F. Tanjung
F. Tanjung wiraswasta

"Apa bila tidak bisa berbuat baik - Jangan pernah berbuat salah". Love for All - Hatred for None

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Setelah Doi Tidak Perawan, Pria Wajib Tahu Hal Ini

13 September 2017   13:04 Diperbarui: 13 September 2017   13:13 758 6 4
Setelah Doi Tidak Perawan, Pria Wajib Tahu Hal Ini
ilustrasi (slideshare.net)

Bagi kaum Adam mendapatkan gadis (baca; menikahi) perawan merupakan suatu hal yang pasti didambakan.

Sebaliknya para wanita juga memandang hal keperawanan dirinya adalah suatu hal yang sacral yang mesti di rawat dan di jaga hingga sampai suatu saat akan "dirobek" oleh pasangannya yang syah.

Namun tidak sedikit para pria yang tidak mempersoalkan masalah masih perawan atau tidak terhadap wanita yang akan dinikahinya. Contoh ini sudah banyak terjadi.

Keperawanan wanita  memang suatu anugerah Ilahi kepadanya. Sangat "cela" jika keperawanan perempuan sudah tidak ada lagi saat memadu malam pertamanya. Sehingga pasangannya mungkin akan kecewa dan menuduh pasangannya pernah melakukan hubungan ML di luar nikah.

Hal seperti ini bagi kaum hawa akan menjadi dilema tersendiri. Rasa bersalah akan pasti menggerogotinya jiwanya. Mau menceritakan sebelum menikah takut akan di putus. Di tuduh yang macam-macam. Steorotype di cap perempuan "usil" yang tidak bisa menjaga kesuciannya.

Tapi, ada hal yang perlu diketahui khususnya kaum pria tentang penyebab perempuan tidak memiliki keperawanannya. Tentu saja penyebabnya tidak harus mesti berhubungan badan.

Penulis pernah mendiskusikan tentang selaput dara wanita ini dengan teman lama dulu, seorang perempuan calon dokter (sekarang sudah jadi dokter). Dari sini pemahaman penulis bertambah. Meski diskusi itu sudah lama berlalu, tapi masih ada yang bisa penulis ingat sedikit banyaknya sampai sekarang.

Ada beberapa penyebab selaput dara perempuan bisa hilang. Selain faktor olahraga atau pekerjaan berat, hal lainnya bisa disebabkan oleh kecelakaan.

Kecelakaan di sini tidak saja berupa kecelakaan di jalan raya. Tapi juga peristiwa lainnya seperti jatuh dari tangga atau pohon. Menurut teman saya yang dokter  itu, dia punya teman kuliah satu jurusan (kalau tidak salah). Bahwa temannya itu memang sudah tidak perawan lagi. Tapi tidak dengan berhubungan badan. Sama sekali tidak demikian.

Temannya itu hampir jatuh ke tanah dari pohon jambu akibat tergelincir. Posisi kaki saat jatuh tergelincir sedikit mengangkang. Saat itu pas selangkangannya menimpa pokok batang. Ironisnya batang yang jadi landasan selangkangannya ada gundukan dahan sisa ditebang. Dengan kata lain gundukkan itu menunjam ke arah vaginanya.

Memang dia berhasil menahan laju tubuhnya tidak jatuh ke bawah karena tangannya masih sempat memegang pokok dahan lain. Sehingga tubuhnya tidak oleng saat jatuh. Hanya mengalami luka lecet dan memar pada tangan dan kakinya.

Saat itu seputaran area vaginanya terasa sakit, dan memakai celana pendek dasar katun. Beberapa waktu kemudian, dia kaget dan langsung memanggil saudaranya. Karena saat mau buang air kecil, ada bercak darah di celana dalamnya.

Ilustrasi gambar (sharingdisana.com)
Ilustrasi gambar (sharingdisana.com)

Panic memang. Tak lama berselang dia pun di bawa ke rumah sakit untuk penangan medis. Dan hasilnya jelas bahwa selaput daranya robek. Dan dia  juga meminta semacam surat tentang keperawanannya bahwa selaput daranya robek karena kecelakaan.

Lanjut teman saya itu mengatakan, bahwa posisi selaput dara temannya itu mungkin saja tidak terlalu dalam letaknya. Alias lebih dekat ke rongga luar dari vagina. Entah apa istilahnya, penulis pun sudah lupa.

Jadi secara logika bisa diterima. Akibat tekanan jatuh yang kuat dan menghantam posisi selangkangan area vagina bisa jadi  faktor kuat membuat selaput dara jadi robek.

Kita bisa membayangkannya rasa sakitnya bukan ? Saat ke dua kaki mengangkang lalu jatuh menimpa pokok batang yang ada gundukkannya.

Menurut teman saya itu lagi, lain persoalannya jika posisi selaput dara agak lebih ke dalam. Kemungkinan selaput daranya bisa tetap utuh. Kejadian ini sebenarnya jarang tapi tetap ada terjadi.

Nah, bagi kaum pria yang siap menikah perlu mengetahui hal ini. Jangan sampai langsung mencap calonnya yang bukan-bukan. Keterbukaan tentang hal sensitive ini perlu diutarakan.

Sang perempuan tentu berhati-hati dalam menyampaikan ini. Bagaimana pun sampai zaman sekarang keperawanan memang dipandang hal yang sacral oleh ke dua pasangan. Terutama bagi pria yang mengagungkannya.

Dengan kejadian seperti uraian di atas apakah masih bisa di terima oleh kaum pria ?
Ini pertanyaan yang jawabannya kembali kepada pria yang siap menikah.

Tapi percayalah, jika sang perempuan tidak perawan lagi, coba utarakan dengan terbuka. Perlu juga berhati-hati menyampaikannya. Apa pun penyebabnya , tetap disampaikan. Walau awalnya pahit, toh suatu beban berat telah dikeluarkan.

Beri waktu kesempatan kepada prianya untuk memutuskan apa kira-kira hasilnya. Yang jelas kalau membangun hubungan (pacaran) sudah begitu serius ke jenjang pernikahan, dan selama ini sudah saling percaya dan paham akan kelebihan dan kekurangan masing-masing, penulis yakin sang pria akan bisa menerima apa adanya.

Sebab tujuan dalam menikah bukan saja menyatukan dua cinta dalam rumah tangga, tapi juga menyatukan dua keluarga besar dalam mewujudkan social masyarakat yang berkelanjutan.

Selain itu juga rumah tangga tempat sesungguhnya cinta berlabuh dengan baik dan benar. Baik dalam arti hubungan yang sehat. Dan benar dalam arti hubungan yang resmi secara aturan hukum yang  berlaku.

Jadi dua cinta menyatu tidak saja mengutamakan tentang sex dalam rumah tangga. Meski itu tidak dinafikan juga, toh tujuan agung yang lebih penting adalah melanjutkan risalah keberlanjutan insan di muka bumi dengan melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat serta berkualitas  untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.

Jika sang gadis menceritakan hal tentang perawannya tidak utuh lagi dengan benar dan hati-hati, (sebagian) para pria mungkin akan bisa menerimanya. Apa lagi setelah membaca uraian singkat ini kaum adam sudah bisa merubah mindsetnya tentang perawan.

Kalau sudah ada keterbukaan yang dibangun untuk bersiap berumah tangga, saya yakin pria yang bisa menerimanya adalah pria yang bisa dijuluki "cassanova" nya dunia.

Semoga bermanfaat.

Wassalam.