Ferdi Julias Chandra
Ferdi Julias Chandra lainnya

have passions of futsal, traveling, and typing.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Siloviki Sebagai Alat Politik Vladimir V. Putin Dalam Pengambilalihan kekuasaan Oligarki di Dalam Pemerintahan Rusia

23 Agustus 2013   20:17 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:54 819 0 0

Setelah runtuhnya Uni Soviet, kekuasaan Rusia jatuh kepada Boris Nikolayevich Yeltsin, yang terpilih sebagai Presiden Rusia lewat pemilu langsung pertama dalam sejarah Rusia pada Agustus 1991. Lalu pada Oktober 1991, Yeltsin mencanangkan bahwa Rusia akan menjalankan reformasi ekonomi menuju mekanisme pasar secara liberal, termasuk program swastanisasi atas perusahaan-perusahaan negara yang merupakan sumber kekayaan ekonomi negara dan menghasilkan devisa bagi negara. Marshall Goldman, pengamat Uni Soviet asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa privatisasi tersebut sebagai insider buyout, yaitu pembelian aset-aset negara oleh orang Rusia sendiri dan orang asing yang turut berkolaborasi. Privatisasi tersebut juga dijuluki insider privatization atau oligarch privatization.


Menurut konstitusi Rusia, Presiden memiliki kewenangan besar, jauh lebih besar dibandingkan dengan Perdana Menteri. Presiden memiliki kewenangan yang besar dalam berbagai isu yang berkaitan terutama dengan pertahan, keamanan, dan politik luar negeri. Hal ini dapat dilihat pada konstitusi Federasi Rusia bab empat pasal delapan puluh poin kedua:


РоссийскаяФедерация - Президент Российской Федерации является гарантом Конституции Российской Федерации, прав и свобод человека и гражданина. В установленном Конституцией Российской Федерации порядке он принимает меры по охране суверенитета Российской Федерации, ее независимости и государственной целостности, обеспечивает согласованное функционирование и взаимодействие органов государственной власти.


Presiden harus menjadi penjamin dari Konstitusi Federasi Rusia, dan manusia dan hak-hak sipil dan kebebasan. Sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar Federasi Rusia, ia akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan Federasi Rusia, kemerdekaan dan integritas negara, dan memastikan fungsi dan interaksi terpadu dari semua badan-badan kekuasaan negara.


Sedangkan Perdana Menteri memiliki kewenangan yang lebih domestik, misalnya kebijakan sosial, kependudukan, dan perburuhan. Perdana Menteri juga menguasai birokrasi yang kerap menjadi faktor kunci dalam penyelenggaraan pemerintahan.


Perusahaan-perusahaan negara yang merupakan sumber kekayaan ekonomi negara dan menghasilkan devisa bagi negara berubah menjadi milik kelompok pebisnis, termasuk pebisnis yang dekat dengan Yeltsin. Pebisnis yang mendadak kaya raya mendadak tanpa usaha dan upaya yang besar tersebut dijuluki oligarki. Pada era Yeltsin, oligarki sangat berkuasa di Rusia, mereka menduduki jabatan-jabatan penting di Kremlin. Kedekatan mereka dengan Yeltsin juga menjadi faktor utama mengapa mereka sangat mendominasi sektor-sektor bisnis di Rusia. Kaum tersebut memang memiliki sesuatu, tetapi dengan menihilkan keuangan atau sumber keuangan negara. Kaum oligarki telah mendominasi ekonomi dan politik di Rusia, dan menciptakan iklim bisnis yang tidak stabil.


Politik luar negeri Yeltsin merefleksikan kepentingan nasional yang tidak selalu terbatasi dengan jelas. Rusia berusaha menyeimbangkan posisinya dengan barat dengan melakukan berbagai macam kerjasama dengan tujuan untuk menghadapi ketidakstabilan di Rusia. Lalu, Rusia juga berusaha menjalin hubungan dengan negara-negara Asia Timur yang semakin pesat kemajuannya. Yeltsin berinisiatif untuk merancang strateginya dengan berkiblat ke barat. Yeltsin sendiri berusaha merangkul Amerika Serikat, mantan musuh Uni Soviet dalam Perang Dingin, untuk menjalankan demokrasi ala Barat.



Pada 31 Desember 1999, Yeltsin mundur dari jabatannya dan mengumumkan pemilu dini yang diselenggarakan pada awal tahun 2000, dan pemenang dari pemilu tersebut adalah Vladimir Vladimirovich Putin. Pada saat Yeltsin mundur dari jabatannya, Putin-lah yang sementara menggantikan jabatannya sebagai Presiden Rusia sebelum akhirnya terpilih menjadi Presiden Rusia. Terpilihnya Putin menjadi Presiden Rusia tidak lepas dari peranan para oligarki.


Politik kekuasaan Vladimir Vladimirovich Putin telah menimbulkan suatu permasalahan baru di Kremlin, khususnya masalah untuk oligarki. Pada pertengahan Semptember, Vladimir Putin mengumumkan rencana perombakan sistem politik di negaranya, dengan sentralisasi kekuasaan di Kremlin. Dengan misi bangkit dari keterpurukan yang dialami Rusia, Putin melakukan tindakan yang ekstrim di pemerintahan. Menurut penulis, hal ini dimaksudkan untuk memperkecil krisis yang dialami Rusia dan memberikan suatu pengaruh positif terhadap pemerintahan Rusia, yaitu melakukan tindakan tegas terhadap orang-orang yang tidak mempunyai misi yang sama dengannya, yaitu membuat Rusia menjadi negara yang lebih baik.


Vladimir Putin menindak tegas orang-orang yang dapat dikatakan sebagai benalu di dalam pemerintahan Rusia. Tentunya, Putin tidak melakukan misinya ini sediri. Tidak mungkin menjalankan suatu misi yang besar dan dapat dikatakan merubah sebagian besar kebudayaan yang telah tertanam di suatu tempat sendirian. Ia dibantu oleh orang-orang yang mendukung misinya tersebut, yang disebut dengan Siloviki (Istilah “Siloviki” (power man), yang berarti petugas dari kekuasaan dan lembaga hukum, baik yang aktif maupun mantan, mendapat sirkulasi yang luas di bawah Vadimir Putin).


Sebagian besar, anggota Siloviki memang berasa dari eks KGB (Комитет Государственной Безопасности), tetapi bukan berarti semua anggota Siloviki adalah eks KGB. Anggota Siloviki juga berasal dari kaum yang propasar, internasionalis, sipil, dan juga dari pebisnis dan para ekonom. Hanya saja ada satu syarat untuk menjadi anggota Siloviki, yaitu misi mereka harus demi “Rusia Besar."


Di dalam konstitusi Federasi Rusia pasal 80 dijelaskan bahwa:


Президент Российской Федерации является гарантом Конституции Российской Федерации, прав и свобод человека и гражданина. В установленном Конституцией Российской Федерации порядке он принимает меры по охране суверенитета Российской Федерации, ее независимости и государственной целостности, обеспечивает согласованное функционирование и взаимодействие органов государственной власти.”


Sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar Federasi Rusia, presiden akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan Federasi Rusia, kemerdekaan dan integritas negara, dan memastikan fungsi dan interaksi terpadu dari semua badan-badan kekuasaan negara.


Bunyi konstitusi Federasi Rusia diatas menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan yang diambil oleh presiden untuk melindungi kedaulatan Federasi Rusia. Presiden mempunyai kekuasaan untuk menentukan dan membawa Rusia ke jalan yang seharusnya, sesuai dengan kebijakan-kebijakannya. Penulis menganggap bahwa kebijakan yang diambil oleh Putin adalah suatu langkah yang positif, karena Putin menggunakan kekuasaannya untuk membangun Rusia kearah yang lebih baik dengan menempatkan orang-orang kepercayaaannya di dalam pemerintahan Rusia.


Penulis menambahkan bahwa langkah yang diambil oleh Vladimir Putin sangat ekstrim, karena pada saat itu oligarki menguasai sebagian besar perusahaan-perusahaan di Rusia. Misalnya seperti yang telah dijelaskan di atas, secara mengejutkan Mikhail Khodorovsky, orang terkaya di Rusia (menurut Forbes: 2004) dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan penipuan dan penggelapan pajak. Langkah ini diiterpretasikan penulis sebagai sebuah deklarasi perang kepada oligarki, yang telah mengumpulkan kekayaan dan mempunyai kekuasaan yang luar biasa sejak runtuhnya Uni Soviet. Menurut Foucault, kekuasaan bukanlah milik tetapi strategi. Inilah strategi yang diterapkan Putin untuk menjerat oligarki, yaitu menangkap Mikhail Khodorovsky dengan tuduhan yang disebutkan di atas.


Dengan penangkapan Khodorovsky, Vladimir Putin secara perlahan menempatkan siloviki di dalam pemerintahan Rusia. Setelah itu, siloviki mulai bekerja agar oligarki terhempas dari dalam pemerintahan Rusia, sehingga yang betugas di dalam pemerintahan hanya orang-orang yang pro Putin. Peristiwa ini telah mengejutkan bagi mereka yang tidak percaya akan munculnya Rusia yang baru.


Siloviki adalah orang-orang terdekat Putin, yang sebagian besar adalah mantan anggota KGB dan juga sekelompok perwira intelejen yang memegang kekuasaan besar di dalam Kremlin. Orang yang sangat dipercaya oleh Putin seperti Sechin, Ivanov, dan Patrushev, yaitu siloviki yang memegang posisi teratas di dalam Kremlin dan departemen pemerintahan. Ketiganya mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan presiden dan satu sama lain.


Penulis menilai bahwa Putin sangat mendukung apa yang dilakukan oleh siloviki dan sengaja menempatkan siloviki di dalam pemerintahan agar oligarki yang mempunyai jabatan di dalam pemerintahan merasa tidak nyaman karena terus mendapatkan perlawanan dari siloviki, dan juga yang sangat berpengaruh yaitu ketidaksamaan misi dan prinsip.


Sebenarnya, sebelum menjadi Presiden Federasi Rusia, Putin juga mempunyai kedekatan dengan oligarki. Tetapi, setelah menjadi Presiden Federasi Rusia, Putin mulai menjauh dari oligarki dan mulai mencanangkan kebijakan-kebijakan yang menyudutkan oligarki. Hal ini terjadi karena Putin mengetahui bahwa oligarki adalah orang-orang yang hanya peduli terhadap dirinya sendiri, tanpa memikirkan kondisi negaranya.


Dengan berbekal kedekatan dengan oligarki yang menempati posisi penting di pemerintahan (pada era Yeltsin), Putin mulai mengetahui apa yang harus dikerjakannya pada saat menjabat menjadi Presiden Federasi Rusia. Akhirnya, ia menempatkan para siloviki di dalam pemerintahan, yang bertujuan untuk mengambil alih dominasi kekuasaan oligarki di dalam pemerintahan.


Strategi untuk merebut kekuasaan kaum oligarki yang diterapkan oleh Putin sangat tepat. Foucault mengatakan bahwa “Kekuasaan bukanlah milik tetapi strategi, dan tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan” (Haryatmoko, 2002). Dengan kecerdasan dan kecerdikannya, Vladimir Putin menemukan formula untuk mengalahkan dan meruntuhkan oligarki. Tidak dengan kekerasan, tetapi ia bekerja secara halus, struktural, dan menyeluruh.


Putin menggunakan kekuasaannya sebagai orang nomor wahid di Rusia, yaitu merombak struktur pemerintahan Rusia. Secara halus dan perlahan, Putin menempatkan siloviki di posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan memecat orang-orang yang tidak sesuai dengan misinya, dengan alasan untuk menjadikan Rusia yang besar.


Penulis beranggapan bahwa jika Putin tetap menempatkan oligarki di dalam pemerintahan, tidak akan tercipta Rusia yang mampu bangkit dari keterpurukannya. Atau, jika siloviki dan oligarki disatukan di dalam pemerintahan, akan tercipta jurang pemisah diantara mereka yang diciptakan akibat ketidaksamaan misi dan kepentingan. Jadi, kekuasaan di dalam kekuasaan diperlukan adanya kesamaan misi dan kekompakan diantara anggotanya yang dijalankan dengan totalitas. Dalam bukunya L’archeologie du savoir (1969) Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Jadi, alasan Putin mengatakan alasan akan menjadikan Rusia sebagai negara yang besar bukan hanya sebagai alasan untuk menyingkirkan oligarki di dalam pemerintahan, tetapi itu juga sebagai komitmennya, dan suatu strategi untuk mewujudkan komitmennya tersebut.


Tidak semua kaum oligarki yang di dalam pemerintahan dipecat oleh Putin, tetapi mereka mengakhiri karirnya sendiri dengan mengundurkan diri. Menurut penulis, mereka mengundurkan diri karena tidak nyaman dengan keberadaan siloviki di dalam pemerintahan. Mereka juga sudah tidak mempunyai kekuataan untuk menguasai pemerintahan karena mereka sudah tidak dapat berkembang lagi seperti di masa kepemimpinan Yeltsin. Kesimpulannya, Putin telah berhasil memanfaatkan siloviki di dalam pemerintahan Rusia untuk mengambil alih kekuasaan oligarki.


Mungkin situasi ini tidak adil bagi kaum oligarki, tetapi secara keseluruhan Putin telah berhasil mengusir oligarki di pemerintahan Rusia. Siloviki adalah alat politik Vladimir Vladimirovich Putin dalam pengambilalihan kekuasaan oligarki di dalam pemerintahan Rusia. Konsep politik Putin telah membuahkan sebuah kekuatan yang kokoh, dan menghasilkan kekuasaan yang bersifat positif, yaitu sesuai dengan misi Putin dan siloviki, “Rusia yang Besar."


KESIMPULAN


Budaya politik Federasi Rusia mengalami gejolak setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Boris Yeltsin didaulat sebagai Presiden pertama Federasi Rusia. Yeltsin mengalihkan sebagian besar perusahaan-perusahaan negara menjadi kepemilikan swasta atau biasa disebut dengan privatisasi. Aset perusahaan-perusahaan tersebut dibeli oleh para orang kaya Rusia yang pada saat itu disebut dengan Oligarki.


Semenjak pemerintahan Boris Yeltsin, oligarki menguasai sebagian besar perusahaan-perusahaan yang tadinya dimiliki oleh negara. Mereka berhasil membeli saham perusahaan-perusahaan tersebut karena kedekatan mereka dengan Presiden Yeltsin, dan juga mereka dapat menduduki jabatan-jabatan penting di Kremlin. Dengan waktu yang singkat, kekayaan mereka bertambah.


Pada pengujung tahun 1999, Yeltsin mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Rusia, dan di tahun yang sama dia mengangkat Vladimir Vladimirovich Putin sebagai acting Presiden. Pada tahun 2000, Putin secara resmi menjadi Presiden Federasi Rusia yang kedua dengan memenangkan pemilu. Pengangkatan Putin menjadi Presiden ternyata memberikan dampak positif terhadap Federasi Rusia.


Putin menyadari bahwa keterpurukan bangsa Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet bisa menjerumuskan Rusia ke ambang disintegrasi apabila tidak diambil suatu langkah definitif untuk menyelamatkannya. Era Vladimir Putin memperlihatkan arah kebangkitan Rusia dari keterpurukan. Langkah-langkah ekstrim yang diambil oleh Putin membangkitkan perekonomian Rusia.


Putin memberi tindakan tegas kepada oligarki yang melanggar Konstitusi Rusia. Dengan dibantu oleh orang-orang yang pro dengannya, oligarki secara perlahan tersingkir dari Kremlin. Mereka biasa disebut dengan Siloviki, orang-orang yang sepaham dengan Putin, yang sebagian besar adalah teman dekat Putin di KGB.



Siloviki mengambil alih Pemerintahan Rusia dari tangan Oligarki, yang sudah berkuasa selama pemerintahan Yetlsin. Tidak dengan kekerasan, tetapi ia bekerja secara halus, struktural, dan menyeluruh. Siloviki berperan penting di dalam pemerintahan Rusia karena mereka adalah formula yang sangat ampuh untuk menggeser kekuasaan oligarki di dalam pemerintahan. Siloviki adalah alat politik Vladimir Vladimirovich Putin dalam mengambil alih kekuasaan oligarki di dalam pemerintahan Rusia.