Game Dan Politik

14 Juni 2012 17:51:13 Dibaca :

Mohon maaf sebelumnya apabila dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang kurang dimengerti atau tidak sesuai EYD. Penulis juga tidak mendukung ataupun merendahkan salah satu pihak yang disebutkan dalam tulisan ini.


Mungkin pembaca akan bertanya-tanya apa hubungan antara game (dalam hal ini game melalui media elektronik) dengan politik. Aneh memang pertama kali mendengarnya, namun sebenarnya kedua hal ini sangat berhubungan apalagi di zaman yang sudah bergantung sekali dengan kemajuan teknologi, hingga dunia hiburan pun tak luput dari arus pergerakan teknologi ini, salah satunya adalah game. Game sudah berkembang pesat dari pertama kali dikenal dalam media elektronik. Anda pasti mengenal game bernama Tetris (game menyusun balok-balok berbagai bentuk untuk memperoleh skor). Mulai dari game sederhana ini berevolusi menjadi game yang menggunakan model karakter tiga dimensi mirip dengan manusia sesungguhnya dan mulai memiliki alur cerita mulai dari yang sederhana hingga yang harus menguras kreatifitas otak. Sasaran pasar tidak hanya kalangan anak-anak saja, namun juga remaja dan dewasa (ditandai dengan kode rating di setiap judul game).


Lalu apa hubungannya dengan politik? Di sinilah hubungannya mulai bisa ditarik. Kemajuan teknologi komunikasi yang pesat membuat seseorang tidak perlu langsung bertatap muka dengan lawan bicara guna menyampaikan ideologinya. Komunikasi pun bisa dilakukan langsung kepada khalayak ramai tanpa perlu kesulitan. Ini juga menggambarkan jika dalam berkomunikasi tidak perlu memperlihatkan wajah dari pelaku komunikasi dengan alasan privasi dan semacamnya. Dengan kunci ini maka berbagai cara dilakukan untuk menyampaikan ideologi, salah satunya adalah melalui media game. Politik bukan melulu tentang “merebut kekuasaan” tetapi juga bagaimana mempengaruhi pola pikir lawan sehingga bisa menerima ideologi yang disampaikannya entah disadari atau tidak.


Penulis sendiri sebagai seorang gamer (sebutan untuk pemain game) merasakan bagaimana pintarnya pihak-pihak pengembang game dan tanpa disadari sebagian gamer menyusupkan konten-konten yang mengandung ideologi mereka sebagai pesan tersembunyi atau secara terang-terangan meyampaikannya. Akan penulis contohkan salah satu game yang secara tersembunyi menyusupkan konten politik. Untuk pembaca yang juga seorang gamer pasti mengenal game berjudul “Call of Duty : Black Ops”. Bagi yang belum mengetahuinya ini adalah game bertema first person shooter (game dengan sudut pandang orang pertama, jadi kita seolah-olah adalah karakter dari game tersebut). Memiliki latar belakang sekitar tahun 1960-an, yaitu saat perang dingin antara Amerika Serikat yang masih dipimpin oleh John F. Kennedy dan Uni Soviet yang masih dipimpin oleh Nikita Sergeyevich Khrushchev.


Kita akan menjalani peran sebagai seorang pasukan khusus Amerika Serikat bernama Alex Mason mencari senjata kimia milik Uni Soviet. Misi yang disajikan cukup kontroversial sehingga game ini dilarang di beberapa negara termasuk Rusia itu sendiri. Misi pertama adalah membunuh seorang tokoh yang pastinya pembaca kenal, yaitu Fidel Castro, tetapi misi ini gagal karena ternyata yang terbunuh adalah peran pengganti Fidel Castro (cerdik juga ternyata Castro hingga tahu kalau akan ada pembunuhan atas dirinya). Sangat kontroversialnya konten dari game tersebut terkesan seolah-olah Amerika Serikat ingin membelokkan sejarah yang sudah tercatat. Misi yang penulis maksud adalah senjata kimia yang menjadi tujuan utama dalam cerita. Di salah satu misi di dataran Vietnam yang saat itu sedang terbagi menjadi dua kubu kita akan menemukan sebuah dokumen berisi percobaan senjata kimia tersebut pada penduduk asli Vietnam dengan memperlihatkan beberapa foto asli yang diambil dari arsip sejarah. Amerika Serikat seolah-olah ingin menutupi kejadian yang sebenarnya dilakukannya sendiri. Tahukah pembaca tentang Orange Agent atau Agen Oranye? Agen Oranye adalah semacam herbisida yang yang digunakan pasukan Amerika Serikat dalam memusnahkan tanaman pangan (herbicidal warfare) di Vietnam dengan tujuan mengancurkan kekuatan tempur pasukan Vietnam. Tidak hanya berdampak pada tanaman, ternyata agen herbisida ini juga berdampak secara fisik pada manusia mulai dari cacat genetik dan kanker.


Setelah Perang Vietnam berakhir, Pemerintah Amerika Serikat berjanji akan megganti rugi yang diterima veteran perang Vietnam atas penggunaan Agen Oranye saat berperang. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Pemerintah Amerika Serikat malah menutup mata dengan tuntutan warga yang terpapar hingga puluhan tahun setelah kejadian tersebut. Jadi sebaiknya kita berpikir lebih jauh sebelum memainkan sebuah game atau paling tidak kita memiliki pegangan (seperti dasar pemikiran) yang kuat agar tidak mudah terpengaruh dengan “hipnotis” kesenangan yang ditawarkan pihak pengambang game.


Pembaca masih berpikir “game for fun”? Pikirkan lagi!

Evan Pratama

/eman_epan

Mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?