Humaniora

Transformasi Komunikasi Kebencanaan Menuju Masyrakat Sadar Bencana

13 September 2017   23:45 Diperbarui: 13 September 2017   23:55 85 0 0

Transformasi Komunikasi Kebencanaan Menuju Masyarakat Sadar Bencana

Mochamad Rochim, S.Sos., M.Si., Dede Lilis Ch, S.Sos., M.Si., Nova Yuliati,S.Sos., M.I.Kom.

Tulisan ini membahas mengenai keterkaitan warga dalam mengantisipasi suatu bencana. Hal tersebut menarik untuk dikaji, bagaimana masyarakat sadar dan mampu mengantisipasi bencana banjir yang sudah sangat sering terjadi seperti sebuah ritual dari masyarakat di daerah aliran sungai Citarum. Transformasi kebencanaan ini digagas dan dilaksanakan oleh komunitas warga yang tergabung dalam Komunitas Garda Caah dan Jaga Balai di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung sebagai warga terdampak banjir karena bermukim di sepanjang Daerah Aliran Sungai Citarum.Landasan teoretis yang dipergunakan dalam tulisan ini berpijak pada perspektifpengembangan masyarakat yang berpangkal pada kebutuhan sejati manusia untukmencapai potensinya sebagai manusia paripurna. 

Bencana Tsunami Aceh pada akhir Desember 2004 menjadi peristiwa yang menyadarkan bangsa bahwa pentingnya sebuah proses penanggulangan bencana yang sistematis. Kejadian Tsunami tersebut membuat kita tidak tahu secara mendetail tingkat kerugian dan bagaimana cara yang tepat untuk menanggulanginya. Sampai pada waktu tertentu, masyarakat Indonesia masih belum mengetahui data dengan jelas karena infrastuktur komunikasi di lokasi bencana mengalami kerusakan total. Pemerintah pada saat itu dianggap lamban dalam menghadapi bencana, ditunjang dengan buruknya komunikasi bencana yang Pemerintah jalankan. Hal tersebut menyebabkan infomasi yang beredar menjadi simpang siur dan sulit untuk kita percayai. Aliran informasi yang ada berjalan tanpa tata kelola serta tidak terintegrasi dengan baik. Padahal penanganan yang terintgrasi dan tertata dibutuhkan pada kondisi yang seperti itu.Seperti yang dijelaskan oleh Frank Dance (dalam Littlejohn, 2006:7), "salah satu aspek penting di dalam komunikasi adalah konsep reduksi ketidakpastian". 

Komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian. Hal tersebut agar dapat bertindak secara efektif demi melindungi atau mempertahankan ego yang bersangkutan dalam berinteraksi secara individual maupun kelompok. Sekarang ini sudah ada UU No 24 tahun 2007 yang mengatur tentang penanggukangan bencana dan juga sudah ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat pusat dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di setiap provinsi. Dalam UU tersebut bencana dikatakan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu kehidupan serta juga mengganggu penghidupan dari masyarakat. 

Hal tersebut baik disebabkan karena faktor alam  dan/atau dari faktor nonalam juga faktpr dari masnusia sehingga menimbulkan korban jiwa, tidak hanya jiwa bisa berakibat juga pada kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Dari sebab itu, masyarakat memiliki keharusan dalam meminimalisasi kemungkinan serta dampak yang akan terjadi dari sebuah bencana.BNPB menunjukkan data frekuensi dan intensitas bencana di Indonesia yang dalam 15 tahun terakhir ini terus meningkat. Pada tahun 2002 sudah tercata 140 kali peristiwa bencana, dan meningkat menjadi 2.542 kali terjadi pbencana pada tahun 2016. 95 persen dari bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometrologi. (Kompas, 20 Maret 2017) Bencana hidrometeorologi meliputi banjir, longsor, kekeringan, hingga pembakaranhutan dan lahan. 

Meningkatnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor erat kaitannya dengan curah hujan tinggi akibat kondisi cuaca ekstrem sebagai konsekuensidari perubahan iklim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Fokus penelitian dari penelitian ini terletak pada proses komunikasi masyarakat pinggran, baik bermedia ataupun tidak, dalam mengentaskan persoalan kemasyarakatannya yang akan sulit untuk dikuantifikasikan karena hal tersebut terkait dengan proses yang harus dilakukan dengan menggali data dari pelaku dalam setting alamiahnya.Penelitian ini menggunakan landasan teoritis berdasarkan perspektir pengembangan masyarakat yang berpangkal pada kebutuhan sejati manusia untuk mencapai potensinya sebagai manusia paripurna. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan studi kepustakaan. 

Teknik pengumpulan data tersebut dilakukan dengan komunitas warga dan masyarakat terdampak banjir. Hasil eksplorasi lapangan menunjukkan bahwa Komunitas Garda Caah dan Jaga Balaidapat membangun sistem peringatan dini sebagai upaya pencegahan dalam menghadapi bencana banjir sehingga menjadikan mereka lebih waspada lagi terhadap peringatan bencana. Komunikasi bencana perlu lebih digalakkan lagi di Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang rawan dengan bencana. Adanya komunikasi bencana dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan masyarakat akan peringatan bencana, baik itu peristiwa yang besar maupun juga peristiwa yang kecil. Komunikasi kebencanaan yang dilakukan oleh komunitas Garda Caah dan Jaga Balai sebagai contohnya. Lewat pendekatan alternatif yang memaparkan solusi, komunikasi kebencanaan mereka menjadi suatu gerakan sosial. Tidak hanya menjadi gerakan sosial, tetapi juga mewujudkan pemberdayaan masyarakat sekitar. Komunikasi bencana yang dilakukan komunitas warga dalam persepktif ekologis dan pengembangan masyarakat berpotensi untuk mewujudkan keberlanjutan sosial masyarakat.

Kejadian yang terjadi di Aceh seharusnya sudah menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia dan pemerintah, tentang pentingnya komunikasi bencana, tidak peduli dari ukuran besar/kecilnya suatu peristiwa. Masyarakat harus lebih peka dan mau mengerti terkait dengan komunikasi kebencanaan, baik itu peristiwa yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.


Elvianisza Ray Clara Tarigan

14 09 05384