berkali-kali, tangannya berhasil menadah kacang pengganggu.

  5. Kelereng
    Suami saya cerita kalau sahabatnya di SD pernah bermain kelereng bersamanya dan tiba-tiba memasukannya ke lubang hidung buat lucu-lucuan. Akibatnya, kelereng nggak bisa keluar dan harus dioperasi di rumah sakit. Untung si teman selamat. Kalau ketemu sekarang umurnya hampir 50 tahun, ia ngakak ingat kelereng salah masuk. Bayangkan kalau anak masukin kelereng ke mulut?

  6. Popcorn
    Anak-anak saya paling suka makan popcorn. Sebabnya, itu adalah makanan wajib bagi penonton bioskop. Ketika mereka masih kecil dan diajak pertama kali nonton dan beli popcorn rasanya selangit. Maklum, jarang ke bioskop karena suka nonton bersama di rumah lewat Appletv. Nah, dari situ, anak-anak jadi kecanduan makan popcorn. Bentuknya yang kecil dan keras itu juga bisa menjadi penyebab tersedak pada anak-anak, bukan?


***

Dari kejadian-kejadian yang kami alami dan pemberitaan di media massa, saya kira ada langkah pencegahan agar anak atau orang tidak tersedak:

  • Memotong makanan lebih kecil,
  • Mengunyah makanan dengan benar dan lebih lama,
  • Dalam keadaan tenang ketika makan,
  • Jangan makan dengan mulut penuh sambil ngobrol (selain bahaya, tidak etis),
  • Bernafas dengan sempurna,
  • dan masih banyak lagi.

Kemarin dulu, anak kami yang kedua ikut kemah palang merah dalam rangka liburan Pfingsten selama dua minggu. Sudah saya pesen soal tersedak, supaya dia ikut hati-hati. Saya pikir itu akan jadi nasihat yang akan diingatnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, selama kami tidak bisa mengawasinya. 

Tersedak memang hal lumrah yang sering dan cepat terjadi dalam hidup, tetapi ingat, ini bisa jadi menimbulkan masalah problematis pada pasien seperti di Jerman, bahkan sampai teregang nyawanya. (G76)