Emanuel Dapa Loka
Emanuel Dapa Loka

Suka menulis dan membaca... Suami dari Suryani Gultom dan ayah dari Theresia Loise Angelica Dapa Loka. Bisa dikontak di dapaloka@hotmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Yap Thiam Hien, Demi Keluhuran Martabat Manusia

27 November 2013   18:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:36 475 1 0
Yap Thiam Hien, Demi Keluhuran Martabat Manusia
13855517231718418373

[caption id="attachment_280635" align="aligncenter" width="300" caption="Cover buku. Namanya diabadikan dalam YAP THIAN HIEN AWARD"][/caption]

Sekiranya hukum, keadilan, dan hak asasi manusia adalah agama, maka bukan mustahil Yap memilihnya sebagai agama. Itulah yang dipilih dan diperjuangkan oleh Yap. Demikian tulis Todung Mulya Lubis pada halaman 227 buku ini. Todung tentu hendak mengatakan bahwa sosok Yap Thiam Hien adalah sosok yang sangat concern, konsisten, dan bahkan mencintai hukum, keadilan, dan hak asasi manusia.

Dan benar, oleh karena keteguhan sikapnya pada ketiga hal tersebut, nama Yap menjadi harum dalam sejarah negeri ini. Namanya diabadikan dalam penghargaan perjuangan HAM Yap Thiam Hien Award. Sejak 10 Desember 1992, penghargaan ini dianugerahkan kepada mereka yang menunjukkan dedikasinya pada penegakan HAM di negeri ini.

Pria kelahiran Banda Aceh, 25 Mei 1913itutidak hanya pantas dikenang, tapi lebih dari itu, ia layak menjadi teladan bagi generasi muda di Indonesia secara lintas profesi hari ini. Uniknya—dan inilah alasan penting dia layak dijadikan contoh—meskidia mengidap tiga sindrom sekaligus, yakni Kristen, Thionghoa, dan jujursepertidikatakan Dr. Arief Budiman—Yap selalu tampil sebagai seorang “Indonesia tulen” yang siap membela siapa pun tanpa kompromi.

Dia pernah membela Subandrio, para pedagang Senen yang tergusur, Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Soebadio, Sjahrir, termasuk Princen, dan para tersangka peristiwa TanjungPriok. Satu-satunya motivasi Yap adalah agar tidak ada manusia yang diinjak-injak martabatnya. Ya, demi keluhuran martabat manusia.

Buku yang diterbitkan atas kerja sama Center for Development and Culture (CDC), PGI, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), dan YLBHI ini dimaksudkan untuk mengenang kiprah Yap di jagad hukum dan HAM di Indonesia. Buku ini juga dimaksudkan untuk menyambut ulang tahun kelahiran Yap Thiam Hien yang ke-100 pada bulan Mei 2013.

Tentu saja, selain hal-hal yang bersifat seremonial, kehadiran buku ini bisa mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan dan hak yang sama di depan hukum, dan tak seorang pun yang berhak melanggarnya. Hal lain yang hendak didedahkan buku ini adalah, bahwa setiap manusia saling bersaudara atau berteman satu dengan yang lain. Dalam bahasa Latin, semangat ini sampaikan dalam ungkapan klasik amici amici mei amici mei sunt yang berarti, teman dari temanku adalah temanku juga. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk saling meniadakan. Justru seharusnya, saling mengadakan.

Buku ini terdiri atas 19 bab yang digolongkan ke dalam 4 bagian lalu ditutup dengan sebuah epilog dan testimoni berisi 3 tulisan. Bagian pertama berjudul: “Catatan Historis Semangat Yap Thiam Hien”. Bagian ini terdiri dari dua tulisan, yakni tulisan Christianto Wibisono berjudul Yap Thiam Hien: Prototipe Super-EmpoweredIndividual dan tulisan Ferdy Suleeman berjudul Suara yang Berseru-seru di Padang Gurun. Keduanya mencoba menyoroti kiprah Yap secara keseluruhan sekaligus menangkap inti dari perjuangannya.

Bagian kedua berjudul “Kebangsaan dalam Kemajemukan”. Bagian ini terdiri atas enam tulisandari penulis berbeda dan mengupas pemikiran dan kiprah Yap terkait kemajemukan, termasuk sorotan tentang situasi kontemporer Indonesia. Mereka terutama mencatat peristiwa intoleransi—terutama atas nama agama di negeri ini.

Bagian ketiga yang berjudul “Penegakan Hukum, Keadilan, dan Kemanusiaan” mencoba menggali relevansi kiprah dan pemikiran Yap dalam bidang hukum dan HAM. Para penulis pada bagian ini melihat adanya jurang antara spirit dan cita-cita Yap dengan praktik. Pada bagian ketiga, tiga penulis, yakni Josef Widyatmadja, Todung Mulya Lubis, dan Andreas Yewangoe menyingkap aspek “spiritualitas” Yap, terutama terkait dengan iman dan pilihan-pilihannya dalam berpraksis.

Mereka mencatat bahwa walaupun diinspirasi oleh iman Kristennya, Yap memilih berjuang di luar tembok gereja. Ketiga penulis tersebut, setidaknya menjawab pertanyaan “teologi” apa yang dianut Yap? Apakah ia seorang Kristen yang “fanatik”? Bagaimana sikapnya terhadap organisasi gereja tempatnya berjemaat?

Yap memandang agama sebagai sarana yang membekalinya dengan berbagai peralatan untuk berjuang secara lintas batas. Maka sangat tepat yang dikatakan Zuly Qodir dalam tulisannya berjudul Indonesia yang Terkoyak Kekerasan Atas Nama Agama. Intelektual muda Mahammadiyah iniberhasil menerjemahkan dambaan masyarakat hari ini pada peran agama yang pasti adalah dambaan Yap juga. Pada halaman 276, Zuly menulis, agama harus dibebaskan dari kepentingan kelompok yang akan menumbuhkan kekerasandan sektarianisme yang akan membelenggu masyarakat. Agama harus dihadirkan untuk membela rakyat yang melarat dan terdiskriminasi, bukan membela para raja dan penguasa.

Buku ini tidak hanya memberi wawasan segar ihwal HAM, namun juga bisa menggerakkan semangat pembaca umum untuk menjadi “pejuang” HAMdalam skala masing-masing. Untuk itu, siapa pun perlu membaca buku ini. Bukan supaya setiap kita menjadi pembela HAM kondang, tapi agar kita menyadari kehadiran setiap orang—siapa pun, apa punlatar belakangnya—di sekitar kita sebagai sesama yang patut dihargai. Ya, amici amici mei, amici mei sunt.

Emanuel Dapa Loka, wartawan, penulis buku “Orang-Orang Hebat; Dari Mata kaki ke Mata Hati. Tinggal di Bekasi.

Judul : Yap Thiam Hien, Pejuang Lintas Batas

Penyunting : Josef P. Widyatmaja

Penerbit : Libri, 2013

ISBN : 978-602-7688-36-0

Tebal : XVI + 338 halaman