HIGHLIGHT

Pemimpin kharismatik

11 September 2010 04:31:00 Dibaca :

Leadership part 1 *

Dikutip dari tulisan Ann Ruth Willner dan Dorothy Willner istilah ‘pemimpin kharismatik’ kini bermakna semakin meluas. Namun juga disertai dengan pemerosotan arti yang terkandung.

Secara historis, Max Weber mengambil istilah charisma dari perbendaharaan kata yang dipakai pada permulaan pengembangan agama Kristen guna menunjuk satu dari tiga jenis kekuasaan (authority) dengan pengklarifikasian klasik mengenai kekuasaan atas dasar suatu tuntutan yang sah.

Weber membedakan antara:


  1. Kekuasaan tradisional atas dasar suatu kepercayaan yang telah ada (estabilished) pada kesucian tradisi kuno.
  2. Kekuasaan yang rasional atau berdasarkan hukum (legal) yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang memegang kedudukan, yang berkuasa berdasarkan peraturan-peraturan untuk mengeluarkan perintah.
  3. Kekuasaan kharismatik yang didapatkan atas pengabdian diri atas kesucian, sifat kepahlawanan atau yang patut dicontoh dari ketertiban atas kekuasaannya.


Lebih lanjut menurut Weber, istilah kharismatik pada masa kini berbeda dengan ketiga hal lainnya namun tetap mempertahankn aspek loyalitas (pengabdian).

Kharismatik diyakini memiliki sesuatu yang luar biasa. Memimpin dengan cara yang tidak lazim dari sesuatu yang telah dikenal. Serta mampu mematahkan hal-hal terdahulu untuk kemudian menciptakan hal-hal baru bersifat revolusioner yang mampu tumbuh dalam keadaan serumit apapun.

Dari segi kemunculannya, kharisma yang disematkan pada seorang pemimpin lazimnya terlontar pada persepsi rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, dapat didefinisikan kembali (tanpa keluar dari maksud Weber yang hakiki) Kharismatik adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendapatkan kehormatan, ketaatan serta kehebatannya sebagai sumber dari kekuasaan tersebut dengan penekanan dalam setiap interaksinya (antara pemimpin dan pengikutnya) harus terdapat suatu integritas yang continue. Dengan kata lain, diwajibkan akan adanya kesadaran pada benak kita untuk bersatu pada satu tujuan, satu keinginan, satu cita-cita, satu harapan, dan satu perjuangan. Kemudian, barulah kita berharap akan muncul sosok pemimpin kharismatik yang dicintai, dihargai, dan dihormati.

Tentu saja, pemimpin kharismatik adalah pemimpinan nasional yang mampu menggandeng semua kelompok, golongan, etnis, suku, agama dan siapapun saja untuk mendapatkan kesetiaan.

*sengaja dibagi kedalam beberapa part, agar tidak bosan dalam membaca.
Tinjauan Pustaka:
Antlov, Hans dan Sven Cederroth. 2001. Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Burns, J.M. 1978. Leadership. New York: Harper Row.

Kartodirdjo, Sartono. 1984. Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial. Jakarta: LP3S.

Machiavelli, Niccolo. 2008. The Prince 'Sang Penguasa'. Surabaya: Selasar Surabaya Publishing.

tulisan ini juga dimuat di: http://esperanzadelucha.blogspot.com

fazlurrahman elrazie

/elrazie

fazlurrahman elrazie. kini masih sebagai seorang mahasiswa yang mencari sebuah harapan, keinginan, mimpi dan cita-citannya didalam proses perjuangannya. tentang semua hal itu, kini ia siap terus berjuang dan berperang untuk menjadikannya harapan itu sebagai sesuatu yang akan nampak dipermukaan. go fight jurnalis muda!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?