HEADLINE

Membaca Kembali Pemikiran Tan Malaka

27 Oktober 2011 11:02:57 Dibaca :

“Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian dapat belajar dari orang Barat. tapi jangan sekali-kali kalian meniru dari orang Barat. Kalian harus menjadi murid-murid dari Timur yang cerdas…” (Tan Malaka) Sejarah pemikiran politik modern di Indonesia diawali dengan bangkitnya nasionalisme modern. Dimulai abad XX, ketika sekelompok kecil orang-orang terpelajar (kaum terdidik) mulai menyadari arti kemodernan dan tantangan bangsanya dimasa-masa yang akan dating. Umumnya mereka memandang masa-masa yang akan dating, akan banyak berganttung pada mereka dan anggapan pemimpin potensial masa depan begitu diyakininya. Kaum terpelajar ini diawal abad XX memang mulai merasakan nuansa-nuansa lain dalam kehidupan berbangsa. Kesadaran obyektif akan kondisi social masyarakat disamping mulai banyaknya orang-orang terpelajar berkenalan dengan pemikiran politik modern, seperti Pan Islamisme di Timur Tengah yang banyak mempengaruhi Sarekat Islam, jug aide-ide sosialis mempengaruhi pemikir-pemikir seperti Hatta, Sjahrir, dan lain-lain. Disamping itu paham komunis turut mempengaruhi pentas politik kala itu, hal ini terbukti dengan lahirnya Partai Komunis Indonesia di tahun 1920. Dalam perkembangannya kesemua pemikir politik ini akhurnya menemukan kesadaran baru, dan gerakan-gerakan perlawanan pada akhirnya banyak yang menjadikan kemerdekaan sebagai cita-cita politik. Dan hasil dari gerakan perlawanan itu adalah terwujudnya pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia. Dewasa ini, kaum muda terutama kaum pergerakan atau yang biasa kita sebut aktifis kurang memahami pemikiran-pemikiran para founding fathers bangsa kita. Apalagi kalau berbicara tentang Tan Malaka. Namanya hanya sayup-sayup terdengar sebagai seorang revolusioner tanpa mengetahui pemikirannya yang banyak mempengaruhi gerakan kebangsaan kita. Oleh karena itu, kita sebagai anak muda anak kandung bangsa ini, merasa terpanggil untuk mengkaji kembali pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh pejuang bangsa ini. Semoga niat baik kita bisa membuahkan hasil yaitu anak-anak muda yang tidak hanya siap bergerak, tetapi juga memahami sejarah bangsa juga pemikiran para tokoh pendiri bangsa ini. Siapakah Tan Malaka? Berbicara tentang Tan Malaka, maka kita berbicara mengenai tokoh legendaris. Bisa dibilang dialah tokoh pejuang paling misterius sepanjang sejarah kemerdekaan. Selama hidupnya ia hanya merasakan beberapa tahun kebebasan dan berjuang ditengah-tengah rakyat, dan selebihnya ia berada dalam pengasingan atau dalam penjara. Tokoh ini memang cukup unik. Bila kita perhatikan, pemikirannya begitu kompleks. Tan Malaka tidak hanya selalu dapat dikataka sebagai pemimpin komunis, namun lebih dari itu. Di mata Ben Anderson, Tan Malaka dilihat sebagai seorang nasionalis yang komunis. Sedangkan George Mc. T Kahin lebih suka melihat Tan Malaka dalam perspektif seorang komunis yang menyadari arti penting nasionalisme sebagai sikap mandiri yang harus dijunjung tinggi. Sementara Semaoen, pemimpin PKI pertama, melihat Tan Malaka sebagai seorang Marxis-Leninis yang konsisten. Di mata PKI sendiri pasca pemberontakan 1926/1927 Tan Malaka dilihat sebagai Trotskyis, symbol untuk menyebut musuh partai dalam perspektif Stalinis. Bahkan lebih jauh dari itu Hamka juga menyebut Tan Malaka sebagai pemimpin Islam Indonesia, sama seperti Soekarno dan Hatta. Dalam catatan sejarah kelahiran Tan Malaka masih terdapat perbedaan-perbedaan mengenai tanggal, tahun lahirnya namun dengan catatan ia masuk sekolah rendah tahun 1903. jadi diasumsikan Tan Malaka lahir pada 02 Juni 1897 di desa Pandan Gadang Sumatera Barat. Nama lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka sebuah nama khas Minang yang kental dengan tradisi islamnya. Ia bisa dikategorikan sebagai slah satu dari tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia sejajar dengan Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh. Yamin, dll. Perjuangannya yang revolusioner juga dibuktikannya dengan kemunculan karya-karyanya yang orisinil dan filosofis sehingga sangat berpengaruh terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia . Sayangnya tak banyak penulis Indonesia dimasa kemerdekaan yang mengeksplorasi pemikirannya karena persepsi dan stigma yang negative terhadapnya. Namun Tan Malaka tetaplah sosok yang tak pernah berhenti berfikir. Sumbangan pemikirannya akan menjadi refleksi bagi perenungan kita dimasa sekarang dan akan datang untuk terus melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia . Ketika menceritakan riwayat hidupnya, Tan Malaka berusaha melepaskan keterkaitannya dengan PKI, dengan mengaku sebagai ketua Sarekat Rakyat dan bukan Comintern. “Saya bukan Bolsyevik”. Ia mengelak dari tuduhan tersebut. “Jika seseorang mencintai tanah airnya memperlihatkan kecendrungan terhadap bolsyevikisme, maka panggillah saya Bolsyevik”.  Marxisme bagi Tan Malaka harus dipahami dalam kerangka teoritis dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat dimana ia tinggal. Yang penting dari Marxisme penerapan metode Marx berfikir, bukan menjalankan hasilnya cara berfikir. Kalau materialisme di barat menganggap bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini berasal dari benda (matter), maka sesuatu yang bukan benda (un matter) dan tidak masuk di akal/ tidak rasional walaupunsecara fakta ada, akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak ilmiah dan harus ditolak. Namun menurut Tan Malaka, dasar dan aksioma materialism Barat tidak cocok diterapkan di Indonesia. Karena perbedaan aksioma dalam memahami materialism inilahyang membuat Tan Malaka dalam melihat materialism dialektis berlainan dengan yang dipahami Marx dan Engels. Beberapa kali Tan Malaka menyatakan dirinya sebagai seorang komunis dan materialis, namun disisi yang lain dia juga mempercayai agama. Menurut Tan Malaka, masyarakat Indonesia tidak mungkin dapat menerima filsafat materialism Barat, yang Marxisme adalah turunannya. Formula yang tepat bagi keyakinan politiknya adalah Murbaisme. Revolusi dan Nasionalisme Murbaisme adalah formula tepat bagi keyakinan politik Tan Malaka. Hal itu ditunjukkan ketika revolusi Indonesia bergolak Tan malaka tetap berpendapat, ini adalah revolusi nasional Indonesia dan tidak ada hubungannya dengan perlawanan terhadap facisme, seperti yang dipropagandakan oleh kaum komunis. Dalam konteks tersebut revolusi nasional dilihat semata-mata sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme Belanda. Namun kaum komunis Indonesia tidak berdiri diatas itu, bagi mereka facisme jepang hanyalah merupakan satu tahap dari perkembangan kapitalisme, untuk itu facisme harus diperangi. Bagi Tan Malaka sikap facisme buta adalah bentuk ke-tidaknasionalisme-an. Bagi Tan Malaka revolusi Indonesia memiliki dua sisi, revolusi nasional adalah bingkainya dan revolusi sosial adalah isinya. Jadi revolusi Indonesia tidaklah berhenti pada revolusi politik semata-mata, naumn harus dilanjutkan dengan emansipasi social sebagai kelanjutan revolusi tersebut. Melaui MADILOGnya, bisa ditunjukkan bahwa Tan Malaka berusaha mensintesakan Marxisme dalam konteks ke-indonesia-an, dengan melacak akar-akar kebangsaan dan kebudayaan masyarakat untuk kemudian diselaraskan dengan keyakinan politiknya, yaitu Murbaisme. Murbaisme dengan demikian tidak sama dengan komunisme. Atau lebih enaknya dikatakan Marxis-Nasionalis. Ia memiliki cirri khas dalam menuangkan ide-ide nasionalisme, yang membedakannya dengan tokoh-tokoh yang lain.dalam pemikirannya terdapat konvergensi anatara ideology Marxisme, yang sebenarnya bersifat internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi rasa kebangsaan, dengan ideology nasionalisme yang memiliki cirri khas pada nation state. Disamping itu, dalam MADILOG ia juga memperlihatkan penghargaannya terhadap islam. Islam sangat mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Islam diakuinya sebagai obor penerang dalam hidupnya. Selanjutnya kalau ia dikatakan seorang komunis, tetapi mengapa ia begitu menekankan aspek persatuan diantara sesama warga bangsa apapun afiliasi politik maupun ideologinya, mengapa ia tidak berjuang untuk perjuangan kelas yang menjadi bagian penting dalam teori Marxis-Leninis. Dan yang lebih mencolok lagi adalah mengapa ia ber-Tuhan?, hal itu dibuktikannya ketika ibunya sakit, ia sempat berulang-ulang melantunkan bacaan surat yasin dalam al-qur'an. Tan Malaka telah membeberkan aspek-aspek baik secara histories, rasionalistis, dan dinamis. Sekiranya perlu kita meniilk kembali pemikirannya dan gagasannya. Dan stigma komunisme buta saya kira tidak lagi relevan kita jalankan mengingat kita sat ini memang benar-benar membutuhkan sumbangan pemikirannya. Dan yang paling penting bagi kita sebagai anak muda adalah membuka dan mengeksplor kembali pemikiran Tan Malaka kepada orang lain untuk didiskusikan. Karena dengan hal itu mungkin akan lebih baik dan implementatif dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa ini kedepan.

Fahri Haidar

/fahrihaidar

Ketua Bidang Luar Negeri DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?