Exo Sura
Exo Sura Analis

Lembaga Riset Independen, Konsultan Strategic, Lecturer, Time Travelers saran : eagustio@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Mall atau Plaza Mulai Ditinggal Pengunjung, Salah Siapa?

18 Juli 2017   08:52 Diperbarui: 18 Juli 2017   10:27 52619 17 2
Mall atau Plaza Mulai Ditinggal Pengunjung, Salah Siapa?
pict source : skyscapper.com

Membaca beberapa berita belakang ini terkait dengan Mall atau Plaza yang awal 2000 mulai tumbuh subur di Jakarta, Nampak nya cukup bertolak belakang dan akhir-akhir ini. Banyak mall atau plaza yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.

Kalau membaca sejarah berita sepuluh tahun yang lalu, maka hampir semua wilayah Jakarta di jejali dengan pembangunan Mall atau plaza yang berkonsep menengah atau mewah. Alih-alih pada saat itu yakni pola konsumtif masyarakat Jakarta yang cukup tinggi, ditambah dengan gaya hidup mewah sepertinya pergi ke Mall atau Plaza menjadi gaya hidup tersendiri.

Pergeseran Budaya dan daya beli masyarakat

Budaya untuk pergi ke Mall atau Plaza untuk sekedar cuci mata atau hiburan mungkin mengalami pergeseran. Mall atau Plaza yang terkenal tempatnya cukup enak untuk nongkrong atau tempat bertemu nampaknya mulai bergerser ke kedai kopi atau tempat-tempat kuliner yang bebas menyediakan Wifi gratis, tempat-tempat kuliner yang sambil nongkrong bisa update status di socialmedia dsb.

Dulu Mall atau Plaza mungkin menjadi tempat yang nyaman dan aman. Semua terasa ada disana, hampir semua kebutuhan dijual disana. Terlebih banyak toko ritel seperti H**rmart, C*r**four.  Manjdikan mall menjadi tempat yang melayani semua kebutuhan. Mungkin memang agak mahal karena ada biaya promosi, sewa tempat dsb.

Namun saat ini mungkin tergantikan dengan geliat toko online dimana memang harga yang ditawarkan menjadi lebih murah dan simple. Bahkan mungkin kepaktisan dan serba ada nya Mall atau Plaza mulai tergantikan dengan Online Shop. Hampir semua orang saat ini memiliki ponsel dan terhubung dengan internet satu sama lain. 

Mudahnya komunikasi ini dimanfaatkan betul oleh start up untuk membuka Toko Online. Kelebihan toko online sendiri salah satunya mungkin murah (langsung dari distributor, tidak perlu sewa toko), mudah/simple dan bergaransi uang kembali jika tidak cocok (beberapa toko online). Tercatat puluhan toko online menwarkan berbagai penawaran, mulai free delivery sampai menentukan sendiri cicilan --cicilan nya. Memang tidak ada data pasti mengenai berapa perputaran uang di bisnis Online shop ini namun trend ini sudah mulai beralih terutama di kota-kota besar.

Jika dulu berkunjung/nongkrong di Mall menjadi identitas bagi sebagian orang, meskipun hanya belanja barang yang tidak seberapa namun gengsi naik. Atau sebagai sarana peningkatan identitas diri atau gengsi naik. saat ini maraknya fenomena cabe-cabean atau alay atau sebutan lainnya untuk anak ABG yang suka nongkrong di Mall atau Plaza. 

Mungkin karena hal diatas membuat nongkrong di Mall/Plaza menjadi turun gengsi. Alias nongkrong di mall atau plaza menjadi dipersamakan ala cabe-cabean atau anak alay. Yang memang sukanya hanya nongkrong atau berkeliaran di Mall atau plaza. Hal ini membuat orang-orang jika tidak ada yang penting-penting amat tidak mau atau enggan ke Mall atau Plaza.

Mall atau plaza dijadikan tempat rekreasi dan menghabiskan waktu bersantai di Mall atau Plaza, mungkin kebiasaan ini sudah bergeser. Orang-orang sudah beralih dari rekreasi indoor ke rekreasi outdoor. Banyak arena rekreasi non mall atau plaza yang didirikan membuat Mall atau Plaza mungkin sudah mulai tidak diminati.

Beberapa pengamat dan pengusaha ritel mengatakan terjadi penurunan daya beli, namun benarkah terjadi penurunan daya beli, menilik sedikit pada kondisi perekonomian akhir-akhir ini memang cukup berasalan untuk mengindikasikan hal tersebut.  Tingkat inflasi per juni 2017 tercatat terendah sejak tahun 2009. Menurut BPS inflasi menjelang lebaran sebesar 0.26 persen kemungkinan memang akibat daya beli yang menurun.

Memang belum ada data valid mengenai beralihnya pola konsumsi masyarakat dari Mall atau plaza ke Online shop ini. Namun berita sepinya pasar Glodok, Blok M atau beberapa Mall atau Plaza di media akhir --akhir ini termasuk ada beberapa gerai lokal/asing yang tutup hanya memang karena missed management toko-toko tersebut sendiri. ataupun jika memang pola berbelanja masyarakat telah berubah, saat nya pengusaha ritel segera melakukan penyesuaian sehingga bisa mengikuti kemauan dan kemampuan masyarakat saat ini.  Atau daya beli yang menurun menjadi Alarm bagi pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 5,1 persen pada tahun ini di samping penurunan sektor-sektor lainnya.

---

Referensi: 1 | 2 | 3 |