HIGHLIGHT

Pendidikan Karakter atau Pendidikan Berkarakter?

02 Oktober 2012 11:40:14 Dibaca :

Semakin berkembangnya teknologi, setiap negara dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing dengan negara lain. Selain dari segi kualitas pendidikannya, negara juga dituntut menciptakan para generasi muda yang berkarakter. Oleh karena itu penting untuk diadakan pendidikan karakter, yaitu metode pendidikan yang juga mengajari berperilaku. Dewasa ini, Indonesia semakin banyak menghasilkan manusia yang tidak berkarakter, terbukti dengan banyaknya bermunculan para koruptor. Kasus korupsi yang terjadi di Indonesia tidak dapat disangkal merupakan hasil dari proses pendidikan yang ada. Pendidikan karakter hendaknya terfokus pada pengembangan karakter tiap individu baik dalam segi pengetahuan maupun pengembangan keterampilan dan sikap individu agar nantinya terbentuk sumber daya manusia yang memiliki karakter. Pendidikan karakter atau berkarakter? Pertama kita harus meluruskan terlebih dahulu pengertian dari pendidikan karakter dan pendidikan berkarakter yang menjadi tema penulisan ini. Menurut hemat saya, kedua jenis pendidikan memiliki arti, sasaran serta output yang sangat berbeda. Disini saya akan membahas kedua pengertian tersebut dan membedakan hasilnya.


Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang membagi fokusnya terhadap dua hal, yaitu ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter individu yang dalam hal ini lebih ditekankan kepada sikap, perilaku dan cara berpikir individu. Pendidikan karakter sangat penting perannya dalam membatasi langkah dan perilaku individu agar tidak melanggar norma dan hal-hal lain yang bertentangan dengan budaya masyarakat timur. Pendidikan karakter sangat baik jika diterapkan sejak dini dengan sasaran anak-anak agar terbentuk pribadi yang memiliki pandangan dan ideologi sendiri. Namun coba kita lihat sekeliling kita, anak-anak sudah dijejali aneka macam permainan berteknologi tinggi. Apa karakter yang bisa diciptakan dari permainan tersebut? Hal yang sangat mungkin terjadi adalah bahwa anak akan ketagihan, sehingga mengganggu waktu belajar dan akan berpengaruh terhadap aspek ilmu yang diperoleh dan pada akhirnya akan berdampak pada terciptanya individu yang tidak berkualitas dan tidak siap bersaing. Setujukah Anda jika saya berkata “permainan tradisional sudah mulai punah, padahal permainan tersebut merupakan karakter asli anak-anak Indonesia”. Begitu banyak permainan tradisional yang membutuhkan keaktifan dan kreativitas anak. Apakah yang seperti ini bukan bagian dari pendidikan? Apakah pendidikan hanya melulu berbasis kurikulum yang diajarkan di sekolah? Agaknya pemikiran Anda perlu diperluas lagi. Pendidikan karakter tidak hanya harus diberikan di lingkungan sekolah, namun keluarga juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Selain keluarga, lokasi bermain pun demikian. Cara mengajar di kelas perlu ada inovasi. Menurut saya, pendidikan karakter anak harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, kemudian sekolah dan tempat bermain. Apa yang diperoleh anak dalam kegiatan sehari-harinya bisa diperbaiki ketika di rumah. Orang tua dalam hal ini harus mendidik anaknya agar memiliki karakter sendiri. Pendidikan karakter tidak harus masuk dalam kurikulum pendidikan. Ini hanyalah proses dari perbaikan sistem nilai dan akhlak di Indonesia. Jika pendidikan karakter dimasukkan dalam kurikulum, maka hal tersebut akan sangat berkaitan dengan norma-norma yang ada dan lebih mendekati pendidikan agama. Bukankah di semua jenjang pendidikan, pelajaran agama sudah diberikan? Jadi, output dari pendidikan karakter adalah membentuk manusia-manusia berkualitas dan berkarakter yang siap bersaing tanpa terbawa arus yang berlebihan.


Pendidikan seperti apa yang berkarakter? Semua jenis pendidikan pasti memiliki karakter atau kekhasan tersendiri dalam pelaksanaannya. Seperti halnya di Indonesia, Ujian Nasional masih menjadi penentu kelulusan para siswa, padahal bukan nilai ujian yang nanti menentukan berhasil atau tidaknya siswa-siswa tersebut di lapangan. Bagi saya, UN hanyalah lotere keberuntunga, jika Anda beruntung maka akan dapat hadiah, jika tidak, itu akan menjadi resiko Anda sendiri. Masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Namun terkadang kemampuan atau bakat mereka itu tidak berguna sama sekali karena mereka terpaksa harus mengikuti sistem pendidikan yang demikian. Saya berpikir, mengapa sekolah di Indonesia tidak ada yang khusus menekankan pada bakat anak. Akan lebih efektif jika sejak dini kita tahu kemampuan negara kita sendiri dengan menggali bakat-bakat yang dimiliki oleh masing-masing anak. Dengan demikian, negara hanya perlu menyalurkan kemampuan-kemampuan rakyatnya ke sektor-sektor yang sesuai dengan kualitas mereka agar tidak tercipta kaum 'bodoh' dan kaum 'pintar', karena masing-masing anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Agaknya kita harus terus mengikuti sistem pendidikan Indonesia yang seperti itu. Jika ingin menciptakan pendidikan yang berkarakter, maka sistem pendidikannya lah yang harus diperbaiki.

Fajar Winarsih

/fajar.winarsih

Mahasiswa Departemen Geografi, FMIPA UI yang memiliki mimpi sebagai sahabatnya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?