Fajar Upper
Fajar Upper

Peminum kopi sachet dan pembeli rokok eceran. Co Founder http://www.esensiana.com/

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

Hizbut Tahrir Serupa Kanker dalam Negara

17 Juli 2017   08:56 Diperbarui: 17 Juli 2017   09:20 457 2 5
Hizbut Tahrir Serupa Kanker dalam Negara
perppu-pembubaran-ormas-596c18fcd45a2e06057c61a2.jpg

Empat orang pria duduk membelakangi sebuah backdrop bertuliskan Tablig Akbar: Syariat Islam Sebagai Solusi Terbaik; Negeri Idaman Harapan Ummat. Di kanan kiri backdrop terpampang bendera hitam bertulis Allah Rosul Muhammad (dalam bahasa  Arab) menghiasi ruangan. Bangunan semi permanen yang sebagian berdinding  seng itu nampak penuh disesaki pengunjung.

Terlihat seorang pria berjenggot panjang  antusias berbicara sambil memegangi mic kecil di depan puluhan  pendengarnya. Tampak juga Munarman, juru bicara Front Pembela Islam,  duduk mendampingi bersela satu orang. Sementara di sisi kanan orang yang  sedang berbicara itu, pembawa acara tampak sigap merespon ajakan takbir  dengan mengacungkan tangan sambil berteriak Allahu akbar diikuti oleh seluruh peserta.

Sang pembawa acara lalu mengambil  kendali mic, dan mengajak para peserta untuk menirukan naskah baiat  kepada Abu Bakar al Baghdadi, pendiri ISIS. Tak berselang lama, baiat  pun diikrarkan. Terlihat para peserta amat bersemangat menirukan kalimat  baiat sambil terus mengacungkan telunjuknya ke langit-langit.

****

Pemandangan tadi adalah segelintir  aktivitas pro ISIS yang terekam kamera dan diambil gambarnya pada 25  Januari 2015. Pada saat tulisan ini dibuat, videonya masih bisa kita  temui di situs berbagi video, Youtube. Muh. Basri, orang yang menjadi pembicara dalam forum tersebut kemudian ditangkap oleh tim Densus88 tiga bulan setelah itu.

Geliat dukungan pada ISIS yang  diinisiasi oleh berbagai ormas Islam garis keras nyata-nyata ada di  Indonesia. Mereka bergerak di bawah tanah menggalang dukungan dari  pelosok ke pelosok, dari satu kota ke kota yang lain untuk satu tujuan:  menegakkan negara Islam.

Konsepsi mengenai negara Islam seperti  apa yang hendak mereka dirikan memang masih belum jelas. Tapi umumnya  mereka bersepakat, bahwa ISIS adalah salah satu "prototipe" negara Islam  yang mereka maksud.

Dan dengan melihat sepak terjang ISIS  selama ini, seharusnya kita bisa dengan mudah untuk mengatakan bahwa apa  yang orang-orang tadi lakukan tidak bisa dibiarkan.

Semenjak diumumkan pembubarannya bulan  Mei lalu, beberapa ormas yang selama ini getol menuduh pemerintah ini  toghut, gencar bermanuver untuk mencari selamat. Seringkali manuver yang  mereka lakukan juga tampak kontradiktif. Salah satunya soal sikap  mereka pada Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Pembubaran Ormas yang baru  saja diteken Presiden. Betapa tidak, mereka yang selama ini menuduh  negara ini sesat dan tidak sesuai dengan "hukum Allah" tetiba hendak  mengajukan judicial review,yang kita tahu adalah salah satu mekanisme yang digunakan oleh negara yang mereka sebut toghut laknatullah.

Tapi bukan HTI namanya jika tak pandai  berkilah. Toh selama ini mereka memang bermain di dua kaki. Pakai  standar ganda. Oh saya tidak mengatakan mereka adalah kaum munafikun  loh, tapi begini, di tingkat pembesar-pembesarnya mereka menyatakan  setia pada NKRI sambil memastikan gerakan akar rumputnya menyulut  kebencian pada negara dus pemerintahnya.

Brosur, poster, dan ulasan yang mereka buat terlalu kuat untuk tidak mengiyakannya.

Masalah gerakan politik ekstrem berwajah  Islam macam HTI ini sebenarnya bukanlah masalah internal yang hanya  dialami oleh Indonesia semata. Negara-negara lain pun mengalami gejala  serupa. Mereka merasa gerakan setamsil HTI sepertihalnya kanker yang  menggrogoti kedaulatan negara. 16 negara bahkan tercatat telah  membubarkan sekaligus melarang aktivitas Hizbut Tahrir, induk dari  Hizbut Tahrir Indonesia.

Bahkan negara-negara yang selama ini  didengung-dengungkan sebagai negara Islami dambaan pendukung HTI seperti  Turki, Mesir, hingga Arab Saudi tercatat sebagai negara yang melarang  aktivitas Hizbut Tahrir. Beberapa negara malah tak segan melabeli mereka  sebagai organisasi teroris.

Daftar negara-negara yang secara resmi telah melarang dan atau membubarkan Hizbut Tahrir

Selama ini HTI berhasil bersembunyi  dibalik kata syariat, tauhid, dan bendera dengan lafadz sahadattain. Dan  inilah yang saya pikir menjadi tantangan para cendikia, mubaligh, dan  dai, selanjutnya setelah pemerintah memainkan peran strategisnya dengan  membubarkan HTI.

Agama yang dipahami secara simbolik dan  artifisial nyatanya bisa begitu membahayakan. Hanya dengan mengucap  kalimat takbir orang sudah merasa paling tinggi imannya dan berhak  mengkafirkan yang lain. Pun dengan menenteng bendera yang rupanya mirip  bendera zaman Rasulallah, Ar Rayah dan Al Liwa', orang  sudah merasa paling lurus akidahnya sehingga merasa otoritatif untuk  mengatakan amalan kyai yang mondoknya puluhan tahun sesat belaka.

Padahal ber-Islam mestinya tidak selesai  pada simbol-simbol dan ritus peribadatan semata. Beragama, Islam tentu  saja, harus dimaknai sebagai upaya "mewakili" kehadiran Allah SWT di  bumi ini. Dan sudah sama-sama kita tahu, bahwa seandainya asmaul husna adalah perwujudan dari Allah, maka "wajah-Nya" adalah sifat Rahmandan Rahim.  Dengan kata lain, orang Islam yang tidak menampakkan sifat kasih dan  sayangnya Allah sama halnya dengan mencoreng "wajah" Allah. Naudzubillah.

Dalam bernegara pun demikian. Kita tidak  boleh menjadi kelompok mayoritas yang congkak lagi egois. Indonesia  adalah rumah bersama yang padanya berlindung berbagai individu.  Masing-masing individu penghuninya tidak boleh saling bentrok, sebab  mestinya saling berbagi peran untuk memakmurkan rumah. Tidak malah  memelihara benci untuk kemudian menunggu waktu guna melampiaskannya. 

Sumber: