Gayahidup highlight

Domus Propria Domus Optima

14 September 2017   10:04 Diperbarui: 14 September 2017   10:16 781 3 2
Domus Propria Domus Optima
(HUT/STSM/26)

(Rumah sendiri adalah rumah terbaik: Sebuah Catatan)

Masih dalam gebyar semangat kemerdekaan di ulang tahunnya yang ke-72, Indonesia kian di landa oleh banyak persoalan, entah yang berasal dari luar maupun dari dalam. Pluralisme yang sejak dahulu dijadikan sebagai kekayaan, kini menjadi alasan untuk dipertentangkan. Hampir di semua segi kehidupan, terdapat bermacam-macam persoalan yang menggangu dan melemahkan lajunya proses pengaktualisasi kinerja kerja. Perbedaan pendapat kepercayaan bahkan sudut pandang terhadap suatu hal sederhana pun  bahkan menjadi pemicu terjadinya pertingkaian. 

Kenyamanan dan keamanan terasa menjadi suatu hal yang mahal untuk dirasakan. Indonesia seolah-olah bernolstagia bersama situasi sebelum tahun1945, dengan begitu banyak wajah-wajah baru para penjajah masa kini. Apa mungkin Indonesia harus kembali mengangkat bambu runcing, dan berperang, kemudian memproklamirkan kembali kemerdekaannya untuk yang kedua kalinya?

Inilah secuil potret situasi yang tengah melanda bumi ibu pertiwi, namun patut di puji bahwa dengan umur yang tidak terbilang mudah disertai beragam persoalan dan tantangan, bendera merah putih masih berkibar dengan gagahnya di horizon langit ibu Pertiwi. Suatu kenyataan yang tidak terlepas dari peran pancasila sebagai dasar negarah yang kokoh dan kuat. Pancasila hadir sebagai alasan , sehingga kita masih dapat mendengar lantunan lagu Indonesia Raya dan pekikikan merdeka!

Terhadap segalah bentuk persoalan yang tengah menggrogoti negara tercinta, pancasila menjadi harga mati yang tidak dapat digantikan apalagi dimusnahkan. Ke-5 sila yang ada di dalamnya telah menjadi FINISH dan tidak dapat digangu gugat oleh siapapun, kapanpun dan dengan alasan apapun. Semua mesti telah menyatu dalam jiwa seluruh warga negara. Nilai pancasila harus senantiasa dijunjung tinggi dan di jadikan sebagai motifasi untuk mencapai kemajuan seperti yang di harapkan.

Bertolak dari kenyataan di atas, kami ingin melihat lebih jauh tentang peran pancasila berkaitan dengan tema di awal catatan ini, satu hal yang ingin kami fokuskan ialah pada sila yang pertamayakni "Ketuhanan yang Mahaesa". Menarik untuk dicatat bahwa melalui sila yang pertama ini, menggambarkan  bahwa sejatinya Negara Kesatuan Republik Indonesia memberi jaminan kepada seluruh warganya untuk ber-Ketuhanan. Dalam artian bahwa seluruh warga negara diberikan hak dan kehendak bebas untuk menganut dan memeluk agama serta kepercayaannya masing-masing tanpa ada paksaan atau desakan dari golongan lain. 

Kesempatan bagi setiap pribadi untuk sedapat mungkin meningkatkan kualitas dalam dirinya sebagai seorang beriman guna menjadikan pribadi sebagai warga negara yang mendasarkan segalah prilaku dan tingkah lakunya seturut dengan apa yang dihayati dalam agama dan kepercayaannya masing-masing. Kepribadian dan karakter warga negara inilah yang kemudian akan menunjung perkembangan dan kemajuan bangsa itu sendiri.

Barkaitan dengan tema pesta family tahun ini, "Rumahku adalah Rumah Do`a" ;maka kami mencoba untuk menggambarkan Indonesia sebagai wadah/ tempat/ rumah do'a. Sebagai rumah yang seharusnya ditempati oleh  orang-orang yang berketuhanan, oleh orang-orang pendoa, yang mewujudnyatakan segalah kerohanian mereka dalam tindakan dan perbuatan yang beradab, bernilai dan bermoral. Kerena jika demikian adanya, Indonesia sudah tentu menjadi negara yang dipenuhi dengan kebahagiaan, kedamaian, sukacita, keadilan serta segalah hal yang baik dan bernilai lainnya. 

Kenyaman dan kebahagiaan pastilah akan sangat mudah dialami oleh setiap anggota masyarakat tanpa ada yang saling menyakitkan, tanpa ada yang saling menjatuhkan, tanpa ada yang saling memfitnah satu terhadap yang lain.  Segalah segi kehidupan akan mendatangkan sukacita dan kegembiraan yang memberikan kenyamanan bagi seluruh penghuninya.

Bertolak dari kenyataan ini, sejenak kita bertepi pada realita yang ada di tanah air kita tercinta. Korupsi, kolusi, nepotisme, serta kesenjangan sosial lainnya tengah menari lincah di atas panggung peradaban.  Para konglomerat semakin berkelimpahan dan yang miskin makin menderita. Rakyat kecil terus ditindas, diskriminasi menguasai birokrasi. Satu hal yang menyedihkan bagaimana Indonesia tergambar sebagai keranjang sampah , dimana segalah hal yang buruk teerdapat di Indonesia, segalah hal diperjual-belikan di Indonesia termasuk harga diri. Kejahatan dihalalkan, kesalahan dibenarkan, harta dan kekayaan menjadi tujuan utama, dan bahkan Tuhan pun dikesampingkan. 

Dalam media masa terkuak banyak kasus pelecehan seksual, kekerasan rumah tangga, kasus narkoba,bembunuhan serta tindak kriminal lainnya. Generasi mudah yang menjadi harapan malah bertindak abnormal, menjadikan proses pencaharian jati diri sebagai alasan untuk mempraktekkan gaya hidup yang tidak sepadan dengan status dan jati diri sebagai genarasi penerus bangsa. Di mana letak keadilan? Masih adakah nilai dan moral warga negara kita? 

Perlu disadari pula bahwa perihal demikian merupakan suatu kekwatiran besar, dan mentalitasbukan saja terjadi di lingkungan luar, melainkan  ini kemudian ikut menjalar sampai ke dalam kehidupan komunitas-komunitas biarawan, termasuk komunitas seminari tinngi St.Mikhael. Melihat bagaimana pola hidup para pemuda, penerus bangsa bahkan masa depan Gereja. Tergambar bagiamana nilai dan norma kini kian dipudarkan oleh kesibukan pencahariaan jati diri, tugas utama yang di duakan, aturan yang dibuat hanya untuk dilanggar, sifat apatis dan malas tahu, alasan menjadi senjata memanipulasi kesalahan serta praktek menyimpang lainnya yang sering dilakukan. 

Menipu diri dengan melakukan segalah bentuk aturan hanya semata memenuhi aturan, tidak lebih. "Tuhan mati di biara," menjadi suatu kenyataan yang seakan menggambarkan bagaimana prilaku yang tidak terpuji demikian  telah merasuk di dalam seluruh kepribadian para genarasi mudah.

Sebagai respon dari situasi ini, maka perlulah ditanamkan sikap kesadaran dan cinta akan rumah (at home), yang menjadikan rumah sendiri sebagai satu-satunya tempat untuk membina hubungan keakrapan dengan Tuhan dan dengan sesama. Membina kepribadian kita sebagai orang yang berketuhanan, yang memilihki kepribadian yang matang serta rasa nasionalisme terhadap tanah air tercinta. Inilah tugas kita generasi mudah, saling berpegang tangan, bahu membahu untuk melangkah bersama menuntaskan segalah kepincangan dan kesenjangan, serta menghidupkan kembali nilai dan moral di tanah air kita tercinta. Inilah tugas kita, para generasi masa depan Gereja, orang-orang pilihan Tuhan, yang dikemudian hari siap untuk menata Gereja agar tetap kokoh kuat di tengah arus tantangan Zaman. 

Hendaknya kita kembali ke rumah, ke tempat kita berjumpa bersama Tuhan yang kita imani. Berhentilah mencari Tuhan di tempat lain, berhentiah mencari Tuhan di dunia yang semu, sebab belum tentu kita akan menemukan-Nya,  sejatinya Dia ada di dalam rumah kita sendiri, Tuhan ada di tanah air kita tercinta, Indonesia. Marilah kita  mencintai Indonesia, karena inilah rumah kita, rumah untuk kita berjumpa dengan Tuhan dan membangun kedekatan dengan-Nya, inilah rumah terbaik yang kita miliki.