PILIHAN

Sehat Itu Mudah dan Mandilah Sebelum Subuh

23 September 2016 23:13:40 Diperbarui: 23 September 2016 23:45:31 Dibaca : Komentar : Nilai :
Sehat Itu Mudah dan Mandilah Sebelum Subuh
ilustrasi gambar (sumber ; muhammdfath.tumblr.com)

Sebagian orang mungkin akan enggan melakukan mandi di waktu pagi, apa lagi di pagi buta (waktu Subuh). Mandi pagi biasa setelah temaram pun mungkin masih sulit untuk bangun. Alih-alih mau bangkit dari tempat tidur, mungkin memeluk bantal guling. Suasana pagi yang dingin tentu akan membuat nikmat tidur di dalam selimut. Penulis memang pernah merasakan demikian. Begitu juga barangkali pembaca pernah juga mengalaminya, bukan ?

Kita bisa melihat dan berkaca kepada para orang tua dahulu atau bisa jadi kepada kakek dan nenek kita. Mereka bisa berusia panjang dan masih bisa melakukan aktifitas di usia senja mereka. Berangkat pagi sehabis Subuh adalah rutinitas mereka dalam mencari nafkah. Penulis masih menemukan orang-orang tua yang sampai sekarang masih tetap sehat meskipun keriput wajah sudah menampakkan di rona wajahnya. Biasanya ini lazim kita temukan banyak di perkampungan. Para orang tua di kampung-kampung kebanyakkan petani.

Bahkan diantara mereka masih kuat ke ladang atau bercocok tanam. Mereka ternyata sudah senang hidupnya dengan rutinitas demikian. Mungkin dikarenakan udara masih segar disana dibandingkan di perkotaan. Barangkali bisa jadi iya. Bila kita lihat dari dekat diperkampungan ini pola hidup sehat dan kebugaran mereka ternyata mereka sudah terbiasa bangun diwaktu sebelum Subuh.
Berikut pengalaman penulis dalam mendapatkan tips sehat dari kaki gunung di Sumatera Barat.

Ngarai Pariangan dengan latar belakang Gn. Marapi (2891 mdpl), Kab. Tanah Datar, Sumbar (sumber ; www.skyscrapercity.com)
Ngarai Pariangan dengan latar belakang Gn. Marapi (2891 mdpl), Kab. Tanah Datar, Sumbar (sumber ; www.skyscrapercity.com)

Beranjak dari mendaki gunung.

Sebagai orang yang punya hobby penggiat di alam bebas (petualang) dulunya, penulis mendapatkan pengalaman tentang resep hidup sehat dari seorang bapak tua yang tinggal di kaki gunung di Sumatera Barat. Ketika itu sekitar tahun 2002, penulis dan beberapa teman (5 orang) pergi mendaki gunung yakni Gunung Marapi (2891 mdpl) di Sumatera Barat. Ada 2 (dua) jalur pendakian di gunung ini. Pertama, dari Nagari Koto Baru (jalan raya antara Kota Padang Panjang – Bukittinggi). Jalur ini adalah jalur umum untuk pendakian. Jalur ini selalu ramai oleh para pendaki gunung tiap minggunya. Kedua, jalur dari Nagari Pariangan atau Nagari SImabur, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari yang dijuluki sebagai Nagari Tuo (negeri tua) yang disebut-sebut sebagai asal-usul penduduk Ranah Minang dalam legendanya. Jalur ini jarang di daki oleh pendaki gunung. Mungkin karena jalur tersebut terlalu jauh dan treknya panjang.

Penulis bersama teman di Gn. Marapi (2891 mdpl), Prov. Sumbar. Terlihat latar belakang Gn. Tandikek (kiri) dan Gn. Singgalang (kanan) (dokpri ; F. Tanjung)
Penulis bersama teman di Gn. Marapi (2891 mdpl), Prov. Sumbar. Terlihat latar belakang Gn. Tandikek (kiri) dan Gn. Singgalang (kanan) (dokpri ; F. Tanjung)

Dari jalur ke dua itulah penulis dengan teman menempuhnya untuk turun gunung. Sesampainya di bawah di suatu perkampungan hujan turun dengan intensitas sedang. Saat itu sudah menjelang sore. Kami memutuskan untuk menumpang istirahat sementara di salah satu rumah penduduk. Dan Alhamdulillah, rumah yang kami tuju itu seorang perempuan paruh baya bersedia memberikan izin pelataran teras rumahnya sebagai tempat istirahat. Tak lama seorang bapak tua datang ke rumah itu. Yang ternyata adalah pemilik rumah. Kami pun berkenalan dan bercerita singkat tentang pendakian ini.

Setelah basa-basi,  datang hidangan ringan dengan teh hangat yang diantarkan oleh anak perempuannya. Inilah salah satu bentuk keramah-tamahan penduduk di kampung-kampung. Sementara hujan pun turun makin deras. Akhirnya melihat kondisi cuaca demikian, tuan rumah menyarankan untuk menginap semalam dulu. Dan mengatakan juga bahwa jam segini mobil yang ke Padang sudah tidak ada lagi. Belum lagi jalan kaki menuju jalan besar memakan waktu 1 jam lebih kurang.

Akhirnya kami memutuskan menerima tawaran yang baik hati itu untuk menginap semalam. Kami pun diajak makan malam oleh keluarga yang sangat ramah ini. Sehabis makan malam, beberapa teman sudah ada yang tertidur pulas. Disamping hujan belum reda ditambah lagi dengan hawa dingin di kaki gunung membuat tidurnya semakin lelap, heheheheh.....saking letihnya habis turun gunung.

Penulis masih bisa menahan kantuk saat itu. Untuk mengurangi kantuk penulis dan seorang teman perempuan yang juga masih belum mau tidur menemani bapak tua itu bincang-bincang. Sementara udara semakin dingin menggigit membuat jaket dibadan harus ditutupi lagi dengan selimut. Sang bapak itu memaklumi demikian. Sesudah menyeruput kopinya, bapak itu memberikan tips / saran kalau mau tetap segar dan tidak kedinginan seperti ini, bawalah mandi di waktu Subuh atau kalau dapat sebelum Subuh.

Kami pun awalnya sedikit tercengang mendengar penjelasan bapak tua itu. Betapa tidak, apa lagi di kaki gunung mandi di pagi-pagi buta itu apa sanggup ? Di kota saja belum tentu ada yang mau. Bapak yang murah senyum ini memberikan alasannya. Begini kira-kira uraiannya (redaksional kalimatnya penulis seting tanpa mengurangi essensi penyampaiannya) ;

“Bahwa hal ini sudah turun temurun diterapkan oleh orang-orang kampung. Banyak diantara mereka yang sampai saat ini masih hidup dan berusia panjang. Dan masih kuat pergi ke sawah atau ke ladang. Mandi di pagi-pagi buta waktu Subuh atau sebelumnya memang awalnya terasa dingin. Tetapi setelah disiram dengan pelan dan berurutan dari kaki terus ke badan dan selanjutnya langsung diguyur ke seluruh tubuh, dingin itu akan seperti rasa dingin biasa. Setelah selesai maka akan terasa suasana kesegaran yang beda dari biasanya kita mandi setelah matahari terbit. Justru mandi setelah matahari terbit akan membuat tubuh akan cepat terasa dingin kembali. Berbeda dengan saat kita mandi di waktu Subuh. Karena setelah matahari terbit menuju siangnya, tubuh akan terasa ringan dan ada tumbuh semangat. Mau hari panas atau hujan, tubuh akan tetap stabil. Dan kita pun tidak cepat lelah”. Begitulah kira-kira penjabaran dari bapak tersebut (penulis lupa namanya) dengan panjang lebar.  

Memang penjelasan beliau tidak bersifat medis, tapi karena pengalamannya itu sudah mendapatkan manfaat, maka bapak itu menjelaskannya dengan percaya diri. Penulis pun hanya manggut-manggut saja. Bahkan yang sedikit lucunya, beliau mencontohkannya dengan ayam jantan yang berkokok di waktu sebelum Subuh. Itu juga pertanda agar manusia segera bangun dan bersiap-siap menjalankan aktifitasnya setelah sebelumnya menunaikan sholat Subuh. Artinya, “jangan sampai rezeki itu dipatok ayam pula”, candanya sambil tertawa. Dan kami pun tertawa jadinya.

Karena malam sudah larut kami pun beranjak istirahat di ruang tengah. Dan esok paginya kami pun akan siap pamit dari tuan rumah. Saking terlelapnya kami tidur, bangunnya pun matahari telah terbit. Meskipun kabut masih menyelimuti suasana perkampungan di kaki gunung itu. Terlihat hidangan untuk sarapan pagi telah tersaji di sudut dekat ruang tamu. Kami pun tak ada yang berani mandi di pagi itu. Yaah...., disamping rasa capek yang masih melekat juga pengaruh hawa dingin yang menusuk tulang membuat tubuh enggan menyentuh air.

Sementara bapak itu sudah berangkat ke ladang habis sholat Subuh tadi kata isterinya. Setelah sarapan pagi kami pun beres-beres untuk siap pamit. Tak lupa membantu ibu itu membersihkan piring makan kami oleh teman perempuan. Setelah beres, kami pun pamit kepada ibu tersebut dan tak lupa memberikan sedikit tips kepada salah satu anaknya yang masih sekolah dasar. Meskipun sempat di tolak awalnya, tapi akhirnya dengan sedikit memaksa si anak menerimanya juga. Begitulah keluhuran budi orang-orang di kampung. Menolong orang tidak mengharapkan balas jasa.

Menemani orang tua ke rumah sakit.

Selang beberapa bulan berselang, penulis menemani orang tua perempuan ke rumah sakit untuk cek kesehatannya di salah satu rumah sakit swasta di Padang. Di situ penulis jadi teringat dengan cerita bapak tua yang mengingatkan manfaat mandi sebelum waktu Subuh. Lantas dalam kesempatan yang ada penulis tanyakan ke dokter (penulis pun juga lupa namanya) yang memeriksa ibu penulis tentang hal manfaat mandi di waktu sebelum Subuh.

Beruntung juga dokter tersebut mau memberikan penjelasan singkat. "Intinya, itu sangat bagus sekali buat daya tahan tubuh. Sirkulasi jaringan dalam tubuh menjadi lancar dan sehat. Karena ada unsur ion oksigen yang segar masuk ke dalam tubuh, jadinya proses sirkulasi jaringan tubuh itu menjadi stabil dan kuat. Dan kita tidak mudah terserang penyakit. Jika masyarakat mau membiasakan diri untuk mandi di waktu sebelum Subuh itu maka mungkin pasien yang berobat ke rumah sakit akan sepi’, katanya sambil tertawa kecil. Begitulah kira-kira penyampaian singkatnya yang penulis masih ingat sampai sekarang. Karena keterbatasan waktu juga kami pun selesai urusan cek kesehatan ibu penulis. Karena masih ada antrian buat pasien lain.

Melihat pengalaman dari bapak tua itu dan mempertanyakan hal tersebut kepada dokter, maka penulis menjadi yakin akan resep hidup sehat yang sederhana ini. Dan penulis mencobanya juga untuk membuat lebih percaya lagi.

Setelah menyetel jam beker pada angka 04.30, penulis beranjak tidur sekitar pukul 22.00 WIB. Pada awal-awalnya memang terasa berat untuk bangun di waktu tersebut di hari-hari biasa. Mungkin berbeda di waktu bulan Ramadhan. Dimana di bulan puasa itu seperti sudah “dipaksakan” waktu bangun yang lebih awal sebelum masuk waktu Subuh. Dan kebanyakan mungkin juga sebagian orang di bulan puasa enggan melakukan mandi di pagi buta itu.

Dingin tetap terasa menyentuh tubuh. Tapi pelan sesuai petunjuk bapak tua itu, penulis memulai menyiram dari kaki, terus ke bagian perut, dan seterusnya mengguyur ke seluruh tubuh. Tetap merasakan hawa dingin, tapi disini rasa sensasinya. Rasa yang didapatkan berupa nuansa yang segar dari biasanya mandi di waktu lain.

Rasa dingin itu akhirnya bisa terkondisikan (adaptasi) dengan stabil di tubuh. Begitu selesai mandi, nuansa kesegaran merasuki ke semua tubuh. Kepala terasa segar dan ringan. Kulit pun merasa padat. Mata terasa jernih memandang. Pada siang harinya tubuh tidak mudah lelah. Panas matahari pun tidak begitu dirasakan. Pendek kata tubuh ini selalu merasa enjoy. Serta percaya diri pun meningkat. Inilah kali pertama penulis mencpba mandi di wkatu pagi buta. 

Kegiatan mandi sebelum Subuh ini penulis lakukan tidaklah rutin tiap hari. Tidak harus dilakukan tiap hari. Pokoknya dalam seminggu itu ada minimal 2 (dua) kali. Mengingat terkadang juga penulis tidur sedikit larut malam. Tapi disaat bulan Ramadhan hadir, bisa dikatakan dalam seminggu itu maksimal 4 (empat) kali. Dan selama puasa pun tubuh tetap fit dan segar.

Disamping itu manfaat lainnya juga bisa memulihkan  dan meningkatkan daya kerja otak. Terbukti disaat menulis artikel ini, ingatan memory lama bisa ditampilkan kembali. Bagi orang yang bekerja kantoran / guru /dosen /peneliti sebagai analisis, sangat baik sekali baginya.

Diskusi lanjut dengan Dokter Psykiater.

Penulis pernah juga bertanya dan diskusi dengan seorang dokter psykiater di Padang. Ketika itu ada acara kegiatan bakti sosial di salah satu masjid di Kota Padang sekitar tahun 2005. Dr. JS. Noerdin, seorang ahli Psykiater juga mengatakan, “mandi sebelum Subuh sangat bagus itu dilakukan. Jika saja semua orang tahu akan khasiat mandi sebelum Shubuh, tentu rumah sakit akan berkurang pasiennya. Begitu juga dengan masalah gangguan kejiwaan akan berkurang drastis pasiennya”, ujarnya. Lho...., teringat juga jadinya dengan dokter satu lagi yang komennya hampir sama....ehh..eeh...heheh.

Beliau juga menyampaikan, kalaulah ini sudah dibiasakan sejak remaja tentu bangsa ini akan menjadi bangsa yang tangguh dan kuat. Bukan sekedar bangsa yang besar dari segi jumlah penduduk. Tapi besar dari segi produktifitasnya. Artinya pemuda-pemuda kita akan memiliki semangat etos kerja yang tinggi. Karena manfaat mandi sebelum Subuh itu luar biasa.

Salah satu untuk menciptakan atau mendapatkan imun tubuh (daya tahan) itu secara alami adalah mandi di waktu sebelum Shubuh. Akan terjadi peningkatan proses metabolisme tubuh dari biasanya. Sel darah putih akan meningkat sebagai tameng dari virus-virus yang bisa melemahkan tubuh. Juga bisa mengatasi stress dan depresi yang berkelebihan. Beliau pun sendiri rutin mandi di waktu sebelum Subuh.

Jadi begitulah kira-kira penjelasan dokter kejiwaan tersebut yang penulis masih ingat saat ini. Dengan demikian, jelas sudah akan manfaat yang besar didapatkan. Dari pengalaman seorang bapak tua yang tinggal di kaki gunung itulah penulis bisa merubah paradigma tentang khasiat mandi di pagi buta.

Dan memang di satu sisi, hal rezeki itu didapatkan tidaklah harus dengan materi semata. Tapi juga pengalaman hidup seseorang yang kita dapatkan untuk kesehatan  juga adalah merupakan nikmat rezeki tersendiri. Karena kita pun pernah juga mendengar istilah, bahwa kesehatan itu merupakan anugerah dan  nikmat yang terbesar dalam hidup.

Mungkin juga kita pernah berjumpa dengan kawan lama yang sudah lama tak bertemu, lantas pasti ada yang terucap, “gimana....apa kabar, sehatkan....?”. Tentu hal itu akrab ditelinga kita bila berjumpa dengan teman baik off line maupun on line di media sosial.

Basa-basi demikian memang terkesan sederhana bukan ? Tapi bila kita renungkan lebih dalam akan ada makna yang luas. Sehat bukan saja dari fisik tapi juga bathiniyah. Bayangkan saja kalau kesehatan kita terganggu dengan hal yang sepele. Misal, minum es ketika panas di siang hari atau habis makan nasi minum teh manis dingin. Awalnya memang nikmat sekali. Tapi lama kelamaan akan menimbulkan implikasi penyakit. Bisa jadi asam urat tinggi atau kolesterol naik, dan / atau gula darah naik. Akibatnya bisa saja stroke yang muncul.

Bila sudah terkapar di rumah sakit, disini akan terasa betapa nikmat sehat itu sangat mahal harganya. Betapa sakit itu akan "melumpuhkan" aktifitas kita dan keluarga. Dan betapa sakit itu ditebus dengan harga tidak sedikit. Padahal cara sehat itu sungguh sederhana dan tidaklah susah dan mahal. Dengan kebiasaan rutin dan pola hidup yang sehat secara teratur akan memperpanjang harapan usia hidup.

Lebih baik mencegah dari pada mengobati ! Ini ungkapan pepatah yang mungkin juga akrab ditelinga kita, bukan ? Terkhusus di bidang medis kesehatan. Jadi mulailah merubah kebiasaan waktu mandinya. Untuk mendapatkan tubuh yang sehat, bugar dan prima tidaklah harus ke sanggar-sanggar senam dan olah raga yang tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit. Bagi yang berduit lebih memang tidak masalah. Itu syah-syah saja.
Tapi untuk sehat dan bugar itu tanpa mengeluarkan biaya banyak bisa awalnya bermula dari sini dilakukan, yakni Mandilah di waktu sebelum Subuh !


Facebook

Twitter



Medan, 23 September 2016

Wassalam

Firdaus

F. Tanjung

/ftanjung

TERVERIFIKASI

"Apa bila tidak bisa berbuat baik - Jangan pernah berbuat salah"
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article