HIGHLIGHT

Fatal, Menghapus Sego Segawe Jogja

18 September 2012 07:30:09 Dibaca :

Turunya Surat Edaran Nomor 645/57/SE/2012 yang dikeluarkan Walikota Jogja mengenai ditiadakanya hari Car Free Day merupakan sebuah kemunduran bagi Kota Jogja. Diantara lima poin tersebut, yang paling disesalkan adalah adanya poin pertama yang menyebutkan bahwa sego segawe pada hari jumat ditiadakan.


Selain sebagai alat transportasi pengurai kemacetan dan non-polusi, sepeda merupakan salah satu icon dari Kota Jogja. Jadi, jika program sego segawe ditiadakan, maka itu adalah bentuk kebijakan yang membunuh nilai budaya. Mimpi kita untuk melihat jalanan kota jogja yang nyaman, bersih dan penuh dengan kearifan lokal, tampaknya akan menjadi khayalan yang tidak pernah menjadi nyata.


Kawasan balaikota bukanlah wilayah yang mustahil dilalui sepeda. Jika alasan pemkot menurunkan kebijakan tersebut untuk memudahkan akses pegawai dan tamu memasuki wilayah balaikota, maka itu adalah bentuk penyelesaian masalah dengan masalah. Pendekatan dengan mengutamakan realitas dan menjauhi idealitas merupakan penyakit yang harus segera di obati.


Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan mental pemerintah kita yang ingin serba praktis dan tidak mau repot. Coba kita bayangkan, hanya sehari dalam seminggu saja tidak mampu untuk melakukanya. Padahal banyak masyarakat yang setiap saat mengayuh sepeda hanya ingin melihat jogja seperti dulu kala. Lalu, apakah anjuran bersepeda hanya berlaku untuk masyarakat saja? Agar mobil-mobil mewah pejabat bisa melintas dengan nyaman.


Secara kasat mata, hilangnya program sego segawe di kalangan pegawai pemkot tidak memberikan dampak yang besar bagi lalu lintas. Tapi secara substansi kebijakan ini akan memberikan dampak psikologis yang negatif di masyarakat. Setiap perilaku baik yang dilakukan pemimpin, akan memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat. Tanpa diminta, mereka akan melakukanya dengan penuh kesadaran. Begitupun sebaliknya, jika pemimpin tidak memberikan contoh yang baik, masyarakat pun akan semakin enggan untuk melaksanakanya.


Sebelum segala macam keburukan terjadi, ada baiknya pemkot meninjau ulang atau bahkan membatalkanya. Dipandang dari sudut manapun, itu adalah kebijakan itu keliru. Sebagai langkah solutifnya, tampaknya pemkot jogja perlu sedikit belajar kapada UGM dalam membudayakan program sego segawe di lingkunganya.



Dengan bersepeda lalu lintas menjadi lancar, udara menjadi sejuk dan badan menjadi sehat. Dan untuk mencapai  keidealan tersebut memang diperlukan banyak pengorbanan. Dan pengorbanan bisa di minimalisir jika di kelola dengan baik serta dibarengi dengan tekad yang kuat.

Folly Akbar

/folly

Asli Cirebon, Sedang Study di Yogyakarta. Bermimpi Balik ke Cirebon dan Memajukan Cirebon ke Kancah Nasional.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?