Ini Bahasaku, Bahasa Anak TunaGrahita

14 September 2012 15:43:57 Dibaca :

tulisan ini berisi bagaimana bentuk bahasa dan cara memahami bahasa mereka. tulisan ini berdasarkan hasil observasi ke SLB Negeri Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur yang bersebelahan dengan Universitas Negeri Surabaya jurusan Pendidikan Luar Biasa. Observasi ini dilakukan pada Mei 2012.Menurut Somantri, dalam buku Psikologi Anak Luar Biasa, anak tuna grahita sesungguhnya memilki arti yang sama yang menjelaskan

kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh

keterbatasan inteligensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak

tunagrahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena

keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program

pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak terbelakang

mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan

kemampuan anak tersebut. Adapun klasifikasi dari anak tunagrahita terbagi menjadi educable'mampu didik (IQ 50-75 dikategorikan debil), trainable/ mampu latih (IQ 25-50 dikategorikan imbecil) dan costodial/mampu rawat (IQ 0-25 dikategorikan idiot). karakteristik dan pemahaman bahasa anak tunagrahita- Sering

membolak balikkan kata < ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />



Untuk

memberitahukan maksud mereka, anak tunagrahita dalam berkomunikasi sering menggunakan

bahasa yang tidak lengkap, bahkan sering yang di bolak balik.



Ketika

melakukan observasi, saya mencoba bertanya kepada salah satu anak tunagrahita, “Kenapa belum

pulang?



Jawabnya

“papa tunggu, hp tinggal”



Maksud

dari papa tunggu, hp tinggal tersebut adalah “saya lagi menunggu

papa, hp saya tertinggal”
. Anak tersebut menggunakan diksi kata yang

merupakan kata dasar tersebut (tidak menggunakan imbuhan). Dan penempatan

kata-kata yang di maksud tidak sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.

Begitu

juga ketika ada salah satu mahasiswi jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) bertanya pada anak tunagrahita

berjenjang Sekolah Dasar.



“Kenapa

kamu tidak pakai seragam,” tanya mahasiswi.



Anak

tunagrahita tersebut menjawab, “rumah jahit”



Maksud

dari rumah jahit tersebut adalah “saya tidak memakai seragam karena

seragam saya masih di jahit di rumah”.
Penggunaan kata dasar tanpa imbuhan juga

sering digunakan anak tunagrahita dalam berkomunikasi, karena keterbatasan IQ

yang rendah mempengaruhi perbendaharaan kata mereka.



Kejadian

yang hampir sama dengan kejadian di atas, namun ini terjadi ketika mahasiswa

PLB menerima SMS dari anak tunagrahita SMA. Dimana pengirim SMS tersebut adalah

Lukman anak tunagrahita SMALB Negeri Gedangan ketika mengirim Pesan Singkat

Elektronik kepada mahasiswi jurusan PLB bernama Nurina. Adapun isi dari SMS tersbut

adalah



“Iya

Nurina sama sama menonton tivi. Aku mau sholat jumat dulu Nurina. Nurina tolong

mencari kerja Lukman..”



Adapun

maksud dari SMS tersebut adalah “iya benar Nurina, saya juga sedang menonton

tivi. Saya mau sholat jum’at dulu Nurina, Nurina tolong carikan Lukman kerja”.
Dalam

penulisan pesan singkat ini, anak tersebut sudah menggunakan kata berimbuhan,

misalnya pada kata menonton, mencari. Namun, masih terdapat adanya

pembolak balikan kata terutama pada kalimat terakhir yaitu tolong mencari

kerja
yang maksud sebenarnya adalah tolong carikan Lukman kerja.



- Pemilihan

Kata Berimbuhan yang Salah



Bentuk

SMS lainnya, dengan pengirim dan penerima SMS yang masih sama yaitu Lukman dan

Nurina.



Nurina

pulsa kamu masih ada tidak dibeli pulsa mau tidak...



Maksud

dari SMS tersebut adalah menanyakan ke Nurina apakah pulsa kamu masih ada? Apa

mau dibelikan pulsa?.
Meskipun tata penempatan kalimatnya tidak di bolak

balik namun pemilihan kata masih ada kata yang kurang tepat dan belawanan

dengan maksud ucapannya. Misalnya kata dibeli yang sebenarnya maksudnya

adalah dibelikan.



Contoh

bentuk format SMS lainnya,



Lukman

sayak sama ibumu dibawa soto ayam mau tidak mau minta alamat rumah mu dimana.



Maksud

dari SMS tersebut adalah Lukman sayang dengan ibunya Nurina. Apa nurina mau

dibawakan soto ayam? Lukman minta alamatnya Nurina.
Meskipun penggunaan

perbendaharaannya sudah banyak dan sudah menggunakan kata berimbuhan, namun

masih terdapat kesalahan dalam penempatan kata dan penggunaan kata yang tidak

perlu digunakan.- Kesulitan

dalam Penulisan Kata



Selain

anak tunagrahita sering membolak balikkan kata, mereka juga sering mengalami

kesalahan dalam penulisan.



Kejadian

ini terjadi ketika salah seorang mahasiswi jurusan PLB bertanya ke salah seorang anak

tunagrahita. “Dari mana kamu?



Anak

tunagrahita tersebut menjawab “kerja indomaret ngelamar”.



Kemudian

mahasiswi tersebut melihat surat lamaran kerja anak tersebut. ternyata dalam

menuliskan jenis kelamin “laki-laki” di tulis “laik laik”


Bagi

seseorang yang belum sering atau bahkan pertama kali bertemu anak tunagrahita

tersebut akan mengalami kesulitan dalam memahami tulisan laik laik yang

sebenarnya itu maksudnya adalah laki-laki.

- Mengulang

Kata Yang Tidak Perlu



Data

ini diambil ketika saya dan teman mahasiswinya melaksanakan sholat duhur,

dan ketika itu juga bertemu anak tunagrahita. Anak tersebut bercakap-cakap

dengan mahasiswi terebut.



“kamu

mau kemana?” tanya mahasiswi tersebut.



Anak

tunagrahita tersebut menjawab, “Iim sholat Iim”



Maksud

daripernyataan Iim sholat Iim adalah anak tunagrahita itu ingin

ikut sholat dengan Iim. Iim dalam data tersebut merupakan nama mahasiswi

jurusan PLB yang menemani peneliti dalam observasi di SLB Negeri Gedangan.



Anak

tersebut menggunakan kata Iim yang berulang-ulang yang seharusnya tidak

perlu digunakan.



Dari

data-data tersebut bagi sebagian orang yang belum pernah berinteraksi dengan

anak tunagrahita pasti akan kesulitan memahami maknanya. Dibutuhkan kejelian

dalam memahami maksud gagasan dari bahasa yang dilontarkan anak tunagrahita

tersebut.Meskipun mereka memiliki kekurangan, tapi mereka sama dengan manusia lain yang memerlukan komunikasi antar sesama manusia, meskipun dengan bahasa mereka sendiri, dan terkadang bagi orang awam merasa kesulitan dalam memahami makna dan maksud anak tunagrahita tersebut. Ini bahasa mereka.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?