HIGHLIGHT

"Waktu dan Tempat Kami Persilahkan...."

30 Maret 2010 16:50:00 Dibaca :

Seorang sahabat. Kebetulan ia  pengajar bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), disalah satu universitas tempat aku tinggal. Pada suatu kesempatan, ia mendapat kehormatan untuk menjadi pengatur acara pada pesta nikah.

"Saudara-saudari yang terkasih, resepsi pernikahan saudara Giwang dan saudari Anting akan segera kita mulai. Kita akan membukanya dengan doa pembukaan. Pada kesempatan ini, doa pembukaan akan dipimpin oleh yang terhormat bapak Dulang. Maka, waktu dan tempat kami persilahkan."  Suara sahabat itu amat nyaring terdengar ditelinga.

Mendengar kata-kata tersebut aku cuma tersenyum. Ia memandangku.

Usai resepsi....Aku mendatanginya.

"Bagus...." Kataku.

"Apanya?" Jawab dia.

"Itu, waktu dan tempat kami persilahkan...."

"Ha.....ha.....dia tertawa.  Ya...ya...ya... memang aku sadar. Tadi aku salah ucap."

"Mestinya yang dipersilahkan itu bapak Dulang, bukan waktu dan tempat.  Waktu dan tempat sudah ada di situ.... Lagi pula, kata   'dipersilahkan'  itu keliru.  Kata yang benar dan baku adalah  'dipersilakan', dari kata dasar  'sila' . Coba lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia." Kataku.

"Ya, Mas, dalam berbahasa lisan, nalar dalam berucap memang harus tetap dipakai."

"Setuju,"  aku mengiyakan,  "apalagi  seorang pengajar sepertimu; mestinya seorang pengajar, apalagi pengajar bahasa Indonesia harus mempunyai kepekaan berbahasa yang lebih,  dibandingkan orang kebanyakan. Jikalau bukan kita sebagai bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia, siapa lagi yang akan mencintai - menghargai bahasa Indonesia?"

Florensius Marsudi

/florensiusmarsudi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Lelaki sederhana, istri satu, anak satu, putri. Sedang belajar (lagi). Belajar menulis....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?